Hukum Orang yang Berbuka pada Siang Hari Ramadhan

0
536

BincangSyariah.Com – Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa hukum-hukum yang berkaitan dengan berbuka di siang hari Ramadhan ada empat: Qadha, kafarat, fidyah, dan imsak pada sisa hari puasa. Masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Qadha.

Qadha adalah mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan dengan puasa di hari-hari lain. Hal ini berlaku atas setiap Muslim yang dewasa dan berakal, yang meninggalkan puasa Ramadhan dengan atau tanpa alasan yang dibenarkan dalam agama.

Berdasarkan itu, seorang wanita yang sedang haid harus mengqadha hari-hari puasa yang ditinggalkannya ketika hari-hari haidnya. Demikian pula orang murtad, harus mengqadha puasanya apabila dia telah kembali memeluk agama Islam. Adapun orang kafir, anak-anak dan orang gila, tidak diwajibkan qadha atas mereka.

2. Kafarat (denda)

Kafarat, wajib atas orang yang membatalkan puasanya dengan sanggama. Adapun selain karena senggama seperti membatalkannya dengan istimna‘ (onani), makan, dan minum maka tidak ada kafarat atas semua ini yang wajib, hanya qadha.

Kafarat ialah denda yang wajib ditunaikan sebab suatu dosa yang dilakukan dengan tujuan untuk menutup dosa tersebut baik di dunia dan akhirat. Pada zaman Nabi, kafarat biasanya dilakukan dengan memerdekakan seorang budak, hal itu tidak mungkin saat ini karena sistem perbudakan telah dihapuskan.

Biasanya sekarang, kafarat dilakukan dengan mengerjakan puasa dua bulan berturut-turut selain Ramadhan. Dan apabila yang demikian itu tidak mampu dilakukan, dia harus memberi makan enampuluh orang miskin, masing-masing satu mud atau 2/3 kilogram.

3. Imsak.

Yakni tetap wajib meninggalkan makan, minum, dan sebagainya pada sisa hari yang dibatalkan puasanya. Hal ini, hanya wajib atas orang yang membatalkan puasanya dengan sebab yang haram, atau karena kelalaian yang disengaja. Maka, tidak wajib imsak atas seorang wanita yang berhenti haidnya pada siang hari puasa.

Baca Juga :  Bayi Menangis, Bolehkah Membatalkan Salat?

Juga, tidak wajib atas musafir yang pulang dari kepergiannya sebelum waktu maghrib. Tetap berpuasa pada waktu bepergian jauh, lebih afdal daripada tidak berpuasa, kecuali bagi musafir yang merasa sangat berat melakukannya. Dan apabila pagi harinya dia telah berpuasa, lalu dia memulai kepergiannya setelah itu, hendaknya dia tidak menghentikan puasanya. Demikian pula, apabila dia pulang dari kepergiannya dalam keadaan puasa.

4. Fidyah (tebusan).

Fidyah wajib atas wanita hamil atau yang sedang menyusui apabila meninggalkan puasa, karena takut akan terganggunya kesehatan bayinya. Selain fidyah, dia harus mengqadha puasanya itu. Adapun jumlah fidyah ialah satu mud, diberikan kepada seorang miskin, untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.

Demikian pula seorang yang telah lanjut usia, sehingga puasa terasa sangat memberatkan baginya, dia dibolehkan tidak berpuasa, dan sebagai gantinya, hendaknya dia membayar fidyah tanpa qadha.

Adapun wanita hamil atau menyusui jika meninggalkan puasa karena khawatir dengan kesehatan dirinya, maka ia hanya wajib qadha tanpa fidyah.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here