Hukum Membaca Ayat-ayat Al-Quran Sebelum Berangkat Mengiringi Jenazah

0
17

BincangSyariah.Com – Di suatu daerah di Indonesia, terdapat sebuah kebiasaan mengiringi jenazah dengan pembacaan ayat-ayat Al-Quran. Biasanya, pembacaan ayat-ayat Al-Quran ini dilantukan sebelum jenazah diberangkatkan ke kuburan. Sebenarnya, bagaimana hukum membaca ayat-ayat Al-Quran sebelum berangkat mengiringi jenazah ke kuburan? (Baca: Mengiringi Jenazah, Lebih Utama di Depan atau di Belakang?)

Dalam Islam, ketika kita berada di dekat jenazah, baik sebelum mengantarkannya ke kuburan atau pada saat mengantarkannya, kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca zikir. Kalimat zikir yang paling utama untuk kita baca adalah kalimat tahlil, yaitu kalimat laa ilaaha illallah. Hal ini karena kalimat tahlil ini pernah dibaca oleh Nabi Saw saat beliau mengantarkan jenazah.

Dalam kitab Nashbur Rayah, Imam Al-Hafidz Al-Zaila’i menyebutkan sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Umar, dia berkata;

لَمْ يَكُنْ يُسْمَعُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ يَمْشِي خَلْفَ الْجِنَازَةِ، إلَّا قَوْلُ: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، مُبْدِيًا، وَرَاجِعًا

Tidak ada kalimat yang didengar dari Rasulullah Saw saat beliau berjalan di belakang jenazah kecuali kalimat La Ilaha Illa Allah, dengan jelas dan diulang-ulang.

Meski yang paling utama adalah membaca tahlil, namun kita boleh juga membaca atau mengganti dengan kalimat zikir yang lain, atau diganti dengan bacaan shalawat dan bacaan ayat-ayat Al-Quran.

Karena itu, membaca ayat-ayat Al-Quran saat hendak mengantarkan jenazah atau pada saat mengantarkannya ke kuburan, hukumnya boleh. Hal ini karena bacaan Al-Quran termasuk bagian syiar dan bacaan penghormatan kepada jenazah, sebagaimana bacaan tahlil dan zikir-zikir lainnya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Tanwirul Qulub berikut;

وَيُسَنُّ الْمَشْيُ اَمَامَهَا وَقُرْبَهَا وَاْلاِسْرَاعُ بِهَا وَالتَّفَكُّرُ فِى الْمَوْتِ وَماَبَعْدَهُ . وَكُرِهَ اللُّغَطُ وَالْحَدِيْثُ فِيْ اُمُوْرِ الدُّنْيَا وَرَفْعِ الصَّوْتِ اِلاَّ بِالْقُرْأَنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلاَتِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلاَ بَأْسَ بِهِ اْلاَنَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ

Baca Juga :  Empat Macam Kewajiban bagi Orang yang Tidak Puasa di Bulan Ramadhan

Disunnahkan untuk berjalan di depan keranda (jenazah) atau di dekatnya sambil berjalan cepat dan berpikir tentang kematian dan sesudahnya. Dan dimakruhkan untuk gaduh, bercakap-cakap tentang urusan dunia, apalagi dengan suara keras, kecuali melantunkan ayat-ayat Al-Quran, membaca zikir, atau shalawat kepada Nabi Saw karena hal ini menambah syi’ar dan penghormatan bagi jenazah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here