Hukum Menggunakan Jasa Penerjemah dalam Menyampaikan Khutbah Jumat

0
937

BincangSyariah.Com – Ketika ada kunjungan Syekh dari Timur Tengah atau dari negara lain dan kebetulan ia diminta untuk menyampaikah khutbah Jumat, maka ia biasanya menyampaikan khutbah dengan bahasa negara asalnya, baik Arab atau Inggris, dan kemudian ada seorang penerjemah yang ditunjuk untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia saat khutbah tengah berlangsung. Sebenarnya, bagaimana hukum menggunakan jasa penerjemah dalam menyampaikan khutbah Jumat?

Pada dasarnya, menurut ulama Syafiiyah, di antara syarat khutbah Jumat adalah harus disampaikan dengan bahasa Arab. Namun syarat ini hanya berlaku jika jemaah shalat Jumat adalah orang Arab dan mengerti bahasa Arab. Adapun jika jemaah shalat Jumat bukan orang Arab dan tidak mengerti bahasa Arab, maka syarat ini menjadi gugur sehingga khutbah Jumat boleh disampaikan dengan bahasa setempat.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Fiqhu ‘ala Mazahibil Arba’ah berikut;

الشافعية قالوا: يشترط أن تكون أركان الخطبتين باللغة العربية؛ فلا يكفي غير العربية متى أمكن تعلمها، فإن لم يمكن خطب بغيرها، هذا إذا كان القوم عرباً، أما إن كانوا عجماً فإنه لا يشترط أداء أركانهما بالعربية مطلقاً، ولو أمكنه تعلمها ما عدا الآية، فإنه لا بد أن ينطق بها بالعربية: إلا إذا عجز عن ذلك، فإنه يأتي بدلها بذكر أو دعاء عربي

Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa disyaratkan rukun khutbah harus diucapkan dalam bahasa Arab. Karena itu tidak cukup apabila menggunakan bahasa non-Arab selama memungkinkan belajar bahasa Arab. Apabila tidak memungkinkan belajar, maka boleh menggunakan bahasa lain. Ini apabila masyarakat yang menjadi pendengar adalah orang Arab.

Apabila mereka bukan orang Arab, maka tidak disyaratkan supaya rukunnya diucapkan dengan bahasa Arab secara mutlak (tanpa syarat), meskipun memungkinkan belajar bahasa Arab selama bukan ayat Al-Quran. Sesungguhnya ayat Al-Quran tidak boleh tidak harus menggunakan Bahasa Arab kecuali kalau tidak bisa membaca Arab, maka diganti dengan zikir atau doa yang berbahasa arab.

Baca Juga :  Jika Sholat Idul Fitri Sendirian di Rumah, Apakah Perlu Khutbah?

Karena itu, jika khutbah Jumat disampaikan dengan bahasa Arab atau lainnya dan jemaah shalat Jumat dikhawatirkan tidak mengerti, maka menyediakan penerjemah hukumnya adalah boleh. Ini dimaksudkan agar jemaah shalat Jumat bisa paham dan mengerti nasehat yang disampaikan oleh khatib.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Ahkamul Fuqaha’ berikut;

وقرر المؤتمر بأن الاحسن الخطبة بالعربية ثم يفسرها بلغة المجمعين ولا يخفى ان فائدتها فهمهم لما فى الخطبة من الوعظ

Para anggota muktamar menegaskan bahwa khutbah yang lebih baik adalah menggunakan bahasa Arab kemudian ditejemahkan dengan bahasa para hadirin. Tidak samar lagi bahwa manfaat dari penerjemahan ini adalah pemahaman mereka terhadap materi nasehat dalam khutbah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here