Hukum Menelan Ludah Ketika Shalat

0
25

BincangSyariah.Com – Ketika kita sedang melaksanakan shalat, terkadang banyak ludah terkumpul di mulut kita dan lalu kita menelannya. Biasanya, munculnya ludah ini karena mulut kita bergerak akibat membaca bacaan-bacaan dalam shalat. Bagaimana hukum menelan ludah ketika shalat, apakah shalat menjadi batal? (Baca: Apakah Menelan Ludah Membatalkan Puasa?)

Menurut para ulama, menelan ludah ketika kita sedang shalat, selama ludah tersebut masih murni dan tidak bercampur dengan benda lain, hukumnya boleh. Shalat tidak menjadi batal karena menelan ludah yang masih murni.

Namun jika ludah tersebut sudah bercampur dengan benda lain, misalnya bercampur dengan sisa makanan atau bercampur dengan darah, maka hukum menelannya bisa membatalkan shalat.

و التاسع الشرب وهو كالأكل فيما مر ومثل الشرب ابتلاع الريق المختلط بغيره إذ القاعدة أن كل ما أبطل الصوم أبطل الصلاة

Sembilan adalah minum. Minum sama seperti makan dalam masalah penjelasan yang lalu. Seperti halnya minum adalah menelan ludah yang sudah bercampur dengan benda lain. Ini berdasarkan kaidah: Sesuatu yang dapat membatalkan puasa, maka dapat membatalkan shalat.

Berdasarkan penjelasan ini, maka menelan ludah ketika shalat adalah diperbolehkan dan tidak membatalkan shalat. Namun, ludahnya itu dengan syarat suci, murni dan asli dari area mulut. Menurut para ulama, di antara alasan mengapa menelan ludah tidak membatalkan shalat, juga tidak membatalkan puasa, adalah karena menghindar dari menelan ludah ini sangat sulit dilakukan.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ berikut;

ابْتِلَاعُ الرِّيقِ لَا يُفْطِرُ بِالْإِجْمَاعِ إذَا كَانَ عَلَى الْعَادَةِ؛ لِأَنَّهُ يَعْسُرُ الِاحْتِرَازُ مِنْهُ

Menelan ludah tidak membatalkan puasa menurut kesepakatan para ulama, jika hal itu dilakukan sesuai kebiasaan. Ini karena sulitnya menghindar dari menelan ludah ini.

Adapun jika ludah tersebut bercampur dahak, maka hukumnya tidak boleh ditelan ketika shalat. Jika ditelan, maka shalatnya batal. Ludah yang bercampur dengan dahak atau benda lainnya harus dikeluarkan atau diludahkan, dan tidak boleh ditelan.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Mawahib Al-Jalil berikut;

مَن ابْتَلَعَ نُخَامَةً فِي الصَّلَاةِ، وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى طَرْحِهَا؛ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ، وَصَوْمُهُ إنْ كَانَ صَائِمًا.

Barangsiapa yang menelan dahak dalam shalat, dan dia mampu untuk membuangnya, maka shalatnya menjadi batal, dan juga puasanya batal jika dia berpuasa.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here