Hukum Makan dan Minum saat Tawaf

0
290

BincangSyariah.Com – Tawaf merupakan salah satu bagian dari ritual yang dilakukan saat ibadah haji dan umrah. Ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi saat menjalankan tawaf. Di antaranya niat, suci dari hadas kecil dan besar. Juga suci dari segala najis baik badannya, pakaian maupun tempat tawaf serta menutup aurat. Lalu bagaimana jika kita makan dan minum saat tawaf? Mungkin juga beristirahat karena kecapekan dan lain sebagainya. Bagaimana hukumnya?

Menurut ulama Syafiiyah dan Malikiyyah, hukumnya makruh makan dan minum saat tawaf. Imam An-Nawawi di dalam kitab Al Majmu’ dari kalangan mazhab Syafii mengatakan:

ويكره له الأكل والشرب في الطواف، وكراهة الشرب أخف، ولا يبطل الطواف بواحد منهما ولا بهما جميعا. قال الشافعي: لا بأس بشرب الماء في الطواف ولا أكرهه، بمعنى المأثم، لكني أحب تركه لأن تركه أحسن في الأدب. وممن نص على كراهة الأكل والشرب وأن الشرب أخف صاحب الحاوي. انتهى

“Dimakruhkan baginya makan dan minum saat tawaf. Kemakruhan karena minum itu lebih ringan. Dan tawaf tidak menjadi batal (tidak sah) sebab salah satu dari keduanya atau sebab melakukan kedua-duanya. Imam Syafii berkata: “Tidak apa-apa minum air ketika tawaf dan aku tidak memakruhkannya yakni maknanya tidak berdosa, tetapi aku lebih suka meninggalkannya karena dengan meninggalkannya adalah tata krama yang terbaik (saat tawaf).” Dan diantara imam yang mengatakan makruh makan dan minum (saat tawaf), dan sungguh kemakruhan minum itu lebih ringan adalah pengarang kitab Al Hawi (Imam Al Mawardi).”

Sementara itu, Imam Al Hithab di dalam kitab Mawahibul Jalil dari kalangan ulama Maliki mengatakan:

قال في الجلاب: ولا يتحدث مع أحد في طوافه، ولا يأكل، ولا يشرب في أضعافه، قال التلمساني في أثناء شرحه: ويكره أن يشرب الماء إلا أن يضطره العطش، فحمل قوله لا يشرب على الكراهة، ولم يتعرض للأكل والظاهر أنه مثله. انتهى.

Baca Juga :  Hukum Menunda Penguburan Jenazah

“Dikatakan oleh imam Al Jallab (Syeikh dari ulama Malikiyyah). “Ia tidak berbicara bersama salah seorang di dalam tawaf. Tidak makan dan tidak minum dalam kelemahannya.” At Tilmasani di dalam pertengahan syarahnya menyatakan: “Makruh minum air kecuali rasa haus mendesaknya. Maka pernyataan tidak boleh minum tersebut adalah berimplikasi pada kemakruhan, dan tidak menyinggung soal makan, namun secara lahirnya sama.”

Sementara ulama Hanafiyyah membolehkan minum saat tawaf, tapi memakruhkan makan dalam suatu pendapat. Imam Ibnu Abidin di dalam kitab Raddul Mukhtar dari kalangan ulama Hanafi berkata:

المصرح به في اللباب كراهة البيع فيهما، وكراهة الأكل في الطواف لا السعي، ومثل البيع الشراء، وعَدَّ الشرب فيهما من المباحات. انتهى

“Dijelaskan di dalam kitab Allubab tentang makruhnya transaksi jual beli ketika tawaf dan sai, dan makruh makan di dalam tawaf, tidak ketika sai. Seperti halnya menjual, akad membeli juga sama (hukumnya). Dan ia mengategorikan minum ketika tawaf dan sai termasuk pada hal yang diperbolehkan.”

Ulama Hanabilah mengharamkan makan dan minum saat tawaf. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Rahibani di dalam kitab Mathalib Ulin Nuha dari kalangan ulama Hanbali:

و) يتجه أيضا: (أنه لو أكل أو شرب) حال كونه ( طائفا، لا يضر ) ذلك في طوافه، غير أنه يحرم عليه فعل ذلك، لإشعاره بعدم المبالاة في العبادة، أفاده ابن نصر الله في حواشي الفروع ، وهو متجه. انتهى.

“Dan diarahkan pula bahwa jika makan atau minum ketika tawaf, hal tersebut tidak membahayakan tawafnya, meskipun itu haram dilakukan. Karena menunjukkan ketidakpeduliannya di dalam ibadah. Sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Nasrullah di dalam kitab Hawasyil Furu’ dan ia menjadi referensi.”

Baca Juga :  Bolehkah Mencicil Mandi Janabah?

Berdasarkan keterangan di atas, pada dasarnya tawaf itu tidak menjadi batal disebabkan makan atau minum dalam keadaan apapun. Dan boleh beristirahat ditengah-tengah tawaf sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab Al Mushannaf:

عن جميل بن زيد قال: رأيت ابن عمر طاف بالبيت ثلاثة أطواف ثم قعد يستريح، وغلام له يروح علينا ثم قام فينا على طوافه.

“Dari Jamil bin Zaid, ia berkata. “Aku melihat Ibnu Umar thawaf di Baitullah tiga kali putaran. Kemudian ia duduk istirahat dan seorang anak laki-lakinya beristirahat di atas kita. Kemudian ia berdiri dengan kita melanjutkan tawafnya.”

Imam As Syafii berkata di dalam kitab Al Umm:

لا بأس بالاستراحة في الطواف، أخبرنا سعيد عن ابن جريج عن عطاء أنه كان لا يرى بأسا بالاستراحة في الطواف، وذكر الاستراحة جالسا. انتهى

“Tidak masalah istirahat ketika tawaf. Said telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij dari Atha bahwa ia (berpendapat) tidak apa-apa istirahat saat tawaf. Dan ia menuturkan istirahat dengan duduk.” Wa Allahu A’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.