Hukum Khutbah Jumat Tanpa Shalawat

0
75

BincangSyariah.Com – Sudah maklum bahwa ketika kita khatib menyampaikan khutbah Jumat, selain membaca hamdalah, juga setelahnya membaca shalawat kepada Nabi Saw, baik pada khutbah pertama maupun kedua. Namun bagaimana jika khatib menyampaikan khutbah Jumat tanpa shalawat kepada Nabi Saw, apakah khutbahnya sah?

Mengenai hukum membaca shalawat ketika khutbah Jumat, para ulama berbeda pendapat. Menurut ulama Syafiiyah dan Hanabilah, membaca shalawat termasuk bagian dari rukun khutbah Jumat. Sehingga jika khatib tidak membaca shalawat, maka khutbah Jumatnya tidak sah. (Baca: Hukum Menggunakan Jasa Penerjemah dalam Menyampaikan Khutbah Jumat)

Dalam kitab-kitab ulama Syafiiyah, sudah sangat jelas bahwa shalawat kepada Nabi Saw termasuk bagian rukun khutbah Jumat. Ini di antaranya sebagaimana disebutkan dalam kitab Fathul Qarib berikut;

وأركان الخطبة خمسة: حمد الله تعالى، ثم الصلاة على رسول الله – صلى الله عليه وسلم -. ولفظهما متعين، ثم الوصية بالتقوى، ولا يتعين لفظها على الصحيح، وقراءة آية في إحداهما، والدعاء للمؤمنين والمؤمنات في الخطبة الثانية. ويشترط أن يُسمِع الخطيبُ أركانَ الخطبة لأربعين تنعقد بهم الجمعةُ

Rukun-rukun khutbah Jumat ada lima; Memuji Allah, membaca shalawat kepada Rasulullah Saw, dan lafadz keduanya sudah jelas, kemudian berwasit takwa kepada Allah dan lafadnya tidak pasti menurut pendapat yang shahih, lalu membaca ayat Al-Quran di dalam salah satu dua khutbah, mendoakan orang mukmin laki-laki dan perempuan di dalam khutbah kedua. Dan, disyaratkan bagi khatib untuk memperdengarkan khutbah pada empat puluh orang yang sah melakukan Jumat.

Menurut ulama Malikiyah, shalawat kepada Nabi dalam khutbah Jumat hukumnya sunnah, bukan rukun. Sehingga meskipun khutbah Jumat tanpa shalawat, menurut mereka, hukumnya sah. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab dalam kitab Hasyiatul ‘Adawi berikut;

Baca Juga :  Apakah Narapidana Wajib Melaksanakan Shalat Jumat?

وَأَمَّا الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهِيَ مُسْتَحَبَّةٌ كَالْقِرَاءَةِ فِيهَا وَالِابْتِدَاءِ بِالْحَمْدُ لِلَّه

Shalawat kepada Nabi Saw (dalam khutbah) merupakan sunnah sebagaimana hukum membaca Al-Quran dan memulai dengan kalimat hamdalah.

Melalui penjelasan di atas, meski ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa shalawat dalam khutbah Jumat hukumnya sunnah, namun selayaknya khatib harus membacanya ketika menyampaikan khutbah Jumat. Selain karena membaca shalawat merupakan amalan yang diperintahkan, juga agar terhindar dari pendapat ulama yang mewajibkannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here