Hukum Memperbaharui Nikah dalam Islam

0
4961

BincangSyariah.Com – Salah satu fenomena aktual dalam masyarakat adalah tajdidun nikah, yang lebih dikenal dengan nganyari nikah atau memperbaharui nikah. Tajdidun Nikah itu pembaharuan akad nikah, meperbaharui nikah dilakukan oleh suami istri dengan berbagai alasan. Dan alasan yang sering dalam meperbaharui nikah yaitu ketika sudah melakukan pernikahan secara sirri kemudian melakukan pernikahan lagi untuk mendapat kelegalan hukum di Indonesia.

Lantas bagaimana hukum memperbaharui nikah tersebut dalam Islam? Ibnu munir, sebuah pakar fiqih kebangsaan Mesir memberikan suatu hukum dari tajdidun nikah adalah boleh, karena mengulangi lafal akad nikah di dalam nikah yang kedua tidak merusak pada akad yang pertama. Kemudian dikuatkan oleh argumen Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, menyatakan bahwa menurut jumhur ulama tajdidun nikah tidak merusak akad yang pertama.

Dan beliau juga menambahi perkataan bahwa yang shahih di sisi ulama’ Syafi’iyah adalah mengulangi akad nikah atau akad lainnya tidak mengakibatkan fasakh akad pertama, sebagaimana pendapat jumhur ulama. Dalam kitab At-Tuhfah Al-Muhtaj bisyarkhil Minhaj disebutkan:


أَنَّ مُجَرَّدَ مُوَافَقَةِ الزَّوْجِ عَلَى صُورَةِ عَقْدٍ ثَانٍ مَثَلاً لاَ يَكُونُ اعْتِرَافًا بِانْقِضَاءِ الْعِصْمَةِ اْلأُولَى بَلْ وَلاَ كِنَايَةَ فِيهِ وَهُوَ ظَاهِرٌ إِلَى أَنْ قَالَ وَمَا هُنَا فِي مُجَرَّدِ طَلَبٍ مِنْ الزَّوْجِ لِتَجَمُّلٍ أَوْ احْتِيَاطٍ فَتَأَمَّلْهُ.

“Sesungguhnya persetujuan murni suami atas aqad nikah yang kedua (memperbarui nikah) bukan merupakan pengakuan habisnya tanggung jawab atas nikah yang pertama, dan juga bukan merupakan kinayah dari pengakuan tadi. Dan itu jelas karena tajdidun nikah itu permintaan suami untuk memperbaiki atau berhati-hati”.

Secara eksplisit, tidak ada pembahasan dalam Al Qur’an mengenai perihal tajdidun nikah. Namun ada sebuah riwayat Muslim tentan baiat Salamah yang bisa dijadikan qiyas (sandaran). Berikut hadisnya:

Baca Juga :  Hukum Bersandar pada Tiang Saat Khutbah Jumat

بايعنا النبي صلى الله عليه وسلم تحت الشجرة، فقال لي: يا سلمة ألا تبايع؟، قلت: يا رسول الله، قد بايعت في الأول، قال: وفي الثاني

Kami melakukan bai’at kepada Nabi saw di bawah pohon kayu. Ketika itu, Nabi saw menanyakan kepadaku : “Ya Salamah, apakah kamu tidak melakukan bai’at ?. Aku menjawab : “Ya Rasulullah, aku sudah melakukan bai’at pada waktu pertama (sebelum ini).” Nabi saw berkata : “Sekarang baiat yang kedua

Dalam keterangan tersebut, Salamah sudah baiat kepada Nabi. Namun Nabi menganjurkan Salamah untuk mengulang baiat tersebut bersama para sahabat lainnya, untuk menguatkan baiat yang pertama dan tidak membatalkan baiatnya yang pertama. Tindakan Salamah tebut bisa dijadiakan qiyas untuk pembaharuan nikah, mengingat keduanya sama-sama merupakan ikatan janji anatara dua pihak. Hujjah seperti itulah yang dikemukakan ole Ibn Munir di atas dan juga Ibn Hajar Al Asqalany dalam kitab Fathul Bari. Ibn Munir berkata:

يستفاد من هذا الحديث أن اعادة لفظ العقد في النكاح وغيره ليس فسح للعقد الاول

Dipahami dari hadits ini (hadits salamah) bahwa mengulangi lafazh akad nikah dan akad lainnya tidaklah menjadi fasakh bagi akad pertama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here