Hukum dan Tata Cara Pelaksanaan Salat Gaib

0
4142

BincangSyariah.Com – Salat gaib adalah menyalatkan mayat yang tidak berada di hadapan orang yang menyalatkan atau menyalatkan dengan jarak jauh dari tempat si mayat.

Mengenai disyariatkannya salat gaib terdapat perselisihan di antara para ulama. Ada ulama yang membolehkan, ada pula yang tidak membolehkan dan ada pula yang merincinya. Berikut penjelasannya.

Ulama yang Membolehkan

Yaitu Imam Syafi’i dan salah satu pendapat Imam Ahmad. Dalilnya adalah disalatkannya Raja An-Najasiy oleh Nabi saw. padahal An-Najasy berada di negeri Habasyah (sekarang Ethiopia), sedangkan Nabi berada di Madinah.

Dalam hadis Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah melaksanakan salat gaib:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعً

“Rasulullah saw. mendapat kabar kematian Raja Najasyi pada hari di mana raja itu wafat. Beliaupun keluar menuju tempat salat, membariskan para sahabat dan salat dengan empat takbir.”

Hadis ini menegaskan bahwa salat gaib adalah salah satu sunnah Rasulullah saw. Tidak ada alasan untuk mengharamkannya. Bahkan seharusnya diikuti.

Meskipun salat gaib adalah sah tetapi terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakannya, misalnya sulit menghadiri jenazah secara langsung. Jadi apabila memang sulit hadir meskipun masih dalam satu kota. Misalnya di kota besar, untuk menjangkau lokasi terjadi macet panjang. Maka salat gaib sah dilaksanakan. Namun apabila tidak sulit, meskipun mayat di luar batas kota dan relatif dekat, maka salat gaib tidak sah. Karena di luar batas kota seperti itu sama artinya dengan di dalam kota. Yang dimaksud dengan dekat adalah jarak di mana teriakan minta tolong masih terdengar.

Baca Juga :  Ini Bantahan Larangan Salati Jenazah Pendukung Pemimpin Non-Muslim

Ulama yang Tidak Membolehkan

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah tidak membolehkan untuk salat gaib. Alasannya, karena salat gaib untuk An-Najasy adalah khusus untuk beliau saja, tidak berlaku umum bagi yang lainnya.

Ulama yang Merinci

Boleh melakukan salat gaib bagi orang yang meninggal di suatu tempat dan belum disalati. Kalau mayat tersebut sudah disalati, maka tidak perlu dilakukan salat gaib lagi karena kewajiban salat gaib telah gugur dengan salat jenazah yang dilakukan oleh kaum Muslimin padanya. Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma’ad. Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin dalam Syarhul Mumthi’ dan Fatawal ‘Aqidah wa Arkanil Islam.

Alasan mereka adalah karena tidaklah diketahui bahwa Nabi saw. melakukan salat gaib kecuali pada An-Najasiy saja. Sementara An-Najasiy meninggal di tengah-tengah orang musyrik sehingga tidak ada yang menyalatinya. Seandainya di tengah-tengah dia ada orang yang beriman tentu tidak ada salat gaib. Oleh karena itu, Nabi saw. menyalati An-Najasiy di Madinah. Alasan lain, ketika para pembesar dan pemimpin umat ini meninggal dunia di masa Nabi saw. padahal mereka berada di tempat yang jauh. Tidak diketahui bahwa mereka disalati dengan salat gaib.

Pendapat Lainnya

Namun Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa sebagian ulama menganjurkan dilaksanakannya salat gaib bagi orang yang banyak memberikan manfaat dalam agama dengan harta, amalan, atau ilmunya. Namun bagi orang yang tidak seperti ini tidak perlu dilaksanakan salat gaib.

Kemudian tata cara pelaksanaannya sama persis dengan salat jenazah. Baik cara ataupun doanya, dikerjakan dengan empat takbir dan diakhiri dengan salam. Namun terdapat perbedaan pada lafal dan niatnya saja.

Baca Juga :  Kisah Jenazah Membaca Alquran di dalam Kubur

Contoh: pada takbir ke tiga yaitu lafal mendoakan si mayat. Maka dibaca doa;

اللّـٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ باالْمَاءٍ وَالثَّلْجِ والْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَاراً خَيْراً مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْراً مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجاً خَيْراً مِنْ زَوْجِهِ، وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الناَّرِ

Catatan:

a.       Doa di atas adalah doa untuk mayat laki-laki, jika jenazahnya ada dua orang laki-laki atau perempuan, maka dhamir “hu” diganti menjadi “huma”.

b.      Sedangkan untuk perempuan satu orang diganti dengan “ha”.

c.       Jika jenazahnya berjumlah banyak dan berkelamin pria maka diganti dengan “hum”.

d.      Jika banyak mayat wanita maka diganti dengan “hunna”.

e.       Untuk campuran laki-laki maupun perempuan yang digabung sehingga jumlahnya banyak, maka dipakai “hum”.

Lafal itu berlaku mulai dari niat hingga salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here