Hukum Menumpang Buang Hajat di Toilet Masjid ?

0
652

BincangSyariah.Com – Ketika dalam suatu perjalanan, barangkali kita pernah mampir atau beristirahat sejenak di Masjid, menggunakan fasilitas yang ada di dalamnya seperti kamar mandi dan lain sebagainya. Hal ini adalah perkara yang lumrah dan sudah maklum di masyarakat. Namun, yang menjadi peroalan adalah ketika kita menggunakan fasilitas masjid tanpa beribadah di masjid tersebut.

Atau, bagaimana hukum menumpang buang hajat di toilet masjid ?

Pada dasarnya, segala fasilitas yang ada di masjid (dikhususkan di masjid), termasuk airnya adalah milik masjid. Sehingga, hal itu diperbolehkan menggunakannya bagi orang yang beribadah di masjid tersebut.

Akan tetapi, untuk menjawab persoalan orang yang menumpang fasilitas masjid, toilet masjid misalnya, menurut Syekh Syarwani dalam kitabnya yang berjudul Hawasyi Syarwani (j. 1 h. 231) menghukumi ketidakbolehan pekerjaan tersebut. Syekh Syarwani menulis dengan demikian,

وكذا يؤخذ من ذلك حرمة ما جرت به العادة من أن كثيرا من الناس يدخلون فمحل الطهارة لتفريغ أنفسهم ثم يغسلون وجوههم وأيديهم من ماء الفساقي المعدة للوضوء لازالة الغبار ونحوه بلا وضوء ولا إرادة صلاة

begitu pula keharaman sesuatu yang telah berlaku adalah kebiasaan banyak orang yang masuk ke dalam tempat bersuci hanya untuk kebutuhan pribadi mereka, lalu mereka membasuh muka dan tangan dengan air yang dipersiapkan untuk wudhu’ untuk menghilangkan debu dan sejenisnya, tanpa (diteruskan dengan) berwudhu atau berkeinginan untuk shalat (di tempat tersebut). 

Sampai di sini, Syekh Syarwani telah menjelaskan dalam kitabnya tersebut bahwa ketika ada orang yang memasuki tempat bersesuci (toilet masjid misalnya) untuk menyelesaikan urursan hajat mereka, lalu orang tersebut membasuh wajah dan tangan akan tetapi tidak wudhu’ dan tidak ada kehendak untuk melaksanakan sholat. sehingga, Syekh Syarwani menghukumi haram pada pekerjaan menumpang toilet masjid.

Baca Juga :  Empat Macam Niat Mandi Wajib dari Junub, Haid dan Nifas

Akan tetapi, apabila sumber ait tersebut memang diwakafkan  untuk kemaslahatan umum atau penggunaan semacam itu sudah mentradisi tanpa ada yang mengingkari, maka hukumnya boleh. Hal ini didasarkan pada pendapat Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam kitab Fath al-Mu’in (h. 88) sebagaimana berikut,

وسئل – العلامة الطنبداوي عن الجوابي والجرار التي عند المساجد فيها الماء إذا لم يعلم أنها موقوفة للشرب، أو الوضوء أو الغسل الواجب، أو المسنون، أو غسل النجاسة ؟ (فأجاب) إنه إذا دلت قرينة على أن الماء موضوع لتعميم الانتفاع: جاز جميع ما ذكر من الشرب وغسل النجاسة وغسل الجنابة وغيرها.

ومثال القرينة: جريان الناس على تعميم لانتفاع من غير نكير من فقيه وغيره، إذا الظاهر من عدم النكير: أنهم أقدموا على تعميم الانتفاع بالماء بغسل وشرب ووضوء وغسل نجاسة.

Al-‘Allamah Ath-Thobandhowi tentang wadah yang terdapat air di masjid apabila tidak diketahui apakah wadah tersebut diwakafkan (diperuntukkan) untuk di minum, wudhu’, mandi besar, mandi sunah atau mandi janabah dan selainnya? kemudian dijawab apabila terdapat qorinah (tanda) yang menunjukkan bahwasanya air diletakkan memang untuk diambil kemanfaatannya, maka boleh menggunakan air tersebut baik berupa minum, membasuh najis, mandi janabah dan lain lain.

Contoh dari tanda misalnya, telah biasanya orang-orang untuk mengambil manfaat secara luas air tersebut tanpa ada pengingkaran dari seorang faqih (ulama setempat) atau yang lainnya. Karena bentuk kejelasan dari “tanpa ada pengingkaran” tersebut adalah mereka datang untuk mengambil manfaat secara luas air tersebut dengan menggunakannya untuk mandi, minum, wudhu’ dan membasuh najis.

Dari keterangan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwasanya hukum menumpang toilet masjid itu pada dasarnya tidak boleh. Akan tetapi, air tersebut sudah diwakafkan dan sudah menjadi adat atau kebiasaan manusia melakukan seperti itu, ditambah tidak ada pengingkaran dari kalangan orang faqih (ahli ilmu agama), maka hukumnya diperbolehkan.

Baca Juga :  Zikir Sunah Dilakukan Setelah Salat Fardu atau Setelah Salat Sunah Rawatib?

Meskipun demikian, kita tetap dianjurkan untuk berwudhu’ atau beribadah di masjid tersebut, atau bisa juga dengan memasukkan sejumlah yang setara dengan penggunaan toilet umum ke dalam kotak infak sebagai kehati-hatian saja. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here