Hukum Melirihkan Bacaan Al-Qur’an pada Shalat Jahriyah

0
1851

BincangSyariah.Com – Salah satu anjuran Rasulullah saw kepada umatnya adalah melaksanakan kewajiban shalat lima waktu dengan berjamaah. Bahkan beliau mengatakan di dalam sabdanya bahwa shalat berjamaah lebih utama dua puluh derajat dibanding shalat sendirian.

Berkaitan dengan shalat jamaah ini, sudah menjadi kemakluman bagi kita, imam akan mengeraskan bacaan surah al-fatihah dan dilanjutkan surah-surah yang lain di rakaat pertama dan kedua shalat Magrib, Isya dan Subuh. Lalu, bagaimana hukumnya bagi imam yang tidak mau mengeraskan bacaannya di tiga waktu shalat tersebut (shalat jahriyah)? Apakah menjadikan batal shalatnya? Dan apa saja shalat-shalat sunah yang dianjurkan untuk mengeraskan bacaannya?

Imam an Nawawi di dalam kitab al Adzkar (hal 48 Penerbit Hidayah, Surabaya) menyebutkan bahwa mayoritas ulama telah sepakat akan kesunahan mengeraskan bacaan dalam shalat Subuh, Maghrib dan Isya dan melirihkan bacaan di dalam shalat Zuhur dan Asar. Kesunahan ini bagi orang yang menjadi imam atau orang yang sedang shalat sendirian.

Jadi jelas sekali bahwa hukum mengeraskan bacaan pada shalat Magrib, Isya dan Subuh adalah sunah. Sedangkan untuk menjawab pertanyaan di awal imam Nawawi sangat gamblang mengatakan:

واعلم أن الجهر في مواضعه والإسرار في مواضعه سنة ليس بواجب، فلو جهر موضع الإسرار، أوأسر موضع الجهر فصلاته صحيحة، ولكنه ارتكب المكروه كراهة تنزيه ولايسجد لسهو.

Ketahuilah bahwa mengeraskan bacaan di tempatnya dan melirihkan di tempatnya itu berhukum sunnah bukan wajib, maka seandainya ia mengeraskan di tempat yang seharusnya dibaca dengan lirih atau ia melirihkan di tempat yang seharusnya keras maka shalatnya tetap sah. Tetapi berhukum makruh tanzih (makruh yang mendekati mubah/boleh) dan tidak perlu melakukan sujud sahwi/sujud karena lupa.

Jadi hukum shalatnya imam yang tidak mengeraskan di shalat-shalat yang disunahkan untuk mengeraskan bacaan, baik Maghrib, Isya atau Subuh tetap sah. Hanya saja hal ini bernilai makruh (sesuatu yang jika dilakukan tidak mendapatkan siksa dan jika ditinggalkan mendapatkan pahala.).

Baca Juga :  Tiga Alasan Mengapa Kita Harus Mengawali Ibadah dengan Hamdalah

Sementara itu, imam Nawawi juga memaparkan shalat-shalat lain yang disunahkan untuk mengeraskan bacaannya. Shalat-shalat yang disunnahkan mengeraskan bacaannya adalah shalat Jum’at, shalat Idul Fitri dan Adha, shalat Tarawih, shalat Witir, shalat gerhana bulan, shalat istisqa’, shalat jenazah yang dilakukan di malam hari.

Sementara shalat gerhana matahari, shalat jenazah yang dilakukan di siang hari dan shalat-shalat sunnah yang dilakukan di siang hari (kecuali shalat istisqa’, shalat idul fitri dan adha) disunahkan melirihkan bacaannya.

Adapun berkaitan dengan shalat sunnah di malam hari para ulama’ di kalangan syafiiyyah berbeda pendapat, ada yang mengatakan disunnahkan mengeraskan, ada yang mengatakan disunnahkan melirihkan, namun yang ashah pendapat yang ketiga yang telah diputuskan oleh al qadhi husain dan al baghawi yakni membaca antara keras dan lirih.

Dan seandainya shalat sunnah malam itu terlewati maka disunnahkan di qadha di siang hari begitu sebaliknya. Dan bagaimana ketika ia mengqadha’ shalat sunnah yang harusnya malam dilakukan di siang atau sebaliknya? Ada dua pendapat, dikeraskan ketika di-qadha; dan ada yang mengatakan lirih secara mutlak.

Terakhir, Imam Nawawi menjelaskan bahwa hendaknya bagi orang yang melaksanakan shalat itu melirihkan seluruh bacaan dan dzikir-dzikir yang disyariatkan di dalam shalat, namun bacaannya harus sampai terdengar di telinga sendiri, tetapi jika tidak sampai terdengar telinganya sendiri maka tidak sah bacaan dan dzikirnya. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here