Hukum Puasa Sunah dengan Tujuan Diet

1
313

BincangSyariah.Com – Terdapat sebagian orang yang melakukan puasa sunah dengan tujuan ganda, yaitu bertujuan untuk puasa sekaligus untuk diet. Dia mengurangi porsi makan karena ingin memiliki tubuh yang tidak gemuk sehingga kadang dalam sehari hanya makan sekali. Karena sehari-hari makan hanya sedikit, akhirnya dia melakukan puasa sunah dengan tujuan diet. Bagaimana hukum puasa sunah dengan tujuan diet ini, apakah sah?

Melakukan puasa sunah dengan tujuan diet termasuk perbuatan ibadah yang bercampur dengan tujuan dunia. Imam Assuyuthi dalam kitab Alasybah wan Nadzair mengatakan bahwa ada dua pendapat ulama terkait puasa sunah dengan tujuan dunia seperti diet ini. Sebagian ulama mengatakan tidak sah, namun kebanyakan ulama mengatakan sah. Pendapat yang paling sahih adalah pendapat kedua dan diikuti oleh kebanyakan ulama.

Imam Assuyuthi berkata;

ومنها: ما لو نوى الصوم، أو الحمية أو التداوي، وفيه الخلاف المذكور

“Bagian dari menggabungkan niat adalah jika niat berpuasa, niat diet atau berobat. Dalam masalah ini terjadi perbedaan ulama sebagaimana telah disebutkan.”

Meski kebanyakan ulama mengatakan sah, namun jika yang lebih dominan adalah tujuan diet, maka puasanya tidak mendapatkan pahala. Sebaliknya, jika yang lebih dominan adalah tujuan akhirat atau niat berpuasa, maka akan mendapatkan pahala sesuai dengan kadar niatnya. Jika niat puasa dan tujuan dietnya sama-sama kuat, maka keduanya saling menggugurkan.

Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Imam Assuyuthi berikut;

فإن كان القصد الدنيوي هو الأغلب لم يكن فيه أجر، وإن كان الديني أغلب كان له الأجر بقدره، وإن تساويا تساقطا

“Jika tujuan duniawi lebih dominan, maka ibadahnya tidak mendapatkan pahala. Jika tujuan agamanya (ibadahnya) lebih dominan, maka akan mendapatkan pahala sesuai kadar niatnya. Jika sama-sama kuat, maka keduanya saling menggugurkan.”

Baca Juga :  Tata-cara Niat Puasa Ramadan

Pendapat Imam Assuyuthi ini senada dengan pendapat Imam Alghazali. Menurut beliau, setiap ibadah yang ada gabungan niat antara tujuan ibadah dan duniawi, jika lebih dominan tujuan ibadahnya akan mendapatkan pahala. Sebaliknya, jika lebih dominan tujuan duniawinya, maka tidak akan mendapatkan pahala. Sementara menurut Ibnu Abdissalam, tidak mendapatkan pahala meskipun niat ibadahnya lebih dominan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here