Hukum Membasuh Kotoran Mata Sebelum Berwudhu

1
354

BincangSyariah.Com – Ketika bangun tidur, salah satu hal yang biasa kita lakukan adalah pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sebagainya. Lebih-lebih ketika bangun tidur saat shubuh, meski sebagian masih dalam keadaan mengantuk, kita harus tetap mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat shubuh.

Masalahnya, biasanya ketika wudhu tanpa disadari terdapat kotoran di mata kita. Lalu apa hukum membasuh kotoran mata sebelum berwudhu ? Bagaimana penjelasan Ulama fikih dalam menanggapi hal ini ?

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari dalam Fathul Mu’in menerangkan bahwa salah satu kesunahan wudhu adalah memperhatikan dan membersihkan kotoran mata (arab: muuq) sebelum wudhu. Kesunahan ini berlaku apabila memang diketahui bahwa kotoran yang ada di matanya itu tidak ada. Berikut teks kitab dalam Fath al-Mu’in,

وَتَعَهُّدُ – عًقِبٍ وَ (مُوْقٍ) وَهُوَ طَرْفُ الْعَيْنِ الّذِيْ يَلِيْ الْاَنْفَ

(termasuk diantara kesunahan wudhu’) memperhatikan tumit dan saluran air mata. Yang dimaksud dengan muq adalah bagian dalam mata sesuatu yang mengiringi kepada hidung.

Tak cukup disitu, Syekh Zainuddin ini juga meneruskan keterangan tersebut dengan kesunahan membasuh ujung mata yang satunya. Berikut redaksinya,

وَلِحَاظٍ وَهُوَ الطّرْفُ الاْخَرُ بِسَبَابَتَيْ شَقَيْهِمَا

dan Bagian ekor mata, yaitu ujung mata lain (ekor mata) yang menghilangkannya dengan jari telunjuk pada keduanya, bagian dalam dan ekor mata (muuq wa lihaazh)

Akan tetapi, dijelaskan lebih lanjut bahwasanya letak kesunahan membasuh keduanya apabila tidak ada kotoran yang dapat menghalangi sampainya air wudhu’ pada dua bagian tersebut. Apabila ada, maka hukum membasuh keduanya adalah wajib.

وَمَحَلُّ نَدْبِهِمَا تَعَهُّدُهُمَا اِذَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِمَا رَمْصٌ يَمْنَعُ وُصُوْلَ الْمَاءِ اِلَى مَحَلِّهِ وَاِلاَّ فَتَعَهُّدُهُمَا وَاجِبٌ كَما فِيْ الْمَجْمُوْعِ

Baca Juga :  Dalil Tayamum Sebagai Pengganti Bersuci dari Wudhu dan Mandi Wajib

Letak kesunahan membasuh keduanya adalah apabila tidak ada kotoran yang mencegah sampainya air wudhu’. Tapi, bila terdapat kotoran yang dapat menghalangi sampainya air wudhu’, maka hukum membasuh keduanya adalah wajib sebagaimana diterangkan dalam kitab Majmu’.

Syekh Abu Bakr Utsman bin Syattha Ad–Dimyathi, pengarang kitab I’anutut Thalibin syarh kitab fathul mu’in menjelaskan bahwasanya redaksi diatas tidak hanya berlaku pada kotoran mata, akan tetapi setiap sesuatu yang menghalangi sampainya air wudhu’ itu dapat disamakan dengan kotoran mata. Contohnya adalah celak.

وَمِثْلُ الرَّمِصِ الْكَحْلُ مِنْ كٌلِّ مَا لَهُ جِرِمٌ

Dan semisal dari kotoran mata adalah celak dari tiap–tiap sesuatu yang ada bentuknya.

Dan yang menjadi catatan dalam pembahasan ini adalah hukumnya tidak sunah membasuh bagian dalam matanya. Bahkan, sebagian Ulama’ berkata hukumnya makruh karena ada darurat. Hanya saja, bagian matanya dibasuh apabila terdapat najis mugholladzhoh.

Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa membersihkan kotoran mata itu hukumnya sunah apabila tidak ada kotoran mata sebagai langkah hati – hati (ihtiyaathan). Apabila memang ada kotoran maka hukumnya wajib dibasuh karena hal tersebut termasuk sesuatu yang mengahlangi sampainya air wudhu’ pada wajah atau muka. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here