Hukum Membaca Doa Qunut saat Shalat Subuh

20
89471

BincangSyariah.Com –  Sudah menjadi kebiasaan bagi mayoritas muslim Indonesia ketika itidal pada rakaat kedua salat subuh untuk membaca doa yang lazim disebut dengan doa qunut. Doa yang secara redaksional mengandung makna permintaan seorang hamba agar senantiasa diberikan petunjuk, keberkahan, dan segala macam bentuk kebaikan dari Tuhannya yang Maha Pemberi.

Namun sayangnya keindahan doa tersebut tidak ada artinya oleh segolongan orang dari umat ini yang mengklaim bahwa praktek seperti itu tidak pernah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Saw. Bahkan sebagian dari mereka sampai melarang umat Islam lainnya untuk bermakmum kepada imam yang membiasakan doa qunut karena dianggap sebagai pelaku bidah yang harus dijauhi.

Tulisan pendek ini tidak bermaksud untuk mengkritisi balik apa yang mereka sampaikan, tapi lebih kepada upaya klarifikasi terhadap apa yang mereka tuduhkan dengan tujuan agar umat Islam yang mengamalkan tidak waswas ketika melakukannya dan bagi mereka yang belum mengetahuinya dapat bertambah wawasannya. Untuk itu penulis akan memulainya dengan memaparkan berbagai pendapat dari ulama mazhab terkait dengan hukum membaca doa qunut tersebut, karena sejatinya persoalan ini adalah masuk dalam ranah khilafiah ulama, bukan perkara bidah seperti yang digembar-gemborkan oleh mereka yang belum mengetahuinya.

Imam Ibnu Rusyd, seorang ulama bermazhab Maliki, melalui karyanya yang terkenal Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid menyebutkan bahwa para ulama mazhab berbeda pendapat dalam menghukumi doa qunut. Menurut Imam Malik dan Imam Syafii, qunut pada salat subuh hukumnya adalah mustahab (sunah) saja. Sementara itu menurut Imam Abu Hanifah membaca qunut pada salat subuh hukumnya adalah tidak boleh.

Qunut menurut beliau hanya dibolehkan pada salat witir saja. Akan tetapi segolongan ulama lainnya ada yang membolehkan qunut pada tiap-tiap salat, tidak hanya pada salat subuh saja. Dan sebagian yang lain mengkhususkannya hanya pada separoh kedua pada bulan Ramadan saja.

Baca Juga :  Doa Manjur Agar Anak Konsisten Salat

Tulisan ini hanya akan menjelaskan dalil bagi mereka yang mengamalkan saja karena, seperti yang sudah penulis sebutkan di atas, mayoritas umat Islam Indonesia bermazhab Syafii dan berkeyakinan bahwa membaca doa qunut pada salat subuh sebagai sebuah kesunahan. Persoalan ini sejatinya sudah dijelaskan hampir di semua kitab-kitab yang beraliran mazhab Syafi’i seperti misalnya dalam kitab al-Umm karya Imam Syafii sendiri, al-Aziz syarh al-Wajiz karya Imam al-Rafi’i, al-Majmu Syarah al-Muhadzzab karya Imam Nawawi, Ianah al-Thalibin karya Syekh Sayyid Bakri Syatha, kitab Nihayah al-Zain karya Syekh Nawawi al-Bantani dan lain-lain.

Imam Syafi’i dalam Al-Umm menuturkan bahwa tidak ada qunut pada salat lima waktu melainkan hanya pada salat subuh saja, kecuali jika terjadi bencana, maka membaca doa qunut diperbolehkan pada semua salat jika imam menghendakinya. Qunut seperti ini disebut juga dengan qunut nazilah yang juga berlaku dalam mazhab-mazhab lainnya. Begitu juga dengan Imam Nawawi dalam Al-Majmu menyatakan bahwa dalam Mazhab Syafii disunahkan qunut pada salat subuh, baik ketika turun bencana ataupun tidak. Pendapat ini juga dinisbatkan kepada beberapa ulama salaf dari kalangan sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Barra bin Azib dan masih banyak yang lain.

Imam Nawawi juga menegaskan bahwa pendapat tersebut berdasarkan riwayat dari Imam al-Baihaqi dengan sanad-sanad yang terpercaya serta dapat dipertanggungjawabkan. Begitu juga dari golongan tabi’in dan para ulama sesudah mereka juga berpendapat demikian seperti misalnya Ibnu Abi Laila, Hasan bin Shalih, Imam Malik dan Imam Daud al-Zhohiri. Semuanya sepakat menyatakan bahwa membaca doa qunut hukumnya hanya sunat saja.

Tentu saja pendapat mereka tersebut tidak didasarkan kepada asumsi semata, namun kepada dalil-dalil yang bersumber dari hadis-hadis Nabi yang sahih. Di antara dalil yang mereka gunakan adalah sebuah hadis riwayat Imam al-Baihaqi yang bersumber dari Anas ibn Malik sebagai berikut :

Baca Juga :  Tiga Ibadah yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Punya Hadas Kecil

ثنا عبيد الله بن موسى أنبأ أبو جعفر الرازي عن الربيع بن أنس عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم قنت شهرا يدعو عليهم ثم تركه، فاما في الصبح فلم يزل يقنت حتى فارق الدنيا.

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Abu Ja’far al-Razi, dari Rabi ibn Anas dari Anas bahwasanya Nabi Saw berqunut selama satu bulan penuh sembari mendoakan keburukan untuk mereka (suku Arab dari Bani Sulaim dari klan Riil, Dzakwan, Ushayyah, dan Bani Lahyan), kemudian beliau meninggalkannya (doa keburukan untuk suku Arab tersebut). Adapun qunut pada salat Subuh tidak beliau tinggalkan hingga beliau meninggal dunia. (H.R. Al-Baihaqi).

Hadis dengan redaksi yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Abu Daud, Nasai, Ahmad bin Hambal, Ibnu Hibban, dan al-Daraquthni dalam kitab-kitab mereka sebagaimana berikut :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ.

Artinya : Muhammad bin Mutsanna telah menceritakan kepada kami, ia memperoleh dari Abdurrahman, dari Hisyam, dari Qatadah, dari Anas bahwasanya Rasulullah Saw telah berqunut selama satu bulan penuh memintakan doa keburukan untuk sebuah suku arab Badui, kemudian beliau meninggalkannya (doa keburukan untuk suku Badui tersebut bukan meninggalkan qunut).

Meskipun hadis yang kedua terlihat lebih umum, namun pemahamannya dikhususkan oleh hadis yang pertama, yaitu hal yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam hadis tersebut hanyalah doa keburukan saja, bukan meninggalkan doa qunut sama sekali. Doa tersebut sengaja beliau bacakan sebagai bentuk kemurkaan beliau terhadap pengkhianatan dan pembantaian yang dilakukan oleh beberapa suku Arab dari kalangan Bani Sulaim seperti dari klan Riil, Dzakwan, Ushayyah, dan Bani Lahyan terhadap 70 orang kaum Anshar yang ditugaskan Nabi untuk membantu mereka. Akhirnya setelah sebulan berdoa, beliau pun menghentikannya.

Baca Juga :  Empat Hal yang Perlu Diperhatikan Muazin

Di sinilah pentingnya pengetahuan terhadap sabab wurud (penyebab kemunculan) sebuah hadis, karena dengan mengetahuinya kita bisa mengaitkan sebuah kejadian dengan kejadian yang lain, sehingga masing-masing bisa saling menjelaskan. Begitu juga, di sini juga berlaku salah satu kaedah umum dalam Ilmu Thuruq Fahm al-Hadits (Ilmu Metodologi Pemahaman Hadis) bahwa sebuah hadis berpotensi menjelaskan makna hadis lainnya sebagaimana halnya sebuah ayat Alquran terkadang juga ditafsirkan oleh ayat lainnya. Pemahaman seperti ini dijelaskan secara panjang lebar oleh Imam Nawawi dalam kitab Majmu. Berikut kutipannya :

“Adapun jawaban terhadap hadis Anas ibn Malik dan Abi Hurairah dalam menerangkan perkataan Nabi kemudian beliau meninggalkannya adalah bahwa yang dimaksud menghentikan doa keburukan dan kutukan terhadap orang-orang kafir tersebut (Bani Sulaim dari klan yang telah disebutkan), bukan meninggalkan doa qunut sama sekali. Atau bisa juga dipahami bahwa beliau meninggalkan qunut pada selain salat subuh. Pemahaman seperti ini harus diunggulkan karena hadis Anas dalam ucapannya senantiasa nabi berqunut dalam salat subuh hingga beliau meninggal dunia adalah shahih lagi jelas, maka wajiblah mengkompromikan keduanya”. (Lihat Al-Majmu Syarah al-Muhazzab, jilid 3, hal 505).

Allahu Alam

20 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum wr.wb .
    Tolong bntu saya.saat ini saya merasa bnyk berbuat dosa dimasa lalu..hal yg sngt saya lkkn prtama kmi..mnta mf kpda slluh keluarga saya..tapi hri saya mrsa belum siap/ntah bgaemna. ….ap yg hrus saya lkkun…terima kasih

  2. Mohon pencerahan apakah zakat fitrah harus diberikan kpd orang yg sholat saja ? Bagi umat islam meskipun termasuk 8 gol bl tdk sholat tdk boleh diberi zakat?

  3. Saya rasa ada kekeliruan di hadist yg anda buat, anda menambahkan kalimat “tidak meninggalkan qunut saat subuh sampai ia meninggal”

  4. Saya rasa ada kekeliruan di hadist yg anda buat, anda menambahkan kalimat “tidak meninggalkan qunut saat subuh sampai ia meninggal”

  5. Ssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Mengapa penulisan sholawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam harus anda singkat..?? bukankah penulisannya harus ditulis jelas, shallallahu ‘alaihi wa sallam atau ‘alaihis shalatu was salam.

  6. lah doa qunut bukan bagian rukun shalat so tidak ada keharusan sujud sahwi, riwayat nya sudah jelas, setatus nya hanya perkara sunat saja..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here