Hukum Memisahkan Diri dari Imam saat Salat Berjamaah

0
1821

BincangSyariah.Com – Dalam bab salat berjamaah, sering kita jumpai pembahasan mengenai mufaraqah dari imam. Mufaraqah merupakan istilah bagi makmum yang memisahkan diri dari imam saat melaksanakan salat berjamaah. Bagaimana hukum mufaraqah dari imam saat salat berjamaah?

Menurut ulama Syafiiyah, hukum asal mufaraqah adalah jawaz atau boleh. Namun dari hukum jawaz ini bisa bercabang menjadi hukum-hukum yang lain tergantung sebab yang melatarbelakanginya. Jika diperinci, hukum mufaraqah dibagi lima sebagai berikut.

Pertama, wajib mufaraqah. Makmum wajib mufaraqah jika dia tahu bahwa salat imam batal, baik karena terkena najis atau melakukan perkara yang membatalkan salat. Misalnya, makmum melihat najis yang mengenai imam atau melihat sebagian aurat imam yang terbuka karena sarungnya bolong.

Kedua, sunah mufaraqah. Makmum disunahkan mufaraqah jika imam sengaja meninggalkan perbuatan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan di dalam salat. Misalnya, imam sengaja meninggalkan tasyahud awal.

Ketiga, mubah atau boleh mufaraqah. Makmum dibolehkan mufaraqah jika imam membaca surah Alquran yang panjang atau memanjangkan bacaan yang lain. Misalnya, imam sujud sangat lama dan lain sebagainya. Dalam kondisi seperti ini, makmum dibolehkan memilih antara terus berjamaah bersama imam atau mufaraqah.

Keempat, makruh mufaraqah. Makmum dihukumi makruh mufaraqah dari imam jika tidak ada uzur atau sebab-sebab tertentu. Misalnya, makmum mufaraqah dari imam padahal imam tidak melakukan perkara yang membatalkan salat, tidak meninggalkan perkara yang sangat disunahkan dalam salat atau imam tidak memanjangkan bacaan surah Alquran.

Kelima, haram mufaraqah. Makmum haram mufaraqah dari imam dalam salat yang wajib dilakukan secara berjamaah. Misalnya, salat Jumat. Dalam salat Jumat, makmum haram mufaraqah karena salat Jumat wajib dilakukan secara berjamaah.

Baca Juga :  Haruskah Thuma’ninah Ketika Ruku’?

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Habib Abdurrahman dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin berikut;

الْحَاصِلُ أَنَّ قَطْعَ الْقُدْوَةِ تَعْتَرِيْهِ اْلأَحْكَامُ الْخَمْسَةُ وَاجِباً كَأَنْ رَأَى إِمَامَهُ مُتَلَبِّسًا بِمُبْطِلٍ وَسُنَّةٍ لِتَرْكِ اْلإِمَامِ سُنَّةً مَقْصُوْدَةً وَمُبَاحًا كَأَنْ طَوَّلَ اْلإِمَامُ وَمَكْرُوْهاً مُفَوِّتاً لِفَضِيْلَةِ الْجَمَاعَةِ إِنْ كَانَ لِغَيْرِ عُذْرٍ وَحَرَاماً إِنْ تَوَقَّفَ الشِّعَارُ عَلَيْهِ أَوْ وَجَبَتِ الْجَمَاعَةُ كَالْجُمْعَةِ

“Kesimpulannya bahwa memutus ikatan dengan imam memiliki lima hukum. Wajib, jika melihat imam melakukan perkara yang membatalkan salat. Sunah, karena imam meninggalkan perkara yang sangat disunahkan. Mubah, jika imam memanjangkan salat. Makruh dan bisa menggugurkan keutamaan berjamaah jika mufaraqah tanpa uzur. Haram, jika ada unsur syiar atau wajib berjamaah seperti salat Jumat.”



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here