Hukum Orangtua Larang Anaknya Mondok

1
2162

BincangSyariah.Com – Pondok pesantren termasuk lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Jauh sebelum didirikan sekolah dan kampus umum, ulama Nusantara sudah mendirikannya  sebagai tempat belajar pribumi,  meskipun bentuknya tidak seformal sekarang.

Sistem pengajaran di pesantren tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, namun juga perhatian terhadap akhlak peserta didik (santri). Itulah yang membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya. Belajar di pesantren tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kemandirian adalah tantangan utamanya. Terutama bagi anak lulusan SD, berpisah jauh dari kedua orangtua sangatlah memberatkan.

Demikian pula dengan kedua orangtua, menghabiskan hari tanpa anak kesayangan adalah menyedihkan. Makanya tak jarang orangtua yang menahan keinginan anaknya untuk mondok, walaupun anaknya bersikeras ingin belajar di pesantren.

Sepantasnya bagi orangtua tidak menahan keinginan anaknya belajar di pesantren, sebab itu adalah pekerjaan mulia. Namun andaikan kedua orangtua atau salah satunya melarang anaknya nyantri, apakah diperkenankan bagi seorang anak kabur dan memaksakan keinginannya untuk mengaji di pesantren?

Terkait persoalan ini,  Ahmad al-Dasuki al-Maliki dalam Hasyiyah Dasuki ‘ala Syarah Kabir  menjelaskan:

أن كل فرض كفاية للوالدين أو أحدهما المنع منه إذا كان السفر لتحصيله في البحر أو البر الخطر لا إن كان في بر آمن قال الشارح يستثنى من ذلك الجهاد فإن لها منع الولد منه مطلقا، ولو كان السفر له في بر آمن ويستثنى أيضا طلب العلم الكفائي إذا خلا محلهما عمن يفيده فليس لهما منعه من السفر له مطلقا كان في بحر أو بر خطر أو آمن، وأما إذا كان في البلد من يفيده فلهما المنع من السفر له مطلقا

“Apabila kedua orangtua/salah satunya khawatir di perjalanan ada bahaya, maka diperbolehkan melarang anak yang ingin pergi mengerjakan urusan yang dihukumi fardhu kifayah. Akan tetapi, dia tidak boleh melarangnya jika perjalanannya aman. Pensyarah berkata, orangtua berhak melarang anaknya untuk berjihad walaupun aman perjalanannya.

Begitu pula dalam soal menuntut ilmu-ilmu fardhu kifayah, jika di wilayahnya terdapat orang yang ahli dalam bidang ilmu tersebut, maka kedua orangtua boleh melarang keinginan anaknya, namun bila tidak ada, kedua orang dilarang membendung hasrat anaknya, baik perjalanan menuntut ilmu itu aman atau tidak.”

Saat keluar rumah, seorang anak mesti mendapatkan restu dari kedua orangtuanya. Termasuk untuk urusan menuntut ilmu ataupun aktivitas lainnya. Begitu pula kedua orangtua, mereka mesti terus mendukung aktivitas positif yang dikerjakan anaknya.

Apalagi aktivitas yang berkaitan dengan kelangsungan agama dan bangsa. Saling mengerti di antara keduanya ini (anak dan orangtua) tentu akan membuahkan hasil yang lebih baik.

Dilihat dari sisi hukumnya, orangtua memang diperbolehkan menahan keinginan anaknya untuk nyantri ke daerah lain,  kalau di daerahnya masih ada orang yang menguasai ilmu agama, semisal tafsir, hadis, fikih, dan lain-lain. Bisa saja ia tidak mondok, tapi belajar langsung kepada kiai dan ustadz yang ada di daerahnya.

Hal ini seperti yang dilakukan “santri kalong”. Namun jika tidak ada yang menguasainya, orangtua dilarang mencegah anak yang ingin nyantri di pesantren, sekalipun lokasinya jauh dari rumah. Wallahu a’lam

100%

1 KOMENTAR

  1. Bismillah,lalu bagaimana jika orang tua menahan anaknya dari mondok karena dia hanya ingin memberikan pendidikan di sekolah umum pada anaknya, sedangkan sekolah umum tersebut sama halnya seperti pesantren dalam hal jarak (sama-sama jauh),sang anak sangat menginginkan mondok di pesantren namun orang tua tidak mengizinkan demi merealisasikan keinginan dunia nya (pencapaian dunia sang anak), apa hukum orang tua yang semacam itu,semoga dijawab. Jazaakumullahu khayran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here