Hukum Iqamah dengan Pengeras Suara

2
2538

BincangSyariah.Com – Di Indonesia, umumnya adzan dikumandangkan dengan pengeras suara. Ini dimaksudkan agar semua kaum muslim mendengar dan mengetahui bahwa waktu shalat telah tiba. Ini berbeda dengan iqamah, ada sebagian yang tetap menggunakan pengeras suara dan ada juga yang tidak menggunakannya. Sebenarnya, bagaimana hukum iqamah dengan menggunakan pengeras suara? (Baca: Lebih Baik Adzan Dulu Atau Langsung Iqamah Jika Waktu Sempit?)

Menurut kebanyakan ulama, iqamah disunnahkan untuk dikumandangkan dengan suara keras atau nyaring seperti halnya adzan. Tidak ada perbedaan terkait kesunnahan mengeraskan suara antara adzan dan iqamah. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah berikut;

ومن السنة أن يأتي بالأذان والإقامة جهرا رافعا بهما صوته، إلا أن الإقامة أخفض منه، هكذا في النهاية والبدائع

Termasuk bagian dari sunnah adalah mengumandangkan adzan dan iqamah dengan suara keras dengan mengangkat suaranya. Hanya saja, iqamah bisa sedikit lebih pelan. Demikian penjelasan dalam kitab Al-Nihayah dan Al-Bada’i.

Selain itu, di zaman Nabi Saw, para sahabat mendengar adzan dan iqamah ketika mereka masih berada di rumah-rumah mereka. Ini menunjukkan bahwa adzan dan iqamah sama-sama dikumndangkan dengan suara keras dan nyaring. Pada zaman Nabi Saw, agar adzan dan iqamah terdengar nyaring, maka muadzin mengumandangkan adzan dan iqamah di tempat yang tinggi. Namun sekarang cukup dengan menggunakan pengeras suara saja.

Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Abu Daud dari Abdullah bin Umar, dia berkata;

كَانَ الْأَذَانُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثْنَى مَثْنَى ، وَالْإِقَامَةُ مَرَّةً مَرَّةً ، إِلَّا أَنَّكَ إِذَا قُلْتَ : قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ ، قَالَهَا مَرَّتَيْنِ ، فَإِذَا سَمِعْنَا قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ تَوَضَّأْنَا ثُمَّ خَرَجْنَا إِلَى الصَّلَاةِ

Adzan di zaman Nabi Saw dibaca dua kali-dua kali, sementara iqamah dibaca sekali-sekali. Hanya saja, ketika kamu mengucapkan “qad qamat as-shalah”, maka hal itu dibaca dua kali. Dulu ketika kami mendengar, “qad qamatis shalah” kami langsung berwudhu, lalu kami berangkat shalat jamaah.

Hadis ini menunjukkan bahwa di zaman Nabi Saw, iqamah dikumdandangkan dengan suara keras seperti halnya adzan. Jika saat ini adzan dikumdangkan dengan pengeras suara, maka iqamah juga boleh dikumandangkan dengan pengeras suara agar bisa didengar oleh kaum muslimin.

2 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Lumrah terjadi di desa-desa, masyarakat menggunakan pengeras suara masjid untuk pengumuman suatu pemberitahuan yang biasanya terkait dengan adanya orang yang meninggal, posyandu, atau untuk memanggil anggota majlis taklim atau manakiban. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak lama dan masih eksis hingga kini, sebab masih dinilai efektif untuk mengumpulkan orang banyak. Padahal kita tahu semua bahwa barang-barang yang ada dalam masjid merupakan barang-barang wakaf, bolehkah tindakan masyarakat tersebut? (Baca: Hukum Iqamah dengan Pengeras Suara) […]

  2. […] BincangSyariah.Com – Lumrah terjadi di desa-desa, masyarakat menggunakan pengeras suara masjid untuk pengumuman suatu pemberitahuan yang biasanya terkait dengan adanya orang yang meninggal, posyandu, atau untuk memanggil anggota majlis taklim atau manakiban. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak lama dan masih eksis hingga kini, sebab masih dinilai efektif untuk mengumpulkan orang banyak. Padahal kita tahu semua bahwa barang-barang yang ada dalam masjid merupakan barang-barang wakaf, bolehkah tindakan masyarakat tersebut? (Baca: Hukum Iqamah dengan Pengeras Suara) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here