Hukum Menghadiri Pesta Pernikahan

0
1763

BincangSyariah.Com – Pesta pernikahan dalam kajian fikih munakahat dikenal dengan istilah walimatul ‘urs (selanjutnya akan ditulis walimah) berasal dari kata kata al-walamu yang maknanya adalah pertemuan. Sebab kedua mempelai melakukan pertemuan.

Sementara itu, secara istilah adalah hidangan atau santapan yang disediakan pada pernikahan. Di dalam kamus disebutkan bahwa walimah itu adalah makanan pernikahan atau semua makanan yang untuk disantap para undangan.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menghadiri undangan walimah. Sebagian mengatakan wajib atau fardu ‘ain, sebagian lagi mengatakan fardu kifayah dan ada juga yang mengatakan sunah.

1.      Fardu

Pendapat jumhur ulama terdiri atas mazhab Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Mereka sepakat mengatakan bahwa menghadiri undangan walimah hukumnya fardu.

Namun kewajiban ini tergantung jenis undangannya juga. Kalau undangannya bersifat umum, tanpa menyebut nama tertentu, maka tidak ada kewajiban harus menghadirinya. Sebaliknya, bila undangannya ditujukan secara pribadi, baik lewat tulisan atau lewat orang yang diutus untuk menyampaikan undangan, maka barulah ada kewajiban untuk menghadirinya.

Az-Zarqani dalam kitab syarahnya menyebutkan bahwa tidak termasuk wajib hadir bila teks undangannya sendiri tidak mengikat. Misalnya tertulis dalam undangan “apabila anda berkenan hadir,” maka hadir atau tidak hadir terserah apakah pihak yang diundang berkenan atau tidak.

Dalil yang digunakan oleh pendapat ini di antaranya hadis berikut ini:

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا

“Apabila kamu diundang walimah maka datangilah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, juga ada hadis lain yang menyebutkan bahwa orang yang tidak menghadiri undangan walimah, disebut telah bermaksiat kepada Allah dan rasulNya.

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأْغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Makanan yang paling buruk adalah makanan walimah, bila yang diundang hanya orang kaya dan orang miskin ditinggalkan. Siapa yang tidak mendatangi undangan walimah, dia telah bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya. (H.R. Muslim)

Baca Juga :  Adab-adab Berziarah ke Makam Nabi

Di antara hikmah dari menghadiri walimah menurut para ulama, akan menambah keterpautan dan ikatan hati. Sedangkan tidak menghadirinya akan menimbulkan madarat dan putusnya silaturahmi.

2.      Sunah

Pendapat kedua dari para ulama tentang hukum menghadiri undangan walimah adalah sunah. Pendapat ini didukung oleh beberapa ulama mazhab Hanafiyah dan Syafi’iyah, dan salah satu versi pendapat mazhab Hanabilah. Ibnu Taimiyah termasuk yang berpendapat bukan wajib tetapi sunah.

Dasar pendapat ini karena menghadiri walimah berarti memakan makanan dan harta milik orang lain. Dan seseorang tidak diwajibkan untuk mengambil harta orang lain yang tidak diinginkannya.

Sehingga paling tinggi kedudukannya hanya sunah, tidak sampai kepada wajib. Karena pada hakikatnya menghadiri walimah itu seperti orang menerima pemberian harta. Sehingga bila harta itu tidak diterimanya, maka hukumnya boleh-boleh saja. Dan bila diterima hukumnya hanya sebatas sunah saja.

3.      Fardu Kifayah

Sedangkan pendapat ketiga dari hukum menghadiri walimah adalah fardu kifayah. Di antara para ulama yang berpendapat seperti ini adalah sebagian pendapat Syafi’iyah dan sebagian pendapat Hanabilah.

Dengan demikian, apabila sebagian orang sudah ada yang menghadiri walimah itu, maka bagi mereka yang tidak menghadirinya sudah tidak lagi berdosa.

Adapun kesimpulan hukumnya fardu kifayah berlandaskan kepada esensi dan tujuan walimah, yaitu sebagai media untuk mengumumkan terjadinya pernikahan serta menghindari fitnah perzinaan. Bila sudah dihadiri oleh sebagian orang, menurut pendapat ini sudah gugurlah kewajiban itu bagi tamu undangan lainnya.

Akan tetapi, kewajiban di atas tersebut memiliki beberapa syarat:

Jika walimah yang dimaksud itu merupakan walimah seorang muslim, maka dianjurkan untuk mendatanginya. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Apabila salah seorang saudara kalian mengundang saudaranya (sama saja), baik itu berupa undangan walimah ‘urs atau semisalnya, maka datangilah.”

Baca Juga :  Enam Keutamaan Shalat Berjamaah

Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin rahimahullah  berkata: “kalau seandainya engkau memiliki tetangga nonmuslim yang menyelenggarakan pernikahan, dan mengadakan walimah lalu mengundangmu, maka hukum menghadirinya adalah mubah (diperbolehkan), tidak wajib.”

Karena memenuhi undangan orang nonmuslim hukumnya boleh, kecuali di dalamnya terdapat syiar-syiar agama (mereka), begitu pula dalam hari raya mereka, maka menghadiri undangannya tidak diperbolehkan (diharamkan).

Syarat selanjutnya ialah jika dalam walimah itu tidak terdapat kemungkaran, kecuali hendak mengingkarinya. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata: “aku pernah membuat makanan. Lalu aku undang Rasulullah untuk menyantapnya. Beliau pun datang lalu melihat di dalam rumah ada  gambar-gambar (makhluk bernyawa).  Beliau pun kembali. Ketika ditanya alasan beliau kembali.” Beliau bersabda:

“Di dalam rumah itu ada satir yang bergambar. Sungguh malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang ada gambar-gambar di dalamnya.”

Syarat berikutnya jika di dalam walimah itu tidak ada uzur yang menghalangi hadir, seperti  sakit,  dalam perjalanan, atau mendapatkan undangan sebelumnya ke tempat walimah lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here