Hukum Memakai Celana Dalam Tanpa Jahitan Saat Ihram

0
44

BincangSyariah.Com – Salah satu yang dilarang saat melakukan ibadah ihram (haji ataupun umrah) adalah memakai pakaian apapun yang berjahit. Namun, pada era sekarang banyak orang yang sedang beribadah ihram memakai celana dalam tanpa jahitan. Lantas bagaimana hukum memakai celana dalam tanpa jahitan saat ihram? (Baca: Mengapa Dilarang Memakai Pakaian Berjahit Saat Ihram?)

Larangan bagi orang ihram memakai pakaian yang berjahit didasarkan dari sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Ra.:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ مِنْ الثِّيَابِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَلْبَسُ الْقُمُصَ وَلَا الْعَمَائِمَ وَلَا السَّرَاوِيلَاتِ وَلَا الْبَرَانِسَ وَلَا الْخِفَافَ إِلَّا أَحَدٌ لَا يَجِدُ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ

Dari Abdullah bin Umar Ra. bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah, “wahai Rasulullah, pakaian apa yang seharusnya digunakan oleh orang yang sedang berihram (haji atau umrah)?” Rasulullah bersabda, “tidak boleh mengenakan gamis (kemeja), serban, celana panjang, peci (kopiah) dan sepatu kecuali bagi yang tidak mendapatkan sandal, maka dia boleh mengenakan sepatu.” (Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih Bukhari, jus 2 hal 137)

Dari hadis d iatas, para ulama mengambil kesimpulan bahwa orang yang sedang melaksanakan ibadah ihram dilarang menggunakan pakaian yang berjahit. Pakaian berjahit yang dimaksud di sini adalah pakaian yang dijahit sesuai dengan bentuk anggota tubuh seseorang seperti beberapa jenis pakaian yang disebutkan dalam hadis di atas. Oleh karena itu diperbolehkan menggunakan sesuatu yang tidak dijahit seperti keterangan di atas misalnya kain yang dililitkan pada tubuh orang yang ihram.

Alhasil, diperbolehkan bagi orang yang melaksanakan ibadah ihram memakai celana dalam tanpa jahitan. Hal ini juga dikuatkan oleh Dar al-Ifta (Dewan Fatwa) Mesir nomor 2214 tahun 2006 yang mengeluarkan fatwa bahwa orang yang sedang melaksanakan ibadah ihram diperbolehkan menggunakan sepotong kain (semacam celana dalam tanpa jahitan) di mana bagian pingggirannya diberi tali karet untuk mengikatnya. Hal ini dikarenakan memakai celana dalam tanpa jahitan tersebut tidak dalam masuk dalam kategori larangan yang digambarkan pada hadis di atas.

Redaksi Dewan Fatwa Dar al-Ifta Mesir sebagai berikut :

فأخذ العلماء من ذلك وغيره من الأحاديث أن الرجل إذا أحرم يمتنع عليه لُبسُ المخيط، والمقصود بذلك أن يكون الملبوس مُحِيطًا مُفَصَّلًا على العُضو كالمذكور في الحديث من السَّرَاوِيل والْقَمِيص وَالْخُفَّيْنِ والْبُرْنُس، وما لم يكن كذلك فلا بأس بلُبس المُحرِم له، كالساعة والنظَّارة والرداء والإزار مما يُلَفُّ على الجسم ولا يُفصِّل العُضو.

وعليه وفي واقعة السؤال: فنفيد بأن السترَة المسؤول عنها بهذا الوصف الوارد في السؤال والمشاهد في العينة المرفقة جائز لُبسُها مِن قِبل المُحرِم حاجًّا كان أو معتمرًا، ويجوز التعامل فيها صناعيًّا وتجاريًّا

Artinya:

Dari hadis di atas dan beberapa hadis yang lain, para ulama mengambil kesimpulan bahwa orang yang sedang melaksanakan ibadah ihram dilarang menggunakan pakaian yang berjahit. Pakaian berjahit yang dimaksud di sini adalah pakaian yang dijahit sesuai dengan bentuk anggota tubuh seseorang seperti beberapa jenis pakaian yang disebutkan dalam hadis di atas yakni celana, kemeja atau gamis, sepatu khuf dan sejenis mantel yang bertudung kepala.

Sehingga jika tidak demikian, maka dibolehkan memakainya, seperti jam, kaca mata, kain penutup bagian bawah atau bagian atas tubuh dan lain sebagainya yang digunakan dengan cara melilitkan kain tersebut pada tubuh, bukan dijahit sesuai dengan bentuk tubuh.

Dengan demikian, terkait pertanyaan di atas,  kain penutup yang digambarkan dalam pertanyaan di atas boleh dipakai oleh orang yang berihram untuk haji ataupun umrah. Sehingga boleh untuk memproduksi celana dalam tanpa jahitan tersebut dan di perjualbelikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here