Hukum Meneteskan Obat Cair di Telinga Saat Berpuasa

0
1122

BincangSyariah.Com – Seperti yang sudah diketahui, puasa bisa batal akibat salah satu perbuatan dan aktifitas yang masuk di kategori memasukkan sesuatu melalui jalan tembus hingga meresap kedalam tubuh kita dan menyebabnya adanya kekuatan. Contohnya adalah minum, makan dan lain sebagainya yang semuanya masuk lewat jalur mulut menuju lambung

Namun, bagaimana jika lubang yang dimasuki sesuatu tersebut tidak jelas apakah termasuk jalan tembus ke lambung atau tidak, seumpama kita memasukkan benda cair berupa obat tetes telinga atau lainnya, baik diteteskan secara langsung atau diletakkan pada kapas kemudian ditaruh dalam telinga, apakah tindakan demikian dapat membatalkan puasa?

Dalam mazhab Syafi’i persoalan ini menjadi perhatian tersendiri. Ulama dalam mazhab Syafi’i sendiri berbeda pendapat. Ada yang mengatakan perbuatan demikian dapat membatalkan puasa dan ada yang mengatakan tidak. Ini dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam bukunya Raudhat at-Thalibin wa ‘Umdat al-Muftin (j. 2 h. 223) sebagai berikut,

ولو قطر في أذنه شيئا فوصل إلى الباطن أفطر على الأصح عن الأكثرين كالسعوط، والثاني لايفطر كالإكتحال قاله الشيخ أبو علي والقاضي حسين والفوراني

Maksud dari redaksi beliau diatas adalah seseorang yang memakai obat tetes pada telinga baik secara langsung atau diteteskan pada kapas dan ditaru ditelinga kemudian benda cair tersebut meresap kedalam telinga maka menurut Imam Nawawi dapat membatalkan puasa.

Menurut beliau pendapat ini merupakan pendapat terbaik mayoritas ulama mazhab Syafi’i. Namun, ada juga ulama dalam mazhab Syafi’i lainnya yang mengatakan tidak membatalkan puasa dengan ditengarai tidak ubahnya celak yang dioleskan di mata. Pendapat ini merupakan pendapat al-Syaikh Abu Ali, al-Qadhi Husain dan al-Faurani.

Imam al-Ghazali dalam kitab al-Wasith Fi al-Mazhab (j. 2 h. 525) menyampaikan dukungannya pada pendapat kedua yang tidak membatalkan perbuatan tersebut sebagai berikut,

Baca Juga :  Keutamaan Membaca Sepuluh Ayat Terakhir Surat Ali Imran Ketika Bangun Tidur

والصحيح أن تقطير الدهن في الأذن لا يضر

Pendapat yang dipilih oleh Imam al-Ghazali dalam redaksi diatas adalah pendapat derajatnya lebih rendah daripada pendapat mayoritas diatas. Yaitu meneteskan benda cair entah obat atau yang lainnya tidak memberikan pengaruh apapun terhadap puasa seseorang sebagai pelaku.

Kemudian Imam Nawawi menguatkan pendapatnya diatas seraya menimpali pendapat Imam al-Ghazali yang tidak membatalkan perbuatan tersebut, dalam karya lainnya, yaitu al-Majmu’ Fi Syarh al-Muhazzab juz 6 halaman 322 redaksinya sebagai berikut:

لو قطر في أذنه ماء أو دهنا أو غيرهما فوصل إلى الدماغ فوجهان : أصحهما يفطر وبه قطع المصنف والجمهور.

Imam Nawawi dalam redaksi diatas menegaskan akan batalnya puasa seseorang yang meneteskan benda cair pada telinganya entah obat tetes, minyak, air ataupun hal lainnya. Akan tetapi perlu dipahami bahwa beliau disini membatasinya dengan pernyataan “jika benda cair tersebut dapat meresap masuk ke otak”. Namun jika tidak maka puasanya juga tidak apa-apa.

Selanjutnya menurut beliau, pendapatnya diatas sudah berdasarkan pendapat mayoritas para pendahulunya. Sementara pendapat kedua yang dipilih oleh imam al-Ghazali betolak belakang dari pendapat mayoritas. Hanya saja perlu dipahami bahwa dalam mazhab al-Syafi’i istilah as-sahih juga bisa dijadikan sebagai rujukan.

Kesimpulannya, ada dua pendapat terkait persoalan ini. Ada yang mengatakan dapat membatalkan dan ada yang mengatakan tidak apa-apa. Keduanya pendapat ini sama-sama bisa dijadikan rujukan oleh kita mengingat istilah yang digunakan dalam kedua pendapat ini memakai al-Ashah dan al-Shahih. Kedua istilah ini dalam mazhab syafi’i sama-sama bisa dijadikan sebagai rujukan. Hanya saja berpedoman pada prinsip al-Ihtiyath ( ke-hati-hati-an) maka selayaknya jika kita tidak terpaksa menggunakannya disiang bolong saat kita puasa maka undurlah hingga tibanya waktu magrib.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here