Hukum Menjawab Azan di Kamar Mandi atau Toilet

1
70

Bincang Syariah.Com – Sudah kita ketahui bersama bahwa menjawab azan hukumnya sunah bagi orang yang mendengarkannya. Tapi bagaimana hukumnya menjawab azan di kamar mandi atau toilet?

Menjawab azan bagi orang yang sedang berada di kamar mandi atau toilet, misalnya dalam keadaan sedang buang hajat hukumnya makruh. Namun, ia tetap dianjurkan menjawabnya manakala sudah selesai dari aktifitas tersebut. Hal ini dikatakan oleh Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitabnya Fath al-Mu’in Syarh Qurratu al-‘Ayn

وتكره لمجامع وقاضي حاجة بل يجيبان بعد الفراغ

orang yang sedang berhubungan badan dan buang hajat dimakruhkan untuk menjawab azan, namun keduanya tetap dianjurkan menjawab azan ketika sudah selesai melakukan aktifitasnya.”

Tak hanya itu, imam An-Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar an-Nawawiyah (j. 1 h. 51) menuturkan perihal tak wajibnya menjawab azan saat berada di kamar mandi atau toilet bahkan beliau mengatakan hukumnya adalah makruh.

يكره الذكر والكلام حال قضاء الحاجة ، سواء كان في الصحراء أو في البنيان ، وسواء في ذلك جميع الأذكار والكلام إلا كلام الضرورة حتى قال بعض أصحابنا : إذا عطس لا يحمد الله تعالى ، ولا يشمت عاطساً ، ولا يرد السلام ، ولا يجيب المؤذن ، ويكون المُسَلِّمُ مقصراً لا يستحق جواباً ، والكلام بهذا كله مكروه كراهة تنزيه ولا يحرم ، فإن عطس فحمد الله تعالى بقلبه ولم يحرك لسانه فلا بأس ، وكذلك يفعل حال الجماع

Zikir dan berbicara hukumnya dimakruhkan manakala sedang buang hajat, baik dilakukan di tanah lapang (terbuka) atau dalam ruangan. Kemakruhan tersebut berlaku untuk semua konteks zikir dan pembicaraan kecuali perkataan yang bersifat darurat. Bahkan sebagian murid-murid imam Syafi’i berpandangan bahwa ketika ada seseorang bersin (di jamban) maka tidak dianjurkan mengucapkan hamdalah dan tidak pula mengucapkan tasymith (ucapan Yarhamukallâh), tidak dianjurkan menjawab azan dan orang yang mengucapkan salam dengan lalai tidak berhak untuk dijawab, dan ucapan pada semua keadaan di atas adalah dihukumi makruh tanzih, tidak sampai dihukumi haram. Jika seseorang bersin kemudian dia mengucapkan hamdalah dalam hatinya tanpa menggerakkan lisannya maka hal ini tidak dipermasalahkan, hal tersebut juga dapat dilakukan ketika dalam keadaan bersetubuh.”

Hal ini dikuatkan oleh hadis Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah bahwasanya beliau tidak menjawab salam sahabat Muhajir bin Qanfadz pada saat buang hajat.

وعَنِ المْهُاَجِرِ بْنِ قَنْفَذ رضي الله عنه قَالَ : ” أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَبُوْلُ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَلَمْ يَرُدَّ حَتَّى تَوَضَّأَ، ثُمَّ اعْتَذَرَ إِلَيَّ وَقَالَ : إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ تَعَالَى إِلَّا عَلَى طُهْرٍ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهٍ

Dari Sahabat Muhajir bin Qanfadz ra. bahwa beliau berkata: Aku mendatangi Nabi Muhammad Saw saat beliau sedang buang hajat, lalu aku mengucapkan salam pada beliau namun salam itu tidak dijawabnya sampai beliau mengambil wudhu, lalu beliau menjelaskan padaku, ‘Aku tidak menyukai menyebut nama Allah kecuali aku dalam keadaan suci’.”

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa menjawab azan secara lisan saat berada di  kamar mandi atau toilet hukumnya adalah tidak wajib bahkan makruh, namun tetap dianjurkan untuk menjawabnya dalam hati dan menjawab secara lisan kalau sudah keluar dari kamar mandi atau jamban tersebut. Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here