Hukum Mengkhayal Shalat Berjamaah Bersama Istri

0
938

BincangSyariah.Com – Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Afwan ustazah, ana ingin bertanya. Jika kita berniat shalat berjamaah bersama istri dan dipertengahan shalat, kita ingat kalau kita belum punya istri. Apakah harus sujud sahwi, ustazah? Syukran Wa Jazakumullah Khairan ustazah,” tanya salah satu pembaca BincangSyariah.

Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Penanya yang budiman semoga selalu dalam lindungan Allah. Shalat jamaah memiliki keutamaan yang sangat banyak. Salah satunya  sebagaimana sabda Nabi Saw. “Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dua puluh tujuh derajat” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Namun dalam pelaksanaan shalat berjamaah tidak disyaratkan niat imaman bagi orang yang menjadi imam  kecuali dalam shalat Jumat. Tetapi niat menjadi imam berhukum sunah dan apabila imam tidak niat menjadi imam maka shalatnya imam tersebut dianggap shalat sendirian.

Keterangan ini sebagaimana dijelaskan oleh imam Abu Qasim al Ghazi di dalam kitab Fathul Qarib-nya

(دون الامام) فلا يجب في صحة الاقتداء به في غير الجمعة نية الامامة بل هي مستحبة في حقه فان لم ينو فصلاته فرادى.

Adapun masalah yang dihadapi oleh penanya adalah bagaimana hukum shalat seseorang yang keliru atau lupa dalam menentukan makmum. Imam Al Bajuri di dalam kitabnya menjelaskan

لايجب على الامام تعيين المأموم بل ولايطلب من ذلك فان عينه وأخطأ في غير الجمعة ونحوها لم يضر لان ما لايجب التعرض له اجمالا ولا تفصيلا لا يضر الخطأ فيه

Tidak wajib bagi imam menentukan makmum, bahkan dan tidak diminta hal itu. Jika ia menentukannya dan ternyata salah pada selain jamaah shalat jumat dan semisalnya maka tidak berbahaya. Karena sesuatu yang tidak diwajikan menjelaskan secara global maupun terperinci, maka kekeliruan itu tidak membayakan (shalatnya).

Oleh karena itu, shalat penanya tidak batal dan tetap sah. Lalu apakah harus sujud sahwi? Sujud sahwi itu sunah dilakukan menurut mazhab Syafi’i jika lupa atau meninggalkan sunah ab’adh-nya shalat, yakni tasyahhud awal, duduk pada saat tasyahhud awal, membaca shalawat kepada Nabi dalam tasyahhud awal, membaca shalawat kepada keluarga Nabi Saw. pada saat tasyahhud akhir, berdoa qunut di dalam shalat subuh dan pada akhir shalat witir di setengah yang akhir dari bulan Ramadhan dan berdiri untuk berdoa qunut.

Baca Juga :  Sikap Makmum Jika Imam Menambah Rakaat Salat

Sujud sahwi juga disunnahkan ketika ragu-ragu tentang bilangan rakaat rakaat yang telah dilaksanakan dan dilakukan sehabis menyempurnakan yang tertinggal dari rukun-rukunnya shalat atau dilakukan karena lupa berbuat sesuatu hal yang dilarang sewaktu sedang dalam shalat.

Karena itu, penanya yang budiman tidak perlu melakukan sujud sahwi karena hal yang ia lupa bukan termasuk yang dianjurkan baik secara global maupun rinci (yakni menentukan makmum) serta bukan hal-hal yang disunnahkan melakukan sujud sahwi ketika melupakannya. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

.

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here