Hukum Makan dan Minum Sebelum Mandi Besar

1
1449

BincangSyariah.Com – Saat junub, syariat islam mewajibkan pemeluknya untuk melaksanakan mandi besar atau wajib. Mandi besar ini adalah bentuk bersuci atau thoharoh untuk menghilang hadats besar, berupa junub tersebut.

Namun tak jarang ketika kita dalam keadaan junub dan sebenarnya diwajibkan untuk mandi besar, ternyata tidak langsung melakukan. Diantara sebagian orang ada yang malah makan dan minum dulu sebelum mandi besar. Pertanyaannya, apa hukum makan dan minum sebelum mandi besar?

Ulama pernah membahas ini panjang lebar. Diantaranya adalah Syekh Ibn Hajar Al-Haitami dalam kitabnya yang berjudul al-Minhaj al-Qawim. Ia menyebutkan bahwasanya makruh hukumnya makan dan minum bagi orang yang junub sebelum melaksanakan mandi besar. Dengan catatan, ia tidak membasuh kemaluannya dan wudhu terlebih dahulu.

Bila tidak demikian, artinya ia sebelum mandi besar membasuh kemaluan dan wudhu terlebih dahulu, maka hukum ke makruhan tersebut telah hilang. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh beliau sebagaimana berikut,

ويكره للجنب الاكل والشرب و النوم  والجماع قبل غسل الفرج و الوضوء – لما صح من الامر به و الاجماع و للاتباع للبقية الا الشرب فمقيس على الاكل (وكذا منقطعة الحيض والنفاس) فيكره لها ذالك كالجنب بل اولى

dan dimakruhkan bagi orang yang junub, yakni makan, minum dan berhubungan badan  sebelum membasuh kemaluan dan berwudhu karena  terdapat keterangan (nash) perintah untuk seperti itu,  ijmak,  ikut pada sisanya. Kecuali pada minum, maka minum itu diqiyaskan pada makan. Begitu pula pada wanita yang putus (selesai) dari haid dan nifas, maka makruh pula bagi wanita tersebut untuk melakukan makan, minum dan jimak (sebelum mandi besar). Bahkan wanita haid dan nifas itu lebih utama (untuk mendapatkan status makruh). 

Hal ini juga senada dengan yang disampaikan oleh Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam Fath al-Mu’in yang mengungkapkan dengan redaksi sebagai berikut,

Baca Juga :  Kencing Saat Mandi Junub, Apakah Mandi Wajib Harus Diulang?

فرع – يسن لجنب وحاءض ونفساء بعد انقطاع دمهما غسل فرج و وضوء لنوم واكل وشرب ويكره فعل شيء من ذالك بلا وضوء

Disunahkan bagi orang yang junub, haid dan nifas yang sudah selesau masa keluarnya darah membasuh kemaluan dan wudhu’ untuk melaksanakan tidur, makan dab minum. Dan hal pekerjaan tersebut dimakruhkan bila dikerjakan tanpa berwudhu’.

Lalu, Syekh Abu Bakr bin Muhammad Asy-Syattha memberikan catatan pinggir (hasiyah) pada redaksi tersebut dalam karyanya yang berjudul Hasyiyah I’anah at-Thalibin

وقوله بلا وضوء ظاهره انه يكره ذالك ولو مع غسل الفرج وليس كذالك بل يكفي غسل الفرج في حصول السنة

lafadz “tidak berwudhu” jelasnya bahwasanya pekerjaan tersebut makruh (bila tidak berwudhu lebih dahulu), sekalipun beserta membasuh kemaluan. Bukan begitu. Akan tetapi cukup membasuh kemaluan didalam tercapainya kesunahan.

Kesimpulannya, bila orang junub atau wanita haid dan nifas yang telah selesai masa keluar darahnya dan masih belum mandi besar, maka disunahkan untuk membasuh kemaluan dan berwudhu sebelum mengerjakan sesuatu seperti makan, minum dan berhubungan suami istri. Dan makruh hukumnya bila mengerjakan perkerjaan tersebut tanpa wudhu dan membasuh kemaluan. Akan tetapi, (bila ingin meringkas) cukup dengan membasuh kemaluan saja meskipun tidak berwudhu’.

Sekian. Terimakasih. Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here