Hukum Membaca Shalawat Setelah Adzan dengan Suara Keras

2
2656

BincangSyariah.Com – Ketika adzan selesai dikumandangkan, baik muadzin maupun orang yang mendengar dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi dan mendoakan beliau. Di sebagian masjid, terdapat sebagian muadzin yang membaca shalawat dan doa dengan suara keras dengan menggunakan pengeras suara. Bagaimana hukum membaca shalawat setelah adzan dengan suara keras tersebut? (Baca: Hukum Membaca Salawat Sebelum Adzan)

Ada dua hal yang harus kita lakukan ketika mendengar adzan berkumandang, yaitu pertama memperhatikan dan menjawab kalimat adzan sesuai yang dikumandangkan muadzin, dan kedua membaca shalawat dan mendoakan wasilah kepada Nabi Saw setelah adzan selesai dikumandangkan.

Hal ini sebagaimana hadis riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Umar, dia mendengar Nabi Saw. bersabda;

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا الله لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ الله وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Jika kalian mendengar muazin, maka jawablah seperti apa yang ia katakan, kemudian bershalawatlah untukku, karena barangsiapa yang bershalawat untukku, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintakanlah kepada Allah untukku alwasilah, karena ia adalah satu kedudukan di surga yang tidak pantas diperoleh kecuali untuk seorang hamba Allah; dan aku berharap, (bahwa) akulah hamba Allah itu. Barangsiapa yang memohonkan untukku alwasilah, maka akan mendapat syafaatku.

Adapun mengenai membaca shalawat dan doa dengan suara keras, seperti halnya muadzin membaca menggunakan pengeras suara, maka hal itu diperbolehkan oleh ulama. Menurut para ulama, membaca shalawat setelah adzan dengan suara pelan maupun suara keras sama-sama boleh. Bahkan jika hendak mengingatkan orang lain agar membaca shalawat, maka membaca dengan suara keras termasuk perbuatan yang dianjurkan dan baik.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Al-Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah berikut;

فإذا رفع المؤذن صوته بالصلاة بتذكير الناس بهذا الحديث، ليصلوا على النبي صلى الله عليه وسلم كان حسناً

Baca Juga :  Memasuki Awal Bulan Maulid, Habib Umar bin Hafidz Ijazahkan Shalawat Ini

Jika muadzin mengeraskan suaranya saat membaca shalawat dengan tujuan mengingatkan orang lain agar mereka membaca shalawat kepada Nabi Saw, maka hal itu merupakan perbuatan baik.

2 KOMENTAR

  1. Bagaimana jika hal itu mengganggu ketenangan orang di sekelilingnya?yg terjadi di daerahku. Gara2 bunyi speker berdzikirpun tidak husuk. Apalagi banyak orang sakit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here