Hukum Membaca Doa Iftitah

1
13383

BincangSyariah.Com – Setelah mengucapkan takbiratul ihram sebagai tanda mulai masuk melaksanakan shalat, seseorang akan membaca doa iftitah sebelum membaca surah Al-Fatihah. Lalu bagaimana hukum membaca doa iftitah?

Hukum membaca doa iftitah adalah sunah. Hal ini telah banyak diterangkan dalam kitab-kitab fiqih klasik seperti Taqrib maupun kitab fiqih kontemporer seperti Al-Fiqh Al-Manhaji Ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafii.

Adapun iftitah sendiri artinya adalah pembukaan, dari kata fataha yang artinya membuka. Disebut demikian karena doa ini sebagai pembuka shalat setelah melaksanakan takbir. Di dalam literatur fiqih, istilah doa iftitah sering dikatakan sebagai doa tawajjuh. Istilah tersebut diambil dari kata “Inni wajjahtu wajhiya” sungguh aku menghadapkan wajahku, maksudnya adalah ia benar-benar bermaksud akan melaksanakan ibadah.

Adapun dalil kesunnahan melaksanakan doa iftitah adalah hadits sebagai berikut.

عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ قَالَ « وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. رواه مسلم

Dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah saw., bahwasannya ketika melaksanakan shalat beliau mengucapkan doa “Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardla hanifan wa ma ana minal musyrikin, inna shalati wanusuki wa mahyaya wa mamatii lillahi rabbil ‘aalamiin, laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimin.” (HR. Muslim)

Adapun riwayat macam doa iftitah sendiri sangat banyak sekali, namun di Indonesia, setidaknya ada dua macam doa iftitah yang sering diamalkan. Dan keduanya bersumber dari hadis yang shahih.

Doa iftitah versi pertama.

Baca Juga :  Dalil Shalat Lima Waktu dalam Al-Qur'an dan Hadis

كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوَاتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ المُشْرِكِيْنَ اِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Kabiiraw wal hamdulillahi katsiraa wa subhanallahi bukrataw washiila innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardla haniifan muslimaw wa maa ana minal musyrikin, inna shalatii wa nusuki wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin, laa syariikalahu wabidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

Dengan takbir, dan segala puji yang banyak hanya untuk Allah, maha suci Allah di pagi dan sore hari, sungguh aku menghadapkan wajahku (bermaksud untuk ibadah) kepada dzat yang telah menciptakan langit-langit dan bumi, dengan tegak dan pasrah, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik, sungguh shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah hanya untuk Allah Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagiNya dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku adalah termasuk orang-orang yang Islam/pasrah.

Doa iftitah versi kedua.

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ؛ اللَّهُمَّ نقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَلْجِ وَالْبَرَدِ

Allahumma baa’id bainii wa baina khtaayaaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghrib, Allahumma naqqinii minal khataayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadlu minad danas. Allahummaghsil khataayaaya bil maa’i wats tsalji wal barad.

Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, bersihkanlah kesalahan-kesalahanku dengan air, es, dan embun.

Doa iftitah tersebut disunnahkan dibaca baik di dalam shalat Fardu maupun shalat sunnah. baik untuk orang yang shalat sendirian, maupun ketika menjadi imam atau makmum. Dengan syarat tidak dibaca setelah surah Al-Fatihah. Tetapi sebelum surah Al-Fatihah.

Baca Juga :  Dalil Tayamum Sebagai Pengganti Bersuci dari Wudhu dan Mandi Wajib

Demikian hukum membaca doa iftitah. Adapun jika lupa tidak membaca doa iftitah, maka tidak perlu menggantinya dengan sujud sahwi. Hal ini disebabkan karena doa iftitah adalah termasuk dari sunah haiat, bukan sunah ab’ad. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here