Hukum Mengafani dan Menyalati Jenazah yang Bunuh Diri

1
687

BincangSyariah.Com – Bunuh diri merupakan cara yang dilakukan seseorang untuk mengakhiri hidupnya. Mereka yang memutuskan untuk bunuh diri, melakukannya dengan cara menggantung diri, minum obat-obatan melebihi dosis, menenggak cairan beracun, atau menggunakan senjata. Bunuh diri bukanlah jalan pintas untuk mengakhiri segalanya, sebab akan ada siksa kubur yang menjumpainya kelak di hari kiamat. Rasululah bersabda:

من قتل نفسه بشيء عذب به يوم القيامة

Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan di adzab dengan itu di hari kiamat” (HR. Bukhari Muslim)

Lantas timbul dari benak pikiran seorang Muslim, apakah boleh mengafani dan mengshalatka jenazah yang mati bunuh diri tersebut? Dalam hal ini Ulama berbeda pendapat. Namun yang jumhur adalah tetap mengafani dan menyalati jenazah tersebut. Pelaku bunuh diri tidaklah dihukumi keluar dari Islam, sebab itulah masih ada hak yang harus dipenuhi ketika seseorang tersebut meninggal. Ibnu Hazm menegaskan ijma’ ulama dalam masalah ini. Dalam Marathib al-Ijma’ disebutkan:

اتفقوا على أن مواراة المسلم فرض واتفقوا على أن غسله والصلاة عليه ان كان بالغا وتكفينه ما لم يكن شهيدا أو مقتولا ظلما في قصاص فرض

Ulama sepakat bahwa memakamkan muslim hukumnya wajib. Mereka juga sepakat bahwa memandikan, menshalati jenazah yang sudah baligh, dan mengafaninya selama bukan jenazah yang mati syahid atau yang dibunuh karena qishas, hukumnya wajib    

Adapun pendapat yang menyatakan untuk tidak menyalati jenazah yang mati sebab bunuh diri adalah mereka yang mencontoh Rasulullah tidak menyalati seorang lelaki yang mati sebab bunuh diri. Pernyataan tersebut berdasarkan hadis yang diceritakan dari Jabir bin Samurah. Rasulullah tidak menyalati hanya utuk memberikan pelajaran kepada lainnya agar tidak mencontoh perbuatan keji tersebut.

Baca Juga :  Hukum Makan dan Minum dalam Kondisi Junub

Layaknya Rasulullah juga tidak menyalati jenazah yang memiliki banyak utang, namun tetap meminta para sahabat untuk menyalatinya.  Senada dengan ungkapan  Syaikhul Islam dalam Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah:

ومن امتنع من الصلاة على أحدهم – أي : الغال والقاتل والمدين – زجراً لأمثاله عن مثل فعله كان حسناً ، ولو امتنع في الظاهر ودعا له في الباطن ليجمع بين المصلحتين : كان أولى من تفويت إحداهما

Orang yang tidak mau menshalati jenazah yang mati karena korupsi, qishas, dan punya utang, sebagai bentuk peringatan bagi yang lain agar tidak melakukan semacam itu, termasuk sikap yang baik. Dan andaikan dia tidak mau menshalati secara terang-terangan, namun tetap mendoakan secara diam-diam, sehingga bisa menggabungkan dua sikap paling maslahat, tentu itu pilihan terbaik dari pada meninggalkan salah satu.

keterangan di atas mengingatkan bahwa meskipun tidak ikut mengafani dan menyalati jenazah yang mati karena bunuh diri, hendaknya kita mendoakan secara diam-diam dalam rangka menunaikan hak sesama muslim. Dengan demikian tidak mengapa jika kita melihat sekelompok golongan yang tidak mau ikut andil dalam pengurusan jenazah yang mati sebab bunuh diri, bisa saja mereka sudah mendoakan dari hati mereka.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here