Hukum Memakai Headset Saat Berpuasa

0
43

BincangSyariah.Com – Ketika kita sedang menjalankan ibadah puasa, tak jarang kita mendengarkan murattal Al-Quran, atau musik, dengan menggunakan bantuan headset. Bagaimana hukum memakai headset saat berpuasa? (Baca: Apakah Muntah Membatalkan Puasa?)

Memakai headset ketika kita sedang menjalankan ibadah puasa hukumnya itu boleh. Tidak masalah kita memakai headset selama kita berpuasa. Ini karena meskipun cara penggunaan headset adalah dengan memasukkan bagian speakernya ke telinga, namun hal itu tidak sampai pada telinga bagian dalam yang bisa menyebabkan puasa batal. Selain itu, headset merupakan benda padat yang tidak mungkin juga masuk sampai telinga bagian dalam. (Baca: Hukum Meneteskan Obat Cair di Telinga Saat Berpuasa)

Ini berbeda dengan benda cair, seperti air, obat tetes, dan lainnya. Jika benda cair itu masuk dan melewati rongga telinga hingga masuk ke bagian dalam, menurut kebanyakan para ulama, hal itu membatalkan puasa. Sementara benda padat seperti headset yang hanya kita pakai di bagian luar telinga saja, dan tidak ada kemungkinan masuk sampai ke telinga bagian dalam. (Baca: Apakah Menangis Membatalkan Puasa?)

Dalil Memakai Headset Tidak Membatalkan Puasa

Terkait hukum memakai headset saat berpuasa, Imam Nawawi dalam kitab Raudhat Al-Thalibin wa ‘Umdah Al-Muftin menjelaskan sebagai berikut;

ولو قطر في أذنه شيئا فوصل إلى الباطن أفطر على الأصح عن الأكثرين كالسعوط، والثاني لايفطر كالإكتحال قاله الشيخ أبو علي والقاضي حسين والفوراني

Jika seseorang meneteskan sesuatu ke telinganya, kemudian ia sampai pada telinga bagian dalam, maka hal itu membatalkan puasa menurut pendapat yang shahih yang diikuti oleh kebanyakan para ulama. Kedua tidak batal sebagaimana bercelak. Pendapat ini menurut Syaikh Abu Ali, Al-Qadhi Husain dan Al-Fawrani.

Dalam kitab Al-Majmu’, Imam Nawawi juga mengatakan sebagai berikut;

لو قطر في أذنه ماء أو دهنا أو غيرهما فوصل إلى الدماغ فوجهان : أصحهما يفطر وبه قطع المصنف والجمهور

Jika seseorang meneteskan air, minyak atau lainnya, ke telinganya, kemudian ia sampai pada otak, maka ada dua pendapat. Yang paling shahih adalah membatalkan. Ini yang ditegaskan oleh mushannif dan kebanyakan para ulama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here