Hukum Menyalatkan Jenazah yang tidak Pernah Shalat

0
53

BincangSyariah.Com – Kewajiban bagi sesama muslim apabila ada saudaranya yang meninggal dunia ialah melakukan pemulasaraan terhadap jenazah. Pemulasaraan di sini meliputi memandikan, mengafani, menyalatkan dan menguburkan. Tidak akan timbul masalah jika jenazah merupakan seorang muslim yang taat. Persoalan akan muncul apabila ternyata selama masa hidupnya, jenazah merupakan seorang muslim yang tidak taat. Salah satu indikasinya ialah dia tidak pernah terlihat melaksanakan shalat. Tetap wajibkah melakukan pemulasaraan terhadap jenazah yang tidak pernah shalat?

Untuk menjawab persoalan hukum menyalati jenazah muslim yang tidak pernah shalat, ulama memberikan jawaban bahwa jenazah tersebut tetap dishalati atau diperlakukan sebagaimana mayat muslim lainnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Fathul Qarib:

)والثانى أَنْ يَتْرُكَهَا كَسْلاً) حَتَّى يَخْرُجَ وَقْتُهَا حَالَ كَونِهِ (مُعْتَقِدًا لِوُجُوبِهَا فَيُسْتَتَابُ فَإِنْ تَابَ وَصَلَّى) وَهُوَ تَفْسِيْرٌ لِلتَّوبَةِ (وإِلاَّ) وَإِنْ لَمْ يَتُبْ (قُتِلَ حَدًّا) لاَكُفْرًا (وَكَانَ حُكْمُ المُسْلِمِيْنَ) فِى الدَّفْنِ فِى مَقَابِرِهِمْ وَلاَ يُكْمَسُ قَبْرُهُ وَلَهُ حُكْمُ المُسْلِمِيْنَ أَيْضًا فِى الغُسْلِ وَالتَّكْفِيْنِ وَالصَّلاَةِ عَلَيْهِ.

Artinya:

Kedua, ialah ia meninggalkan shalat karena malas sehingga waktunya habis selama ia beritikad akan kewajiban shalat atasnya. Maka ia diminta untuk taubat. Kemudian jika ia bertaubat, dan shalat-dan ini adalah penjabaran taubat-(maka ia tidak dibunuh. pent) tetapi bila ia tidak taubat, maka ia harus dibunuh sebagai hukuman, bukan karena kekafiran. Status hukumnya adalah status hukum muslimin dalam hal dimakamkan di pemakaman muslim serta makamnya tidak diratakan. Bagi orang tersebut juga berlaku hukum kaum muslimin dalam hal dimandikan, dikafani dan dishalati.

Penjelasan dalam kitab Fathul Qarib di atas menegaskan bahwa jenazah muslim yang tidak pernah shalat itu tetap dihukumi sebagai seorang muslim selama dia tetap mempertahankan keislamannya secara akidah.

Pernyataan dalam kitab Fathul Qarib diatas juga senada dengan pernyataan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 92, yakni:

)مسئلة ب) وَيَجِبُ تَجْهِيْزُ كُلِّ مُسْلِمٍ مَحْكُوْمٍ بِإِسْلاَمِهِ وَاِنْ فَحِشَتْ ذُنُوْبُهُ وَكَانَ تَارِكًا لِلصَّلاَةِ وَغَيْرِهَا مِنْ غَيْرِ جُحُوْدٍ وَيَأْ ثَمُ كُلُّ مَنْ عَلِمَ بِهِ لَوْقَصَّرَ فىِ ذَالِكَ لأَِنَّ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله وِقَايَةٌ لَهُ مِنَ الْخُلُوْدِ فىِ النَّارِ هَذاَ مِنْ حَيْثُ الظَّاهِرِ وَاَمَّا بَاطِنًا فَمَحَلُّ ذَالِكَ حَيْثُ حَسُنَتِ الْخَاتِمَةُ بِالْمَوْتِ عَلَى الْيَقِيْنِ وَالثَّابَتِ عَلَى الدِّيْنِ فَاْلأَعْمَالُ عُنْوَانٌ

Artinya:

(Masalah Ba’) Wajib mengurus mayat setiap muslim yang telah ditetapkan keislamannya meskipun sangat keji dosa-dosa yang telah dilakukan dan dia meninggalkan shalat dan lainnya tanpa menentang kewajiban. Setiap orang yang mengetahuinya adalah berdosa atau bersikap teledor atau masa bodoh terhadap hal tersebut. Karena kalimah tauhid adalah penjagaan baginya dari kekal dalam neraka. Ini adalah dari segi lahir. Adapun dalam segi batin maka tempatnya adalah sekira dia memperoleh husnul khatimah dalam kematiannya secara yakin dan tetap dalam agama. Adapun amal-amal ibadah adalah tanda-tanda dari keyakinan tersebut.

Mempertimbangkan pada jawaban sebagaimana disebutkan di dua kitab di atas, maka bagi kaum muslimin yang hendak menyalati jenazah, kita tidak usah ragu untuk menyalati jenazah siapapun selama status akidahnya masih dianggap islam, meskipun ia telah melakukan hal-hal yang merupakan dosa besar selain dosa musyrik (keluar dari islam).

Meskipun demikian, ketentuan ini jangan sampai dijadikan sebagai alibi bagi kaum muslim yang masih hidup. Artinya, jangan mentang-mentang ia tahu bahwa ia tetap akan dishalati meskipun ia melakukan dosa besar, lantas selama hidup ia bertindak sembrono, meninggalkan kewajiban shalat dan melakukan dosa-dosa besar.

Alasannya adalah karena dishalati ketika meninggal bukanlah jaminan bahwa ia akan terbebas dari api neraka. Allah dengan tegas mengingatkan kepada kaum muslimin di dalam Alquran, bahwa kaum muslim yang meninggalkan syariat islam dalam bentuk meninggalkan perintah dan melakukan larangan, akan mendapatkan siksaan yang pedih kelak di akhirat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here