Hukum Mengangkat Tangan ketika “Takbiratul Ihram”

1
824

BincangSyariah.Com – Di masyarakat sering dihebohkan masalah kecil, seperti hukum mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram, ada yang mengatakan hukumya wajib, sebagian lagi ada yang mengatakan sunah, sehingga keduanya saling mengklaim paling benar. Pertanyaannya, bagaimana hukumnya mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram?

Takbiratul ihram adalah ucapan allahu akbar sebagai tanda salat sudah dimulai, maka dilarang melakukan hal-hal yang membatalkan salat. Adapun mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram hukumnya sunah, tidak wajib. Sememtara itu, mengenai batasan mengangkat kedua tangan ada dua pendapat.

Pertama, kedua tangan diangkat sampai kedua telinga, hal ini sesuai dengan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berbunyi;

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ نَصْرِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِىَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِىَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَقَالَ « سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ». فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ.

Artinya: riwayat Malik bin khuwairis, bahwa Nabi ketika takbir mengangkat kedua tangan sampai batas kedua telinga, begitu juga ketika ruku beliau mengangkat kedua tangan sampai kedua telinga, dan ketika bangun dari ruku beliau membaca sami’a allahu liman hamidah.

Kedua, kedua tangan diangkat sampai batas pundak, sebagaimana Nabi Muhammad Saw. bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يُكَبِّرُ لِلرُّكُوعِ وَيَفْعَلُ ذَلِكَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَيَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَلَا يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ

Artinya: dari Abdullah bin Umar  berkata: saya melihat Rasulullah ketika salat mengangkat kedua tangannya sampai batas kedua pundak, begitu juga waktu ruku, maupun bangun dari ruku kemudian membaca sami’a allahu liman hamidah.

Dari kedua hadis ini kita tahu bahwa dua pendapat ini sama kuatnya, untuk itu sebaiknya disikapi dengan tangan terbuka, serta menghargai perbedaan, dan mengutamakan persatuan.

Baca Juga :  Apa itu Bersuci?

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here