Hukum Pergi Haji di Luar Bulan Zulhijjah

0
217

BincangSyariah.Com – Tradisi haji tidak mungkin bisa dilepaskan dari umat Islam. Selain merupakan salah satu rukun Islam, ia juga merupakan simbol yang khas dari agama Islam yang tidak ditemukan padanannya di agama lain. Tidak heran semuanya berbondong-bondong berebut untuk menunaikannya bahkan untuk yang kesekian kali. Hal ini tentu menimbulkan efek samping hukum fikih padanya.

Jutaan orang dari seluruh penjuru dunia pada bulan haji tumpah ruah di satu titik, kota Mekkah. Dilansir dari Liputan6.com (26/8/2018) bahwa total jamaah haji yang datang dari seluruh dunia pada tahun 2018 adalah 2.371.675 orang. Jumlah sekian ini tentu belum sesuai dan memenuhi permintaan yang ada. Terbukti jamaah haji Indonesia harus rela mengantre puluhan tahun hanya untuk mendapatkan satu kursi melaksanakan ibadah ini.

Selain itu, karena pelaksanaannya diikuti oleh jutaan orang, ibadah ini terkadang menimbulkan beberapa kekhawatiran bahkan beberapa kali terjadi kasus jamaah haji yang kehilangan nyawa saat prosesi ibadah haji.

Menanggapi fenomena ini, ada salah satu tokoh Islam melontarkan ide ekstrem dengan melaksanakan ibadah haji di selain bulan Zulhijjah. Ia berdasar ada ayat Alquran:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“Haji (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang diketahui.” (Al-Baqarah: 197)

Redaksi ayat yang mengatakan asyhur atau bulan-bulan, olehnya dipahami bahwa haji itu tidak harus dilakukan pada bulan tertentu namun terdapat kelenturan dalam waktu pelaksanaannya.

Namun, apakah benar demikian? Mari kita simak beberapa pendapat ulama mengenainya.

Dalam bukunya yang berjudul Ahkam al-Quran (jus 1 halaman 119), Imam Al-Jashshash (w 981 H) mengatakan bahwa kewajiban haji di dalam Alquran itu masih umum maka harus ada penjelas. Dan penjelas itu tidak lain dan tidak bukan berasal dari Nabi. Berikut kutipannya:

Baca Juga :  Zikir Sunah Dilakukan Setelah Salat Fardu atau Setelah Salat Rawatib?

أن فرض الحج مجمل في كتاب الله لأن الحج في اللغة القصد قال الشاعر يحج مأمومة في قعرها لجف يعني أنه يقصد ثم نقل في الشرع إلى معان أخر لم يكن أعطى موضوعا لها في اللغة وهو مجمل مفتقر إلى البيان فمهما ورد من فعل النبي e فهو بيان للمراد بالجملة

“Kewajiban haji itu masih umum di dalam kitab Alquran. Sebab haji itu secara bahasa bermakna tujuan. Kemudian ia dipindah dalam syariat ke makna yang lain yang bukan makna bahasa. Maka ia masih mujmal (umum) dan perlu penjelas. Manakala ada keterangan bahwa Nabi melaksanakannya, maka itulah penjelas tersebut.”

Disimpulkan di sini bahwa pelaksanaan ibadah haji harus sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi. Beliau pernah bersabda:

خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah (contoh) dariku ibadah (haji) kalian.”

Kemudian mengenai waktu pelaksanaannya, dalam menyikapi Al-Baqarah ayat 197 ulama sepakat bahwa yang dimaksud beberapa bulan itu ialah awal permulaan haji. Dalam arti haji boleh dimulai semenjak bulan Syawal. Imam Abu Ishaq Al-Syairazi (w 476 H) mengatakannya dalam Al-Muhadzdzab (halaman 358):

والمراد به وقت إحرام الحج لأن الحج لا يحتاج إلى أشهر فدل على أنه أراد به وقت الإحرام  وأشهر الحج : شوال وذو القعدة وعشر ليال من ذي الحجة

“Yang dikehendaki dengannya (Al-Baqarah ayat 197) ialah waktu melakukan ihram haji. Sebab haji itu tidak butuh berbulan-bulan, maka hal itu menunjukkan yang dikehendaki dari ayat itu adalah waktu melakukan ihram haji. Dan yang dimaksud dengan bulan-bulan haji ialah Syawal, Zulqadah, dan sepuluh malam dari bulan Zulhijjah.”

Maka jelas bahwa Al-Baqarah ayat 197 sama sekali tidak mengatakan haji boleh dilakukan di sembarang bulan. Namun hanya mengatakan bahwa orang boleh melakukan ihram untuk haji di dalam beberapa bulan yakni Syawal, Zulqadah, atau Zulhijjah. Namun tetap, puncak ritual haji adalah pada tanggal 9 Zulhijjah atau yang dikenal dengan wukuf di padang Arafah. Seperti halnya sabda Nabi:

Baca Juga :  Memahami Fardhu-Fardhu Wudhu

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji adalah (wukuf di) Arafah.”

Pada kesimpulannya haji harus dikerjakan pada bulan-bulan yang telah ditentukan, dengan berdasar pendapat para ulama yang sudah pasti bersumber dari Alquran dan Hadis. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here