Hukum Membatalkan Puasa Qada di Siang Hari

1
5107

BincangSyariah.Com – Setelah bulan Ramadan berlalu, sebagian umat Islam ada yang memiliki tanggungan mengqada puasanya yang ia tinggalkan selama bulan Ramadan. Baik ia tinggalkan karena haid, nifas, hamil, menyusui atau faktor sakit dan berpergian. Oleh karena itu, ia pun dituntut mengganti puasanya di bulan-bulan lain selain bulan Ramadan.

Biasanya mengqada puasa ini sulit bagi sebagian orang, dimana ia harus berpuasa sendiri sementara orang-orang di sekitarnya sedang asyik makan dan minum sepuasnya. Godaan pun juga datang ketika ada acara pernikahan, bertamu atau sebab lainnya. Lalu bagaimana hukumnya jika ia memutus puasa qada di siang hari?

Hukum memutus puasa qada di siang hari adalah haram. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh imam Abu Yahya Zakariya Al Anshari di dalam kitab Fathul Wahhab:

وحرم قطع فرض عيني

Dan diharamkan membatalkan ibadah fardu ain.

Sementara puasa qada Ramadan adalah termasuk ibadah fardu ain. Ibadah yang wajib dikerjakan bagi setiap individu umat Muslim. Jadi, bagi umat Muslim harus benar-benar pintar memilih waktu untuk melaksanakan puasa qada, agar tidak terganggu dengan acara keluarga atau hal hal lainnya yang mengharuskan ia makan atau minum.

Sementara jika ia sudah terlanjur puasa qada yang bersifat fardu ain, maka haram baginya untuk memutus puasanya di siang harinya, terlebih hanya gara-gara hal sepele. Kecuali, jika memang ia mengalami hal yang wajib baginya untuk memutus puasa qada tersebut di siang hari, seperti terkena penyakit yang parah, adanya kesulitan disebabkan melakukan perjalanan yang sudah diperbolehkannya mengqasar salat, atau tiba-tiba datang bulan (haid/menstruasi).

Berbeda dengan puasa sunah, maka boleh tetapi berhukum makruh memutus puasa sunnah dengan tanpa adanya uzur. Hal ini sebagaimana dijelaskan pula oleh imam Abu Yahya Zakaria Al anshari berikut ini:

وقطع نقل غير نسك بلا عذر ولا يجب قضاؤه

Dan (dimakruhkan) memutus ibadah sunnah dengan tanpa adanya uzur, dan tidak wajib mengqadanya.

Adapun dasar dimakruhkannya adalah firman Allah Swt:

ولا تبطلوا أعمالكم

Dan janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian.

Namun, jika memutus puasa sunah disebabkan adanya uzur, seperti membantu tamu menyantap makanan, atau sedang bertamu ke rumah orang, maka tidak makruh memutus puasa sunahnya.

Hal ini berdasarkan hadis Nabi Saw. “Orang yang berpuasa sunnah itu memimpin dirinya sendiri, jika ia menghendaki maka ia berpuasa, dan jika ia menghendaki maka ia berbuka.” (HR. Alhakim). Wa Allahu A’lam bis Shawab.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here