Hukum Menyalati Jenazah yang Belum Dimandikan

0
20

BincangSyariah.Com – Menyalati jenazah merupakan satu dari empat rangkaian pemulasaraan terhadap jenazah yang mesti dilakukan oleh kaum muslimin saat ada saudaranya sesama muslim meninggal dunia. Keempat rangkaian dimaksud ialah memandikan, mengafani, mennyalati dan menguburkan. Secara umum, tajhiz jenazah ini hukumnya ialah fardhu kifayah. Artinya, apabila tidak dilaksanakan, maka akan menjadi dosa bagi seluruh kaum muslim, dan pengerjaannya cukup dilakukan oleh satu atau sebagian dari seluruh kaum muslimin.

Penjelasan terkait hal diatas bisa kita temukan dalam kitab Fathul Qarib, hal: 122:

{فصل} فيما يتعلق بالميت من غسله وتكفينه والصلاة عليه ودفنه. (ويلزم) على طريق فرض الكفاية (في الميت) المسلم غير المُحرِم والشهيد (أربعة أشياء: غسله، وتكفينه، والصلاة عليه، ودفنه). وإن لم يعلم بالميت إلا واحد تعيَّن عليه ما ذكر.

Artinya: “Pasal tentang kewajiban-kewajiban terkait mayit, yakni memandikan, mengkafani, menshalati, dan menguburkan.ada empat hal yang wajib dilakukan secara fardhu kifayah terkait mayit selain mayit orang yang sedang ihram dan mati syahid, yakni: memandikan, mengkafani, menshalati dan menguburkan. Apabila terdapat jenazah yang hanya ditemukan oleh satu orang, maka status fardlu kifayah berubah menjadi fardlu ‘ain baginya”.

Memandikan jenazah dan mengafaninya merupakan dua hal yang terkait erat dengan prosesi menyalati jenazah. Sebagaimana kita ketahui, bahwa bagi orang yang masih hidup, ketika ia akan melaksanakan salat, maka wajib baginya untuk bersuci dan menutup aurat, mengingat kedua hal tersebut merupakan syarat sah shalat.

Maka demikian pula ketika ia sudah meninggal dunia dan hendak dishalati, maka terlebih dahulu ia wajib disucikan dan ditutupi auratnya dalam bentuk dikafani. Menyucikannya ini ialah dengan memandikan menggunakan air atau ditayamumi dalam kondisi tertentu seperti ketiadaan air atau kondisi mayit yang sudah membusuk.

Dari pemahaman semacam ini, maka bisa kita simpulkan bahwa menyalati jenazah yang belum dimandikan itu tidak boleh. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam asy-Syarbini dalam kitab al-Iqna fi Hilli Alfaadzi Abi Syuja’:

 والثالث: الصلاة عليه،… وشرط لصحتها شروط غيرها من الصلوات وتقدم طهر الميت؛ لأنه المنقول عن النبي صلى الله عليه وسلم

Artinya: “Ketiga: menyalatinya (jenazah)… disyaratkan bagi keabsahan shalat jenazah, yakni syarat-syarat yang juga berlaku pada selain shalat jenazah, termasuk mendahulukan mensucikan mayit, karena hal ini merupakan sesuatu yang dilaksanakan sebagaimana telah diajarkan (manqul) dari Nabi SAW.

Tentu saja ketentuan semacam ini berlaku dalam kondisi normal. Berbeda lagi hukumnya apabila jenazahnya berada dalam kondisi yang tidak normal seperti meninggal saat ihram, meninggal dalam peperangan (syahid), meninggal dalam kondisi bencana, pandemi, dan lain sebagainya. Dalam kondisi-kondisi khusus semacam itu, perlakuan terhadap mayit bisa berubah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here