Hukum Membaca Alquran dengan Suara Keras

0
709

BincangSyariah.com – Apa dalil membaca Alquran dengan suara keras ? Menurut Imam al-Nawawi dalam al-Tibyan fi Adaab Hamalati al-Qur’an, di saat yang sama ada banyak hadis-hadis tentang kesunahan membaca Alquran dengan suara keras dan suara pelan.

Menurut Imam al-Ghazali, cara mengkompromikan antara hadis-hadis dan atsar yang bersilang makna tersebu adalah, pertama bahwa memelankan membaca Alquran itu lebih utama. Kalau yang melakukannya merasa takut terkena sifat riya’ (ingin dipuji). Tapi, kalau tidak takut terkena sifat ingin dipuji, mengeraskan suara justru lebih utama. Karena membaca Alquran dengan suara keras memberikan manfaat kepada orang lain, diantara pada yang mendengarnya. Faidah lainnya adalah bacaan Alquran dapat menggugah hati, membuat pendengaran menjadi peka memperhatikan, mendorong untuk memikirkan maknanya, bahkan bisa membuat orang yang lupa dan tertidur menjadi tersadar.

Selama tujuan-tujuannya seperti faidah diatas, maka membaca Alquran dengan suara keras lebih utama. Dan pahala yang diganjarkan menjadi berlipat ganda.

Diantaranya hadis-hadis yang menjadi dalil disunahkan membaca Alquran dengan keras, adalah riwayat Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari

عن أبي موسى قال النبي صلى الله عليه وسلم إني لأعرف أصوات رفقة الأشعريين بالقرآن حين يدخلون بالليل وأعرف منازلهم من أصواتهم بالقرآن بالليل وإن كنت لم أر منازلهم حين نزلوا بالنهار ومنهم حكيم إذا لقي الخيل أو قال العدو قال لهم إن أصحابي يأمرونكم أن تنظروهم

Dari Abi Musa Ra., Nabi Saw. bersabda: Sungguh saya mengetahui (kualitas) suara mereka yang berasal dari marga “Asy’ari”, ketika mereka berada di waktu malam. Saya mengetahui kualitas mereka lewat suaranya saat membaca Alquran di waktu malam. Dan jika saya tidak melihat rumah-rumah mereka di waktu malam, dapat dilihat di waktu siang. Ada seorang bijak dari mereka, ketika bertemu pasukan kuda atau (mungkin) musuh, ia (tidak lari dan) berkata, “para sahabatku memerintahkan kalian untuk menunggu mereka”

Atau hadis lain yang lebih to the point pernyataannya, diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Nasa’I dan lainnya dari al-Bara’ bin ‘Azib,

Baca Juga :  Adab-Adab Bershalawat pada Nabi Saw

زينوا القرآن بأصواتكم

“Hiasilah Alquran dengan suara-suaramu (yang indah).

Sementara, hadis yang menjadi dalil kesunahan membaca Alquran dengan suara pelan adalah hadis hasan riwayat al-Tirmidzi dan Abu Dawud, dari ‘Uqbah bin Amir

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصدقة، والمسرّ بالقرآن كالمسرِّ بالصدقة

Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda : “orang yang mengeraskan suara membaca Alquran seperti orang yang terang-terangan bersedekah. Dan orang yang memelankan suaranya seperti orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.”

Terakhir, Imam al-Nawawi dalam al-Tibyan menyimpulkan bahwa baik bersuara keras maupun pelan membaca Alquran itu tergantung kondisi masing-masing pembacanya. Jika jahr/bersuara keras menyebabkan ia melakukan yang tidak direstui agama, sebaiknya tidak bersuara keras. Tapi jika tidak ada masalah, disunahkan untuk jahr. Apalagi membacanya dalam kondisi berjamaah, disunahkan untuk bersuara keras. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here