Hukum Makan Daging Kurban Nazar

0
1102

BincangSyariah.Com – Secara umum, kurban dibagi dua; kurban tathawwu’ atau sunah dan kurban wajib. Semua ulama sepakat bahwa anjuran makan dari hewan kurban sunah. Namun mereka berbeda pendapat terkait makan dari hewan kurban wajib.

Ulama dari kalangan Malikiyah, Hanafiyah, Syafiiyah dan Hanabilah sepakat bahwa makan dari kurban sunah sangat dianjurkan dan hukumnya sunah. Dalam kitab Alfiqhul Islami disebutkan;

وأما الأضحية التطوع: فالمستحب للمضحي بها عن نفسه الأكل منها، أي أن الأفضل له تناول لقم يتبرك بأكلها، لقوله تعالى: فكلوا منها، وأطعموا البائس الفقير [الحج:28/22] وعند البيهقي: أنه صلّى الله عليه وسلم كان يأكل من كبد أضحيته

“Adapun kurban sunnah, maka disunahkan bagi yang berkurban untuk dirinya ikut makan dagingnya, jelasnya bahwa yang paling utama bagi yang berkurban adalah mengambil beberapa suap untuk dimakan dengan mengalap berkah, berdasarkan firman Allah SWT.; ‘Maka makanlah sebagian dari hewan kurban dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir (QS. Al Hajj : 36). Dan menurut Imam AlBaihaqi; “Sesungguhnya Nabi Saw. memakan hati hewan kurbannya”.

Adapun makan daging kurban wajib terjadi perbedaan ulama, sebagaimana telah disinggung di atas. Menurut ulama Syafiiyah,  seluruh bagian kurban wajib harus disedekahkan kepada orang lain, dan orang yang berkurban dan kelurga yang wajib dinafkahi tidak boleh makan sama sekali.

وقال الشافعية : الأضحية الواجبة ـ المنذورة أو المعينة بقوله مثلاً: هذه أضحية أو جعلتها أضحية : لا يجوز الأكل منها، لا المضحي ولا من تلزمه نفقته. ويتصدق بجميعها وجوباً

“Ulama Syafi’iyyah berpendapat; ‘Kurban wajib yang dinazarkan atau ditentukan dengan ucapan seseorang misalnya, ‘hewan ini jadi kurban’ atau ‘aku jadikan hewan ini sebagai kurban,’ maka orang yang berkurban dan orang yang dalam tanggungannya tidak diperbolehkan makan dagingnya, dia wajib menyedekahkan semua dagingnya.”

Baca Juga :  Ketentuan Berkurban dengan Kambing

Begitu juga menurut ulama Hanafiyah, haram makan dari kurban nazar atau wajib. Adapun ulama Malikiyah dan Hanafiyah, membolehkan makan dari kurban wajib atau nazar sebagaimana kurban sunah.

Orang yang berkurban boleh membagi kurban wajib menjadi tiga bagian sebagaimana kurban sunah, sebagian dimakan sendiri dan kelurganya, sebagian disedekahkan dan sebagian yang lain dihadiahkan kepada orang lain.

يجوز الأكل من الأضحية المتطوع بها، أما المنذورة، أو الواجبة بالشراء عند الحنفية فيحرم الأكل منها،…أما عند المالكية والحنابلة فيجوز الأكل من المنذورة كالمتطوع بها. والمستحب أن يجمع المضحي في حالة التطوع، أو في حالة النذر عند المالكية والحنابلة بين الأكل منها، والتصدق، والإهداء

Dibolehkan memakan daging kurban sunah. Adapun kurban yang dinazarkan atau yang wajib dengan membeli, menurut ulama Hanafiyah, maka haram hukumnya memakan kurban nazar atau wajib tersebut (bagi yang berkurban)…..

Menurut ulama Malikiyah dan Hanabilah, boleh makan dari kurban yang dinazarkan. Dan orang yang berkurban, baik kurban sunah atau nazar, dianjurkan untuk menyatukan antara makan sebagian kurban, bersedekah, dan menghadiahkan kepada orang lain.”

Dengan demikian, menurut ulama Syafiiyah dan Hanafiyah, orang yang berkurban haram dan tidak boleh makan dari hewan kurban wajib, sedangkan menurut ulama Malikiyah dan Hanabilah, orang yang berkurban boleh makan dari kurban wajib sebagaimana boleh makan dari kurban sunah.

Ulama Malikiyah dan Hanabilah mengatakan, sebaiknya hewan kurban wajib dan sunah dibagi tiga; sebagian dimakan, sebagian disedekahkan dan sebagian lagi dihadiahkan kepada orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here