Hukum Cium Jenazah Orang Shaleh

0
633

BincangSyariah.Com – Kehilangan orang shaleh dan orang berilmu termasuk musibah besar bagi penduduk dunia. Apalagi yang meninggal itu seorang ulama besar dan kharismatik. Belum tentu pada tahun-tahun berikutnya akan muncul lagi orang seperti itu.

Dalam hadis riwayat Ibnu Majah disebutkan, Allah tidak akan mencabut ilmu secara langsung dari manusia, tetapi ilmu akan hilang dengan wafatnya ulama. Sebab itu, tidak berlebihan bila dikatakan kematian orang shaleh dan berilmu sebagai musibah.

Pada saat mereka meninggal, baik orang shaleh maupun ulama, sebagian besar orang, terutama murid-muridnya, berusaha untuk mencium wajah dan tangannya sebagai bentuk tabarrukan. Fenomena ini sudah lazim ditemukan di tengah masyarakat.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Rasulullah ketika salah seorang sahabatnya meninggal dunia. Dikisahkan dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW mencium Utsman Ibn Madh’un ketika dia meninggal (HR: Abu Dawud). ‘Aisyah mengisahkan, Abu Bakar juga pernah mencium Rasulullah SAW pada saat beliau meninggal (HR: al-Bukhari).

Berdasarkan riwayat ini, para ulama mengatakan bahwa mencium jenazah orang shaleh  hukumnya disunnahkan. Pendapat ini disebutkan al-‘Ujaili dalam Hasyiyah al-Jamal:

والحاصل أنه إن كان صالحا ندب تقبيله مطلقا وإلا فيجوز بلا كراهة لنحو أهله وبها لغيرهم وهذا محله في غير من يحمله التقبيل على جزع أو سخط كما هو الغالب من أحوال النساء وإلا حرم.

“Kesimpulannya, disunnahkan mencium wajah orang shaleh secara mutlak. Andaikan jenazah tersebut bukan orang shaleh, tetap dibolehkah menciumnya bagi keluarganya dan dimakruhkan bagi orang lain. Kebolehan ini berlaku selama tidak menimbulkan kegelisahan dan kemarahan saat menciumnya sebagaimana lazim terjadi pada perempuan. Bila menciumnya dengan sangat emosional dan marah, maka hal itu dilarang.”

Baca Juga :  Hukum Hewan Kurban yang Belum Disembelih Hingga Lewat Hari Tasyriq

Mencium jenazah orang shaleh disunnahkan oleh mayoritas ulama. Anggota tubuh yang disunnahkan menciumnya menurut sebagian ulama adalah anggota sujud, seperti kening. Adapun selain orang shaleh, tetap kebolehan ini berlaku dan tidak dihukumi makruh selama dia masih bagian dari keluarga almarhum. Dimakruhkan hukumnya bagi orang lain yang bukan bagian dari keluarga.

Kendati dibolehkan, perlu digarisbawahi, orang yang mencium itu harus sejenis dengan jenazah, maksudnya laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan, kecuali bila di antara mereka terdapat hubungan kekeluargaan. Khusus bagi perempuan, dilarang mencium jenazah bila menimbulkan emosional, tangisan berlebihan, dan rasa putus asa. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here