Hukum Duduk Tasyahud dengan Sila

0
508

BincangSyariah.Com – Di antara bagian dari tatacara pelaksanaan salat adalah duduk tasyahud awal atau tasyahud akhir. Ulama Syafiiyah sepakat bahwa tatacara duduk tasyahud awal adalah dengan duduk iftirasy, yaitu duduk dengan beralaskan telapak kaki kiri dan menegakkan kaki kanan. Sedangkan tasyahud akhir disunahkan dengan duduk tawarruk, yaitu duduk dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan kaki kiri di bawah kaki kanan, kemudian pantat sebelah kiri duduk di lantai.

Lantas bagaimana dengan duduk bersila dalam tasyahud awal atau akhir, apakah boleh dan sah salatnya?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Hasan bin Ali mengatakan dalam kitabnya Shahih Sifatu Shalatin Nabi Saw., jika karena ada halangan misalnya kakinya sakit atau lain sebagainya, maka duduk bersila ketika tasyahud awal atau akhir hukumya boleh dan sah salatnya. Namun jika tidak ada halangan, maka hukumnya makruh meski salatnya tetap sah.

وكيفما قعد المصلي في اي جلسة من جلسات الصلاة جاز حتى لو جلس متربعا لكن يكره اذا فعل ذلك لغير حاجة بالأجماع كما ذكر ذلك ابن حجر

“Seperti apapun bentuknya orang yang salat duduk dari beberapa bentuk duduk dalam salat, maka hukumnya boleh, bahkan andaikan dia duduk bersila. Akan tetapi duduk bersila tersebut hukumnya makruh jika dilakukan tanpa kebutuhan sesuai kesepakatan para ulama, sebagaimana telah disebutkan Ibnu Hajar Al’asqalani”

Di sisi lain, sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Hajar Al’asqalani dalam kitabnya Fathul Bari, Imam Abdul Barr mengatakan bahwa jika tidak ada halangan, maka duduk bersila dalam salat wajib hukumnya tidak boleh.

واما الصحيح اي السليم المعافي فلا يجوز له التربع في الفريضة بأجماع العلماء

“Adapun orang yang sehat, maka tidak boleh duduk bersila dalam salat wajib sesuai kesepakatan para ulama.”

Baca Juga :  Dua Kalimat Ringan yang Membuat Timbangan Amal Menjadi Berat

Dari kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa duduk bersila pada saat tasyahud sebaiknya tidak dilakukakan kecuali karena terpaksa akibat ada halangan tertentu. Hal ini selain karena makruh, atau bahkan tidak boleh sebagaimana pendapat Imam Abdul Barr, juga karena tidak sesuai dengan sunah Nabi Saw. Sunah Nabi Saw. ketika tasyahud awal adalah duduk iftirasy, sedangkan tasyahud akhir dengan duduk tawarruk.

Imam Bukhari mencantumkan sebuah astar dalam kitabnya Shahihul Bukhari, bahwa sahabat Abdullah bin Umar pernah menegur Abdullah bin Abdullah ketika duduk bersila pada saat tasyahud dalam shalat. Hal ini karena duduk bersila tidak sesuai dengan sunah Nabi Saw.

عن عبد الله بن عبد الله: انه كان يرى عبد الله ابن عمر رضي الله عنهما يتربع في الصلاة اذا جلس، ففعلته وانا يومئذ حديث السن فنهاني عبد الله بن عمر وقال : انما سنة الصلاة ان تنصب رجلك اليمنى وان تثني اليسرى، فقلت: انك تفعل ذلك، فقال : ان رجلاي لا تحملاني

“Dari Abdullah bin Abdullah; suatu ketika dia melihat Abdullah bin Umar duduk bersila dalam salat, lalu saya melakukan hal tersebut (duduk bersila) dan saya pada waktu masih muda. Kemudian Abdullah bin Umar melarang saya seraya dia berkata; ‘Sesungguhnya sunah salat adalah menegakkan kaki kanan dan menjulurkan kaki kiri.’ Saya berkata kepadanya; ‘engkau melakukan hal tersebut (duduk bersila).’ Kemudian dia menjawab, ‘Sesungguhnya kedua kaki saya tidak mampu menahan beben diri saya.’”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.