Hukum Mencuci Pakaian Dalam Orang Lain

0
152

BincangSyariah.Com – Ada kepercayaan di sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa seorang suami tidak boleh mencuci pakaian dalam istri. orang tua tidak boleh mencuci pakaian dalam anaknya yang sudah dewasa. Bahkan pakaian dalam juga tidak boleh dicuci oleh orang lain, melainkan harus dicuci sendiri. Dalam Islam, sebenarnya bagaimana hukum mencuci pakaian dalam orang lain?

Dalam Islam, tidak ada larangan dan pantangan tertentu bagi seseorang untuk mencuci pakaian dalam orang lain. Ia boleh mencuci pakaian dalam orang lain, baik pakaian dalam suami atau istri, pakaian dalam orang tua dan pakaian dalam anak, bahkan boleh juga mencuci pakaian dalam orang lain.

Bahkan khusus untuk suami, dalam Islam dianjurkan untuk membantu istrinya dalam pekerjaan rumah tangga. Ia dianjurkan untuk membantu istrinya masak, dan lainnya termasuk mencuci pakaian, bahkan jika pakaian yang hendak dicuci tersebut adalah pakaian dalam istrinya atau anak-anaknya.

Mencuci pakaian istri, termasuk pakaian dalamnya, termasuk perbuatan makruf yang dianjurkan dalam Islam. Ini berdasarkan firman Allah dalam surah Al-Nisa’ [4]: 19 berikut,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan bergaullah dengan para istri secara makruf.

Dalam kitab Taisir Al-Karim Ar-Rahman, Syaikh Abdurrahman bin Nashir menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut;

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ: وهذا يشمل المعاشرة القولية والفعلية، فعلى الزوج أن يعاشر زوجته بالمعروف، من الصحبة الجميلة، وكف الأذى وبذل الإحسان، وحسن المعاملة، ويدخل في ذلك النفقة والكسوة ونحوهما، فيجب على الزوج لزوجته المعروف من مثله لمثلها في ذلك الزمان والمكان، وهذا يتفاوت بتفاوت الأحوال.

Dan gaulilah mereka (para istri) dengan baik; Ini mencakup pergaulan yang berupa perkataan atau perbuatan, maka seorang suami hendaklah ia menggauli istrinya dengan baik, berupa pertemanan yang baik, tidak menyakiti, berbuat kebaikan, pergaulan yang baik, termasuk dalam hal ini adalah pemberian nafkah, pakaian dan semisalnya, maka wajib bagi seorang suami kepada istri, untuk berbuat baik yang semisalnya terhadap (kebaikan yang diperbuat) misalnya dalam waktu atau tempat itu, dan hal ini berbeda-beda dalam beberapa keadaan.

Selain itu, Nabi Saw senantiasa membantu istri-istri beliau dalam pekerjaan rumah tangga. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam At-Tirmidzi, dari Sayidah Aisyah, dia berkata;

كان صلى الله عليه وسلم يكون في مهنة أهله، يعني خدمة أهله، فإذا حضرت الصلاة خرج إلى الصلاة

“Rasulullah Saw biasa melakukan pekerjaan istrinya, yakni dalam rangka membantu istrinya. Apabila tiba waktu shalat, maka ia keluar untuk shalat.”mwnc

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here