Hukum Membaca Shalawat dan Radhiyallahu Anhu Diantara Shalat Tarawih?

0
3200

BincangSyariah.Com – Apa hukum membaca shalawat dan radhiyallahu anhu/taraddhi (radhiyallahu ‘anhu) ketika selesai salama salat tarawih? Sebelum kita melangkah kepada rincian hukum membaca salawat dan membaca radhiyallahu ‘anhu khulafaurrsyadin di sela-sela salat tarawih, baiknya kita mengetahui hukum memisah dua salat dengan berpindah tempat atau berbicara.

Hukum memisah dua salat dengan berpindah tempat dan berbicara adalah sunnah. Sebagaimana Al-Khatib asy-Syirbiny menjelaskan dalam kitab Mughni al-Muhtaj (j. 1 h. 183),

وَيُسَنُّ (أَنْ يَنْتَقِلَ لِلنَّفْلِ) أَوِ الْفَرْضِ (مِنْ مَوْضِعِ فَرْضِهِ) أَوْ نَفْلِهِ لِتَكْثِيْرِ مَوَاضِعِ السُّجُود فَإِنَّهَا تَشْهَدُ لَهُ.قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ فَإِنْ لَمْ يَنْتَقِلْ فَلْيُفْصِلْ بِكَلَامِ إِنْسَانٍ.

Disunnahkan berpindah dari tempat ia melaksanakan salat fardu ataupun sunnah ke tempat yang lain untuk melaksanakan salat sunnah atau fardhu, supaya memperbanyak tempat-tempat ia sujud, sesungguhnya itu akan menjadi saksi baginya. Imam Nawawi mengatakan dalam Majmu’: Apabila ia tidak pindah, maka hendaknya memisah dengan ucapan manusia.

Dalil praktik ini bersandar pada hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan imam Muslim dalam kitab Shahih-nya bahwasanya Mu’awiyah radhiyaLlahu ‘anhu berkata,

إذَا صَلَّيْتَ الْجُمْعَةَ فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ حَتَّى تُكَلِمَ أَوْ تَخْرُجَ فَإِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذَلكَ، أَنْ لَاتُوْصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ

Apabila engkau selesai salat Jumat, maka jangan engkau sambung dengan salat lain sampai engkau berbicara atau keluar, sesungguhnya Rasulullah Saw telah memerintahkan kami dengan itu, supaya tidak menyambung salat hingga kita berbicara ataupun keluar. (H.R. Muslim)

Kalimat shalat disana umum, tidak terikat apakah ia salat wajib atau tidak, intinya sunnah untuk memisahnya.

Penjelasan ini menjadi akar disunnahkannya membaca salawat Nabi dan membaca radhiyallahu ‘anhu di setiap sehabis salam saat tarawih. Mengapa tidak berpindah tempat saat salat tarawih? Bayangkan saja jika masing-masing orang harus berpindah tempat, proses salat tarawih tentunya akan menyulitkan.

Baca Juga :  Ini Alasan Mazhab Syafii Tak Bolehkan Tarawih Empat Rakaat Sekali Salam

Adapun hukum membaca salawat di setiap dua rakaat tarawih, dijelaskan oleh Dr. Zainuddin bin Muhammad al-Aydarus dalam kitab Ittihaf al-Anam bi Ahkam ash-Shiyam (h. 197) menjelaskan,

وَأَمَّا الصّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ  رَكَعَاتِ التَّرَاوِيْحِ الْمُعْتَادَّةُ فِي بَعْض الْبُلْدَانِ فَهِيَ مِنْ جُمْلَةِ الْأَذْكَارِ الْمُتَقَدِّمَةِ وَهِيَ حَسَنَةٌ وَمَطْلُوْبَةٌ وَمَرْغُوْبٌ فِيهَا عَلَى الدَّوَامِ، فَغَالِبًا مَا يُصَلِّي عَلَى النَّبِي ثُمَّ يُعَقِّبُها دُعَاءٌ، وَيَخْتَمُ بِهَا أَيْضًا مَعَ الثَّنَاءِ عَلَى اللهِ تَعَالَى، وَهَذَا ثَابِتٌ مُجْتَمَعٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ مِنْ أَسْبَابِ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ.

Adapun salawat kepada Nabi Saw diantara beberapa rakaat tarawih yang sudah biasa dilakukan di beberapa negara, yaitu kalimat zikir permulaan, adalah baik, dianjurkan dan disunnahkan secara kontinyu, pada biasanya membaca salawat kemudian diikuti dengan doa, dan ditutup pula dengan salawat serta pujian kepada Allah Swt, dan tradisi ini tetap dan telah disepakati, dan ia adalah sebab-sebab diistijabahnya doa.

Kemudian, dalam kitab al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubrâ karya Ibn Hajar al-Haitami (al-Maktabah al-Islamiyyah, j. 1 h. 186) ada tanya jawab mengenai hukum membaca salawat di setiap sesudah salam salat tarawih.

(وَسُئِلَ) فَسَّحَ اللَّهُ فِي مُدَّتِهِ هَلْ تُسَنُّ الصَّلَاةُ عَلَيْهِصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَبَيْنَ  تَسْلِيمَاتِ التَّرَاوِيحِ أَوْ هِيَ بِدْعَةٌ يُنْهَى عَنْهَا؟

Imam Ibnu Hajar al-Haitami –semoga Allah melapangkannya- apakah salawat kepada Nabi Saw di antara salam salat tarawih disunnahkan, atau ia bid’ah yang dilarang

(فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ الصَّلَاةُ فِي هَذَا الْمَحَلِّ بِخُصُوصِهِ. لَمْ نَرَ شَيْئًا فِي السُّنَّةِ وَلَا فِي كَلَامِ أَصْحَابِنَا فَهِيَ بِدْعَةٌ يُنْهَى عَنْهَا مَنْ يَأْتِي بِهَا بِقَصْدِ كَوْنِهَا سُنَّةً فِي هَذَا الْمَحَلِّ بِخُصُوصِهِ دُونَ مَنْ يَأْتِي بِهَا لَا بِهَذَا الْقَصْدِ كَأَنْ يَقْصدَ أَنَّهَا فِي كُلِّ وَقْتٍ سُنَّةٌ مِنْ حَيْثُ الْعُمُومُ بَلْ جَاءَ فِي أَحَادِيثَ مَا يُؤَيِّدُ الْخُصُوصَ إلَّا أَنَّهُ غَيْرُ كَافٍ فِي الدَّلَالَةِ لِذَلِكَ.

Imam Ibnu Hajar menjawab, salawat dalam keadaan ini dengan kehususannya tidak ada dalilnya dalam sunnah, juga tidak pada perkataan sahabat kami (ulama), maka itu adalah bid’ah yang dilarang bagi orang  yang melaksanakannya dan menganggap hal itu adalah sunnah, dan tidak termasuk bid’ah yang terlarang, orang yang melaksanakannya bukan karena tujuan ini, seperti menganggap bahwa salawat itu disunnahkan di setiap waktu dari segi keumumannya, akan tetapi ada beberapa hadis yang menguatkan kekhususan salawat, dengan catatan tidak cukup menjadikannya dalil.

Kemudian imam Ibnu Hajar menerangkan:

Baca Juga :  Bolehkah Salat Tarawih dengan Cepat?

وَمِمَّا يَشْهَدُ لِلصَّلَاةِ عَلَيْهِصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَبَيْنَ تَسْلِيمَاتِ التَّرَاوِيحِ أَنَّهُ يُسَنُّ الدُّعَاءُ عَقِبَ السَّلَامِ مِنْ الصَّلَاةِ وَقَدْ تَقَرَّرَ أَنَّ الدَّاعِيَ يُسَنُّ لَهُ الصَّلَاةُ أَوَّلَ الدُّعَاءِ وَأَوْسَطَهُ وَآخِرَهُ وَهَذَا مِمَّا أَجْمَعَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

Salah satu dalil yang mendukung membaca salawat di antara rakaat-rakaat salat tarawih, yaitu disunnahkan membaca doa setelah salam, dan sudah ditetapkan bahwa orang yang berdoa disunnahkan membaca salawat, di awal, di tengah, dan di akhir doa. 

Dari keterangan diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa membaca salawat di antara dua rakaat tarawih adalah sunnah sesuai dengan kadar niatnya.

Kemudian bagaimana hukum membaca radhiyallahu anhu (radhiyallaahu ‘anhu) untuk Khulafaurrasyidin saat tarawih?

Dr. Zainuddin bin Muhammad al-Aydarus dalam kitab Ittihaf al-Anam bi Ahkam ash-Shiyam mengutip dari kitab Fatawa Ramadhan (h. 201) karya ٍٍSayyid ‘Abdullah bin Mahfudz al-Haddad, sebagai berikut,

وَهُوَ فِعْلٌ حَسَنٌ وَلَيْسَ بِدْعَةً ضَلَالَةً وَلَا أَنَّهُ سُنَّةٌ، فَمَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ أَحْسَنَ، وَمَنْ تَرَكَهُ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ، وَالتَّرَضِّي عَنِ الصَّحَابَةِ دُعَاءٌ يُثَابُ عَلَيْهِ.

membaca radhiyaLlahu ‘anhu adalah perbuatan yang bagus, bukan bid’ah yang sesat, dan bukan pula sunnah. Siapa yang mengerjakannya maka ia telah berbuat baik, siapa yang meninggalkannya maka tak ada dosa baginya, dan membaca radhiyaLlahu ‘anhu untuk sahabat Nabi adalah doa yang diberikan pahala.

Kesimpulannya, membaca salawat dan membaca radhiyaLlahu ‘anhu di setiap sehabis salam saat tarawih sunnah mengingat hadis nabi yang menganjurkan untuk memisah salat sunnah dengan berpindah atau berbicara. Hakikatnya, membaca salawat dan radhiyaLlahu ‘anhu adalah doa.

Demikianlah penjelasan hukum membaca salawat dan radhiyallahu anhu di setiap sehabis salam saat tarawih. Semoga doa yang kita panjatkan kepada Allah Swt dikabulkan dengan membaca salawat, begitu pula semoga mendapat barokah dari para sahabat Nabi Saw. Amiin

Baca Juga :  Hukum Melaksanakan Shalat Witir Setelah Imsak

Tulisan ini telah dimuat dan diedit ulang dari NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here