Hukum Menerjemahkan Khutbah Jumat dengan Bahasa Isyarat

0
915

BincangSyariah.Com – Ketika khatib menyampaikan khutbah Jumat, maka semua jemaah shalat Jumat sangat dianjurkan untuk mendengarkan semua materi dan nasehat yang disampaikan khatib dengan seksama dan penuh perhatian. Namun hal ini akan menjadi sulit dilakukan oleh penyandang disabilitas tuna rungu. Ia tidak akan bisa mendengar dan mengerti materi yang disampaikan khatib kecuali dengan bantuan bahasa isyarat. Karena itu, sebagian takmir menyediakan interpreter untuk menerjemahkan khutbah ke dalam bahasa isyarat. Bagaimana hukum menerjemahkan khutbah Jumat dengan bahasa isyarat?

Secara umum, menerjemahkan khutbah Jumat ke dalam bahasa yang dimengerti oleh para jemaah hukumnya adalah boleh. Baik proses penerjemahan tersebut dilakukan langsung oleh khatib atau orang lain yang berperan sebagai penerjemah khatib.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Ahkamul Fuqaha’ berikut;

وقرر المؤتمر بأن الاحسن الخطبة بالعربية ثم يفسرها بلغة المجمعين ولا يخفى ان فائدتها فهمهم لما فى الخطبة من الوعظ

Para anggota muktamar menegaskan bahwa khutbah yang lebih baik adalah menggunakan bahasa Arab kemudian ditejemahkan dengan bahasa para hadirin. Tidak samar lagi bahwa manfaat dari penerjemahan ini adalah pemahaman mereka terhadap materi nasehat dalam khutbah.

Bagi orang normal, proses penerjemahan dilakukan antar bahasa. Misalnya, bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun bagi penyandang disabilitas tuna rungu, maka proses penerjemahan harus dilakukan dengan bahasa isyarat. Hal ini karena hanya bahasa isyarat yang bisa dimengerti oleh mereka.

Oleh karena itu, menerjemahkan khutbah Jumat dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, misalnya, atau dari bahasa lisan ke dalam bahasa isyarat, hukumnya adalah boleh. Menerjemahkan khutbah Jumat ke dalam bahasa isyarat termasuk perbuatan i’anah atau membantu penyandang disabilitas tuna rungu. Menurut Imam Nawawi, membantu penyandang disabilitas hukumnya adalah wajib.

Baca Juga :  Meninggal dan Masih Punya Utang Puasa Ramadan, Bagaimana Menggantinya?

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh beliau dalam kita Kasyifatus Saja’ berikut;

فيجب الإعانة على العاجز ولو بأجرة

Maka wajib membantu atas orang yang lemah (di antaranya penyandang disabilitas, pen) meskipun dengan memberi upah atau bayaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here