Hukum Membaca Al-Fatihah Bagi Makmum saat Shalat Berjamaah

0
2632

BincangSyariah.Com – Sebagaimana yang dimaklumi bahwa membaca al-Fatihah merupakan salah satu rukun dari beberapa rukun shalat. Artinya jika seseorang tidak membacanya atau membacanya tapi tidak sempurna sesuai dengan jumlah ayatnya, maka shalat yang dilaksanakan bisa saja dianggap batal atau tidak sah.

Lantas bagaimana seandainya ketidaksempurnaan bacaan al-Fatihah itu terjadi ketika seseorang menjadi makmum dalam shalat jamaah? Misalnya imam sudah ruku, namun makmum belum juga selesai membaca al-Fatihah, wajibkah sang makmum tersebut menyelesaikannya atau langsung saja ruku mengikuti imam? Mari kita bahas!

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus membedakan terlebih dahulu antara makmum muwafiq dengan makmum masbuq. Makmum muwafiq adalah makmum yang mendapati imam dalam keadaan berdiri dan dia mempunyai cukup waktu untuk membaca al-Fatihah di dalam kondisi tersebut.

Sementara makmum masbuq adalah makmum yang mendapati imam sedang berdiri, namun ia tidak mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya bersama imam. Masing-masing dari keduanya mempunyai hukum yang berbeda dalam kaitan wajib atau tidaknya mereka menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya.

Mayoritas ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa bagi makmum masbuq tidak berkewajiban untuk menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya bersama imam, karena bacaan al-Fatihahnya sudah ditanggung oleh imam sebagai bentuk keringanan untuk yang bersangkutan.

Sementara itu, bagi makmum yang muwafiq, berkewajiban untuk menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya meskipun hal itu akan menyebabkan ia ketinggalan dari sang imam untuk beberapa rukun (selama tidak lebih dari 3 rukun panjang, yaitu ruku, sujud pertama dan yang kedua). Hal ini dipandang sebagai salah satu uzur/halangan yang membolehkan makmum untuk berbeda gerakan dengan imam dalam beberapa gerakan shalat.

Sehingga dengan demikian, harus bagi seorang makmum muwafiq untuk menyelesaikan bacaan al-Fatihahnya sekalipun imamnya sudah menjelang sujud yang kedua. Namun jika sang imam sudah sujud kedua, sementara al-Fatihah makmum belum juga selesai maka makmum boleh memilih salah satu dari dua pilihan berikut:

Baca Juga :  Tradisi Tahlil, Antara Ibadah Dan Taqlid Buta

Pertama, dia meniatkan untuk mufaraqah (berpisah) dari shalat imam dan meneruskan shalatnya secara sendirian. Kedua, mengikuti gerakan imam yang sedang sujud kedua itu dengan meninggalkan bacaan al-Fatihahnya yang belum selesai. Lalu kekurangan rakaat itu nanti dia ganti setelah imam mengucapkan salam yang kedua.

Seandainya sang makmum tersebut terus melanjutkan bacaan al-Fatihahnya dan imam sudah bangkit dari sujud yang kedua, sementara ia tidak berniat untuk memisahkan diri dari shalat imam, maka shalatnya menjadi batal karena dengan sengaja melakukan gerakan yang berbeda dengan gerakan imam padahal ia masih dalam niat berjamaah.

Begitu juga jika makmum muwafiq tidak menyelesaikan al-Fatihahnya, pahadal dia berkewajiban untuk menyelesaikannya, maka shalatnya bisa saja dianggap tidak sah karena salah satu dari rukunnya ada yang tertinggal, yaitu membaca surah al-Fatihah secara lengkap dari awal sampai akhir surah.

Hal ini dijelaskan dalam banyak referensi dalam kitab-kitab yang berhaluan Fikih Syafi’i, seperti misalnya dalam Tuhfah al-Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haitami, Ghayah al-Bayan Syarh Zubad Ibn Ruslan karya Imam al-Ramli, Fath al-Mu’in karya Zainuddin al-Malibari serta syarahnya I’anah al-Thalibin karya Sayyid Muhammad Syatha, Nihayah al-Zain karya Syekh Nawawi al-Bantani, al-Taqrirat al-Sadidah fi al-Masail al-Mufidah karya Habib Zain ibn Ibrahim ibn Zain ibn Sumaith, dan masih banyak yang lain. Bagi teman-teman pembaca yang berkeinginan mengetahui perihalnya lebih lanjut, bisa membaca kitab-kitab tersebut.

Ada memang pendapat yang menyebutkan bahwa cukup bagi makmum muwafiq yang ketinggalan bacaan al-Fatihah tadi untuk langsung mengikuti gerakan imam dan meninggalkan bacaan al-Fatihahnya yang tersisa. Pendapat ini pernah ditukilkan oleh segolongan ulama Khurasan dan juga Imam al-Rafi’i sebagaimana yang disebutkan oleh Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’-nya.

Baca Juga :  Sengaja Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan, Apakah Termasuk Dosa Besar?

Namun Imam al-Nawawi menguatkan pendapat Imam al-Baghawi dan mayoritas ulama lainnya yang menyebutkan bahwa kewajiban sang makmum yang seperti ini adalah menyempurnakan al-Fatihahnya terlebih dahulu, kemudian baru ruku, sekalipun akibatnya dia ketinggalan beberapa rukun setelahnya. Allahu A’lam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here