Hukum Menyalati Jenazah yang Belum Dikafani

0
8

BincangSyariah.Com – Mengafani mayit merupakan satu dari keempat rangkaian pemulasaraan jenazah yang mesti kita lakukan selain memandikan, menyalati dan menguburkan. Status mengafani mayit, sebagaimana memandikannya, ini bisa kita kategorikan sebagai upaya mendapatkan keabsahan menyalati jenazah. Artinya, menyalati jenazah yang belum dikafani itu tidak sah. Jadi, jenazah tersebut ketika dikuburkan sudah dalam keadaan dishalati. Ketentuan semacam ini berlaku pada kondisi normal, yakni bukan jenazah syahid atau tidak dalam kondisi darurat.

Untuk memahami bahwa mengafani mayit merupakan permulaan bagi shalat jenazah, kita bisa mencontohkannya dengan shalat fardhu biasa yang dilakukan oleh orang yang masih hidup. Kita wajib menutupi aurat kita ketika kita akan melaksanakan shalat. Maka demikian pula mayit, ia wajib ditutupi badannya dengan kain kafan sebelum ia dishalati. Maka sangat wajar jika ulama mensyaratkan minimal kain kafan ialah menutupi aurat sebagaimana yang dilakukan oleh orang hidup ketika akan melaksanakan shalat.

Hal ini bisa kita simak penjelasannya dalam kitab Al-Muhadzdzab, Juz I, hal. 242:

فصل: وأقل ما يجزيء ما يستر العورة كالحي ومن أصحابنا من قال أقله ثوب يعم البدن لأن ما دونه لا يسمى كفناً والأول أصح…  والمستحب أن يكفن الرجل في ثلاثة أثواب إزار ولفافتين … وأما المرأة فإنها يكفن بخمسة أثواب: إزار وخمار وثلاثة أثواب

Artinya: “Pasal. Paling sedikitnya kafan ialah pakaian yang menutupi aurat sebagaimana orang yang masih hidup. Namun sebagian dari ashab (pengikut Imam Syafi’i) menyatakan bahwa paling sedikitnya kafan ialah pakaian yang menutupi badan, karena kurang dari itu tidak bisa dikatakan sebagai kafan. Pendapat yang awal lebih sahih … disunnahkan mengkafani lelaki dengan 3 baju, yakni sarung dan dua lapis kain … adapun perempuan disunnahkan dikafani dengan lima baju, yakni: sarung, kerudung, dan 3 lapis baju”.

Dengan penjelasan di atas bisa kita pahami bahwa menyalati jenazah yang belum dikafani itu tidak sah. Dengan kata lain, mengafani atau minimal menutupi aurat mayit merupakan sebuah keharusan sebelum shalat jenazah dilaksanakan.

Bahkan dalam bab shalat kita bisa ketahui bahwa ketika tidak ada pakaian yang kita temui untuk menutupi aurat, maka kita bisa menggunakan dedaunan dan lainnya untuk menutupi aurat, dan apabila dedaunan pun tidak kita temukan, kita disarankan untuk melumuri tubuh kita dengan lumpur.

Artinya, kewajiban menutupi aurat sebagai syarat sah shalat tetap berlaku hingga kondisi paling darurat sekalipun.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here