Hukum Salat Jumat di Jalanan Umum

0
105

BincangSyariah.Com – Pasca ditetapkannya Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama, atau yang kerap dipanggil Ahok, rupanya ada segolongan umat Islam masih tidak puas dan belum sepenuhnya yakin pada penegak hukum di negara kita tercinta ini. Segolongan umat ini tidak puas kalau Ahok belum dipenjara karena kasus penistaan agama yang saat ini menjeratnya. Protes yang mereka lakukan terhadap penegak hukum berupa aksi Bela Islam III yang rencananya akan diselenggarakan pada Jumat (2/12).

Kabarnya, Aksi Bela Islam jilid III ini akan diisi dengan kegiatan salat Jumat kubra dan istigasah. Hal ini dilaksanakan di sepanjang Semanggi hingga Istana Presiden. Tentu hal itu baik-baik saja selagi diniatkan untuk mendoakan negeri ini agar tidak mudah dipecah belah oleh kepentingan apa pun. Namun jika hal itu dilaksanakan hanya karena menuntut Ahok untuk dipenjara, tentu sayang-sayang ibadah yang dilakukannya.

Apalagi salat Jumat dan istigastah yang akan dilakukan itu di jalanan umum. Memang pada dasarnya sah saja melakukan salat di manapun. Namun jika hal itu membuat orang lain terganggu, bukan kah lebih baik salat dan istigasah di Monas saja misalnya? Sekalian berorasi juga tidak ada salahnya. Saya ingat sabda Nabi Saw. mengenai larangan salat di beberapa tempat, seperti salat dekat tempat sampah, kuburan, jalanan umum dan lain sebagainya, sebagaimana Hadis yang diriwayatkan Ibnu Umar yang mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

سبع مواطن لا تجوز فيها الصلاة: ظهر بيت الله، والمقبرة، والمزبلة، والمجزرة، والحمام، وعطن الإبل، ومحجة الطريق

Tujuh tempat yang tidak boleh dilakukan salat di tempat tersebut adalah atap Baitullah, kuburan, tempat sampah, tempat penyembelihan hewan, kamar mandi, tempat ternak unta, dan jalanan umum” (HR Tirmidzi).

Hadis ini memang dianggap daif oleh mayoritas ulama, karena di antara perawi hadis di atas terdapat nama Zaid bin Jabirah yang dianggap matrukul hadits oleh Imam Ibnu Hajar. Karenanya, ulama berbeda pendapat mengenai hukum salat di jalanan umum. Mayoritas ulama Hanafiyyah, Malikiyah, dan Syafiiyah menganggap salat di jalanan umum itu hanya makruh. Sementara itu, mazhab Hanabilah berpandangan bahwa salat di jalanan umum yang sering dilalui orang atau pun tidak itu tidak sah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.