Hukum Memakai Minyak Wangi Sebelum Tahallul Kedua

0
13

BincangSyariah.Com – Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa haji memiliki dua tahallul, yaitu tahallul awal dan tahallul tsani atau tahallul kedua. Menurut ulama Syafiiyah dan Hanabilah, tahallul awal sudah dinilai terlaksana jika seseorang telah melakukan dua di antara tiga hal ini, yaitu melempar jumrah aqabah, menyembelih hewan kurban, dan mencukur atau memotong rambut. (Baca: Berapakah Jumlah Minimal Rambut yang Dipotong Ketika Tahallul?)

Jika seseorang telah melakukan tahallul awal, dan hendak melakukan tahallul tsani, maka ada satu larangan yang tetap ia tidak boleh lakukan menurut kesepakatan para ulama, yaitu jimak atau berhubungan badan. Meskipun ia sudah tahallul awal, jika belum melakukan tahallul tsani, ia tetap tidak boleh melakukan jimak.

Adapun memakai minyak wangi, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Menurut kebanyakan ulama Syafiiyah, jika seseorang telah melakukan tahallul awal dan belum melakukan tahallul kedua, maka dia boleh memakai minyak wangi. Sementara menurut sebagian ulama, tetap tidak boleh memakai minyak wangi kecuali telah selesai melakukan tahallul kedua.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

وَيُبَاحُ بِهَذَا التَّحَلُّل لُبْسُ الثِّيَابِ وَكُل شَيْءٍ مَا عَدَا النِّسَاءَ بِالإْجْمَاع وَالطِّيبَ عِنْدَ الْبَعْضِ، وَالصَّيْدَ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ

Dibolehkan dengan tahallul ini (tahallul awal) memakai baju dan melakukan apa saja kecuali melakukan jimak menurut kesepakatan para ulama. Menurut sebagian ulama, juga (dilarang) memakai minyak wangi, dan dilarang juga berburu menurut ulama Malikiyah.

Ulama yang membolehkan memakai minyak wangi setelah tahallul awal dan sebelum tahallul kedua mendasarkan pendapatnya dengan hadis riwayat Imam Ahmad berikut;

وَعَن ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إذَا رَمَيْتُم الْجَمْرَةَ فَقَدْ حَلَّ لَكُمْ كُلُّ شَيْءٍ إلَّا النِّسَاءَ، فَقَالَ رَجُلٌ: وَالطِّيبُ؟ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: أَمَّا أَنَا فَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يُضَمِّخُ رَأْسَهُ بِالْمِسْكِ، أَفَطِيبٌ ذَلِكَ أَمْ لَا

Dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda; Jika kalian telah melempar jumrah, maka kalian halal melakukan apa saja kecuali perempuan (jimak). Seseorang bertanya; Dan halal memakai minyak wangi juga? Ibnu Abbas menjawab; Aku melihat Rasulullah Saw mengolesi rambutnya dengan minyak misik, apakah itu minyak wangi atau tidak?.

Sementara ulama yang tidak membolehkan memakai minyak wangi mendasarkan pendapatnya dengan hadis riwayat Imam Malik, bahwa Sayidina Umar berkata saat beliau khutbah di Arafah sebagai berikut;

إِذَا جِئْتُمْ مِنًى فَمَنْ رَمَى الْجَمْرَةَ فَقَدْ حَل لَهُ مَا حَرُمَ عَلَى الْحَاجِّ إِلاَّ النِّسَاءَ وَالطِّيبَ

Jika kalian mendatangi Mina dan barangsiapa telah melempar jumrah, maka telah halal baginya semua hal yang haram bagi orang yang haji kecuali perempuan dan minyak wangi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here