Hukum Puasa Sunah Tasu’a

0
2945

BincangSyariah.Com – Puasa Tasu’a adalah puasa yang dilakukan pada hari kesembilan bulan Muharam. Hal ini senada dengan kata tasu’a yang bermakna “sembilan” dalam bahasa Arab. Puasa Tasu’a ini merupakan puasa sunnah, walaupun Rasulullah belum pernah melakukannya. Hal ini dikarenakan hadits qauliyah Rasulullah mengazamkannya.

Puasa ini dianjurkan guna mengiringi puasa Asyura yang dilakukan pada tanggal 10 bulan Muharam, bertujuan agar tidak menyamai dengan puasa yang dilakukan oleh kaum Yahudi. Kaum Yahudi hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja di bulan Muharam. Dalam sebuah hadits menyebutkan:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan orang agar berpuasa padanya, mereka berkata, “Ya Rasulullah, ia adalah suatu hari yang dibesarkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika datang tahun depan, insya Allah kita berpuasa juga pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas berkata, “Maka belum lagi datang tahun berikutnya itu, Rasulullah saw. pun wafat.”(H.R. Muslim dan Abu Dawud)

Dari keterangan tersebut jelas bahwa puasa Tasu’a berawal ketika Rasulullah menjalankan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Lantas para sahabat menyampaikan bahwa kaum Yahudi juga mengagungkan 10 Muharam dengan berpuasa pada hari tersebut. Lantas Rasulullah bersabda bahwa beliau akan menjalankan puasa Tasu’a (puasa pada tanggal 9 Muharram) pada tahun berikutnya.

Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan. Rasulullah sudah bersabda akan berpuasa di hari 9 bualan Muharam tahun depan, namun Rasulullah sudah wafat terlebih dahulu sebelum berjumpa dengan bulan Muharam. Jadi, meskipun secara hadits fi’liyah Rasulullah belum pernah mengerjakannya, puasa ini hukumnya sunnah karena secara qauliyah Rasulullah mengazamkannya. Maka para sahabat pun mengerjakan puasa Tasu’a sepeninggal Rasulullah, lalu diteruskan para Tabi’in dan generasi sesudahnya sampai pada hari ini.

Baca Juga :  Mengapa Muharam Ditetapkan Sebagai Bulan Pertama Tahun Hijriah?

Sebagian ulama menyebut ibadah semacam ini dengan istilah sunah hammiyah (sunah yang baru dicita-citakan, namun belum terealisasikan sampai beliau meninggal). Rasulullah yang berkeinginan untuk berpuasa di hari kesembilan bulan Muharam, namun belum terealisasi karena wafat terlebih dahulu sebelum bulan Muharam lagi.

Tujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Tasu’a adalah untuk menunjukkan sikap yang berbeda dengan orang Yahudi. Karena beliau sangat antusias untuk memboikot semua perilaku mereka. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here