Hukum Menggunakan Air Musta’mal untuk Bersuci

1
1524

BincangSyariah.Com – Sayid Sabiq dalam kitab Fiqhus Sunnah mendefinisikan air musta’mal sebagai air bekas yang berpisah dari anggota wudhu atau mandi wajib. Syaikh Wahbah al-Zuhaili mendefinisikan air musta’mal sebagai air sedikit yang sudah digunakan untuk bersuci wajib dari hadas.

Sementara itu, Ibn al-Qasim al-Ghazi mengatakan bahwa air musta’mal adalah air yang sudah digunakan untuk menghilangkan hadas atau najis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa air musta’mal adalah air sedikit yang sudah digunakan untuk bersuci dari hadas maupun dari najis.

Adapun hukum air musta’mal itu suci tapi tidak mensucikan (thahir ghairu muthahhir). Syaikh Zainudin al-Malibari dalam kitabnya Fath al-Mu’in memperjelas istilah thahir ghairu muthahhir ini dengan mengatakan bahwa air musta’mal tidak bisa digunakan untuk bersuci, baik yang hukumnya wajib seperti wudhu sebagai syarat sah shalat, atau yang hukumnya sunah seperti mandi sunah shalat Idul Fitri atau mandi untuk menghadiri shalat Jumat. Selain itu, air musta’mal tidak bisa digunakan bersuci untuk menghilangkan najis.

Selanjutnya, Abu Bakar Usman bin Muhammad dalam kitab I’anah al-Thalibin menjelaskan bahwa air dapat dikatakan musta’mal apabila mencakup empat hal; (1) volume air sedikit (kurang dari dua qullah); (2) sudah pernah digunakan dalam rukun atau anggota wajib bersuci; (3) sudah terpisah dari anggota wudhu atau mandi; (4) tidak ada niat menciduk (ightiraf) ketika memasukkan tangan ke dalam wadah air atau pun ketika anggota tubuh menyentuh air. Syarat terakhir ini hanya berlaku dalam konteks mandi wajib setelah niat.

Al-Imam al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ ‘Ala Syarh Muhadzdzab menjelaskan hukum air musta’mal ini. Beliau mengatakan;

قد ذكرنا أن المستعمل طاهر عندنا بلا خلاف وليس بمطهر علي المذهب

Baca Juga :  Ketinggalan Salat Id Bersama Imam, Bagaimana Cara Salatnya?

Telah kami sebutkan bahwa air musta’mal statusnya adalah suci tanpa khilaf dan tidak mensucikan dalam pandangan madzhab.”

Para ulama fikih menjelasakan, penyebab air musta’mal ini tidak dapat mensucikan meskipun ia tetap dihukumi suci, adalah karena telah hilang kemurnian dan kemutlakannya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Abu Ishaq as-Syairozi dalam kitabnya al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam as-Syafi’i:

وهل تجوز به الطهارة أم لا؟ فيه طريقان من أصحابنا من قال: فيه قولان المنصوص أنه لا يجوز لأنه زال عنه إطلاق اسم الماء فصار كما لو تغير بالزعفران

Apakah air musta’mal boleh digunakan untuk bersuci? Dalam masalah ini ada dua pendapat dalam kalangan ulama Syafi’iyah, tetapi yang terverifikasi (manshus) adalah bahwa air musta’mal tidak bisa digunakan untuk bersuci karena telah hilangnya kemutlakan nama air pada air tersebut, sehingga hukumnya seperti air yang berubah karena tercampur oleh za’faron.”

Apakah air musta’mal dapat membuat air lain menjadi musta’mal?

Dalam masalah ini, al-Imam al-Nawawi menjelaskan dalam kitab Raudhah al-Thalibin sebagai berikut; apabila air musta’mal dapat mengubah atau merusak warna, bau, atau rasa air lain, maka hilang kesuciannya dan tidak dapat digunakan untuk bersuci. Sebaliknya apabila tidak merusak, maka hukum air tersebut tetap suci dan mensucikan. Wallahu a’lam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here