Hukum Menggabungkan Niat Puasa Ramadan dan Puasa Sunah Senin-Kamis

5
3564

BincangSyariah.Com – Niat merupakan hal yang sangat penting bagi setiap hal. Khususnya dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. Karena dengan niat dapat dibedakan antara aktivitas biasa dengan aktivitas yang bernilai ibadah.

Seperti duduk di dalam masjid, adat kebiasaan orang adalah duduk untuk beristirahat. Tetapi ketika sudah diniati ibadah maka duduknya di dalam masjid bergeser istilah menjadi i’tikaf dan bernilai ibadah, bukan istirahat biasa.

Lebih lanjut, piranti penting yang harus ada di dalam niat adalah ikhlas. Ikhlas adalah memurnikan amal hanya karena Allah Swt. dan menyelamatkan amal dari beragam nafsu yang dapat merusaknya.

Adapun pengertian ikhlas di dalam bab fiqh adalah memurnikan niat untuk satu ibadah. Oleh karena itu, maka men-tasyrik niat adalah menjadikan tidak sahnya niat. Tasyrik adalah mencampur niat antara ibadah dengan yang lain.

Namun, tidak diperbolehkannya mencampur niat tersebut tidak berlaku dalam beberapa ibadah. Misalnya niat salat tahiyatul masjid dicampur dengan salat sunah qabliyah hukumnya adalah sah. Keterangan tersebut sebagaimana disebutkan oleh imam Abu bakar al Ahdali dalam kitab Qawaid Fiqhiyah al Faraid al Bahiyyah

وَاعْتُبِرَ الْإِخْلاَصُ فِيْ الْمَنْوِيْ فَلَا # تَصِحُّ بِالتَّشْرِيْكِ فِيْمَا نُقِلَا

وَاسْتُثْنِيَتْ أَشْيَاءُ كَالتَّحِيَّةِ # مَعْ غَيْرِهَا تَصِحُّ فِيْهَا النِّيَّةُ

Diharuskan ikhlas di dalam niat maka tidak sah niat dengan tasyrik sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Terkecuali beberapa perkara sebagaimana salat tahiyatul masjid dicampur dengan lainnya maka niatnya berhukum sah.

Salah satu niat yang diperbolehkan untuk dicampur dengan niat lain dalam satu ibadah adalah puasa sunah Arafah yang digabungkan dengan niat puasa qada atau nazar. Puasa Arafah berhukum sunah dan puasa qada atau nazar berhukum wajib, maka niatnya tidak batal, dan kedua-duanya baik Arafah maupun puasa qada atau nadzarnya sah.

Baca Juga :  Hukum Mengucapkan Amin Setelah Alfatihah

Jadi dia melakukan satu puasa, namun ia mendapatkan dua pahala sekaligus, yakni puasa sunah Arafah dan puasa wajib qada. Hal ini disebutkan di dalam Altsamaratul Mardliyyah karya M. Yahya Khusnan Manshur (Jombang: Pustaka al Muhibbin, 2009, hal. 35-36).

أن ينوي مع العبادة المفروضة عبادة أخرى. ما لا يقتضي البطلان ويحصلان معا. نوى بغسله الجنابة والجمعة، صام يوم عرفة مثلا قضاء أو نذرا نوى معه الصوم بعرفة.

Di dalam kitab Fathul Mu’in (Surabaya: Nurul Huda, h. 59) karya Imam Zainuddin al Malibari juga menyebutkan bahwa mayoritas ulama muta’khirin telah mefatwakan bahwa sampainya pahala puasa Arafah yang disertai dengan puasa fardu.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa menyertakan niat antara puasa sunah dengan puasa fardu tidak dilarang. Keduanya masing-masing dianggap dan sampai pahalanya.

Oleh karena itu, jika seseorang puasa Ramadan, maka boleh baginya setiap hari Senin dan Kamis menggabungkan niat puasa Ramadan dengan puasa Senin atau Kamis. Bahkan ketika tanggal 13, 14 dan 15, maka boleh baginya berniat puasa Ramadan dan puasa ayamul bidh sekaligus niat puasa Senin atau Kamis.

Wa Allahu a’lam bis shawab.

5 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum warahmatullahi waa barakatuh

    Bolehkah imam membaca surah dalam rakaat membacanya dengan melihat Alquran (seperti membaca Alquran bukan hafalan) terimakasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here