Hukum Memakai Masker Ketika Haji dan Umrah

1
3110

BincangSyariah.Com – Pada umumnya masker digunakan untuk mengatur pernafasan agar terhidar dari debu. Biasanya digunakan ketika berada di area yang banyak debu atau area yang berasap, seperti dekat area kebakaran hutan, pembakaran sampah, asap knalpot dan lain sebagainya.

Terlepas daripada fungsi masker, Islam telah memberikan peraturan yang berkaitan dengan ihram; bagi perempuan ketika ihram terdapat larangan menutupi wajah dengan penutup apa pun yang disebut dengan satir (penutup). Maksud satir dalam pengertian ihram ini sama saja dengan satir yang ada dalam pengertian shalat dan lain sebagainya, yaitu penutup yang dapat menutupi warna kulit. Termasuk dari satir ini adalah

Larangan menutup wajah bagi perempuan ketika ihram sangat tegas, baik semua maupun sebagaian tetap tidak diizinkan.

Nabi Muhammad Saw bersabda,

وَلاَ تَنْتَقِبِ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقُفَّازَيْنِ

“Wanita ihram tidak boleh memakai cadar dan tidak boleh memakai kaos tangan.” [HR. Bukhari]

Dalam hadits ini Nabi Saw melarang perempuan menggunakan cadar (penutup sebagian) dan melarang perempuan menggunakan kaos tangan. Dalam Ilmu Ushul Fiqih terdapat kaidah “mafhum aulawiyyah” yaitu melebihkan pemahaman, dalam arti ketika menutup sebagian wajah adalah larangan terlebih menutup semuanya pasti akan lebih dilarang. Dari teori ini kita dapat menyimpulkan bahwa larangan dalam hadits ini adalah larangan menutup sebagian wajah dan seluruh wajah. Hal ini dipertegas dengan adanya referensi kitab fath al-qarib;

ويحرم على المحرم عشرة أشياء الخ… وتغطية الوجه أو بعضه من المرأة بما يعد ساترا.

“Terdapat 10 hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang yang sedang ihram, diantaranya adalah menutup seluruh atau sebagian wajah bagi perempuan dengan penutup yang disebut dengan satir.”

Lalu bagaimana hukumnya memakai masker ketika haji dan umrah, bagi wanita yang sedang ihram?

Baca Juga :  Meninggal Saat Berangkat Haji, Perlukah Keluarganya Menghajikan Kembali?

Dalam persoalan ini ada dua jawaban. Imam Syafi’i berpendapat boleh jika terdapat hajat (kebutuhan), tapi wajib membayar fidyah (denda). Sedangkan menurut Imam Ahmad bin Hanbal boleh dan tidak wajib membayar fidyah. Dua pendapat ini bisa digunakan, karean kedua pendapat ini memiliki dasar yang kuat dan tidak saling membetalkan, justru perbedaan pendapat ini menjadi pilihan bagi ummat islam dalam beribadah. Sebab perbedaan pendapat ulama adalah rahmat. Adapun bentuk fidyah dalam permasalahan ini adalah menyembelih kambing kurban, atau puasa tiga hari atau bersedekah tiga shâ‘ pada 6 orang miskin. [Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba’ah juz I hlm. 645]

1 KOMENTAR

  1. […] Kabar tersebut diumumkan oleh Kementerian Dalam Negeri Saudi setelah enam bulan pemberlakuan pembatasan perjalanan akibat pandemi virus corona. Arab Saudi telah menangguhkan umrah sepanjang tahun sejak Maret. Penangguhan tersebut dilakukan lantaran pemerintah khawatir pandemi Covid-19 akan menyebar ke kota-kota Islam yang paling suci. (Baca: Hukum Memakai Masker Ketika Haji dan Umrah) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here