Hukum Memegang Kitab Tafsir tanpa Wudhu

0
3362

BincangSyariah.Com – Dalam Islam, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan bagi seseorang yang sedang dalam kondisi hadas baik hadas kecil maupun hadas besar. Di antara larangan tersebut adalah menyentuh dan membawa Alquran. Larangan ini disebabkan karena Alquran adalah mulia dan suci dan tidak boleh disentuh kecuali dalam keadaan suci dari hadas. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Alwaqiah ayat 79;

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Tidak menyentuhnya (Alquran) kecuali orang-orang yang disucikan.”

Juga berdasarkan hadis riwayat al-Daruquthni dari kakeknya Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَتَبَ إِلَى أَهْلِ الْيَمَنِ كِتَابًا فَكَانَ فِيهِ :لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ

Sesungguhnya Nabi Saw. pernah menulis surat untuk penduduk Yaman, di dalamnya terdapat pesan yang isinya: ‘tidak boleh menyentuh Alquran melainkan orang yang suci.’

Melalui ayat dan hadis tersebut, mayoritas ulama mengharamkan menyentuh dan membawa Alquran tanpa wudhu. Lantas bagaimana dengan kitab tafsir? Apakah boleh memegangnya tanpa wudhu?

Dalam masalah ini terjadi perbedaan di antara ulama. Perbedaan tersebut dapat dikelompokan menjadi dua bagian besar;

Pertama; menurut ulama Malikiyah dan Hanabilah, tidak dilarang menyentuh kitab tafsir secara mutlak, baik kandungan tafsirnya lebih banyak dari Alquran atau lebih sedikit. Hal ini karena kitab tafsir tidak bisa disebut Alquran, sehingga tidak bisa dihukumi sebagaimana Alquran murni tanpa tafsir sama sekali. Alquran dan tafsir Alquran adalah dua hal berbeda sehingga memiliki hukum yang berbeda pula. Alquran tidak boleh disentuh tanpa wudhu sedangkan tafsir Alquran boleh disentuh.

Kedua; menurut ulama Syafiiyah dan Hanafiyah, hukum menyentuh tafsir Alquran tanpa wudhu dilihat kandungan yang lebih banyak. Apabila kandungan tafsir lebih banyak atau sama dengan isi Alquran, maka boleh menyentuh tanpa wudhu. Bahkan Ibnu Hajar membolehkan menyentuh kitab tafsir yang kandungan Alqurannya diragukan apakah lebih sedikit atau lebih banyak. Namun jika kandungan tafsirnya lebih sedikit, maka dilarang menyentuh.

Baca Juga :  Batalkah Wudunya Perempuan yang Memakai Cat Kuku?

Dari kedua pendapat tersebut, maka lebih kuat adalah pendapat yang kedua. Hal ini berdasarkan surat Nabi Saw. kepada Kaisar dan mengutus Dihyah al-Kalbi untuk mengantar surat tersebut. Sebagian isi surat Nabi Saw. tersebut adalah ayat Alquran. Surat ini menjadi dasar kebolehan menyentuh kitab yang isi Alquran lebih sedikit dari kandungan yang lain.

Meski demikian, menyentuh kitab tafsir sangat dianjurkan dengan wudhu. Bahkan sebagian ulama menilai makruh menyentuh kitab tafsir tanpa wudhu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here