Hukum Buka Bersama dalam Masjid Menurut Ulama 4 Mazhab

2
40

BincangSyariah.Com – Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Sebagai seorang Muslim, tentu bahagia menyambut kedatangan bulan penuh rahmat dan ampunan ini, bahkan tidak sedikit yang sudah mempunyai agenda tersendiri dalam mengekspresikan amalan-amalan yang terdapat dalam bulan ramadhan. Di antara yang kerap diagandakan oleh sebagian kalangan umat Islam adalah buka bersama dalam masjid. Pertanyaannya, bagaimana hukum buka bersama dalam masjid menurut ulama 4 mazhab?

Buka Bersama dalam Masjid Menurut Ulama 4 Mazhab

Secara umum, ulama 4 mazhab hampir sepakat mengenai kebolehan buka bersama dalam masjid. Hanya ada beberapa catatan dan sedikit syarat dari para ulama agar buka bersama itu berhukum boleh.

Pertama, Ulama Kalangan Mazhab Syafi’iyah

Hukum buka bersama dalam masjid itu boleh. Ini selama tidak mengotori masjid dan tidak mempersempit tempat bagi orang-orang yang hendak sholat di dalamnya. Dalam kitab Hasiyah al-Qulyubi, dijelaskan:

وَلِكُلِّ أَحَدٍ دُخُولُ الْمَسَاجِدِ وَنَحْوِهَا كَمَنْ فِيهِ لِنَحْوِ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَنَوْمٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ، مِمَّا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ مِمَّا لَمْ يُضَيَّقْ وَلَمْ يُقَدَّرْ وَلَمْ يُطْلَبْ تَرْكُهَا فِيهَا

Artinya, “Diperbolehkan bagi setiap orang memasuki masjid dan selain masjid untuk melakukan makan, minum, tidur, dan lain sebagainya. Mengikuti kebiasaan yang menjadi realitas, selama tidak membuat sempit, dan tidak mengotori masjid, dan tidak diperintah untuk meninggalkannya”. (Lihat, Hasiyah Qulyubi, juz 3, hlm 95)

Masih dari kalangan Ulama Syafi’iyah, dalam kitab Fatawa an-Nawawi, Imam Nawawi menjawab dengan panjang lebar ketika ditanya tentang hukum makan dalam masjid. Beliau menjawab:

هو جائز ولا يمنع منه لكن ينبغي له أن يبسط شيئا ويصون المسجد ويحترز من سقوط الفتات والفاكهة وغيرها في المسجد. وهذا الذي ذكرناه فيما ليس له رائحة كريهة كالثوم والبصل الذي ليس فيه شيء من رائحة ذلك ونحوه. فان كان فيه شيء من ذلك فيكره أكله في المسجد, ويمنع أكله من المسجد حتى يذهب ريحه, فان دخل المسجد أخرج منه.

Artinya, “(makan dalam masjid) hukumnya boleh dan tidak dilarang, namun lebih baik untuk membentangkan sesuatu (alas tempat makan), menjaga masjid, dan membersihkan sisa makanan yang jatuh ke lantai masjid. Kebolehan ini dihususkan untuk makanan yang tidak berbau, seperti bawang putih dan bawang merah yang tidak berbau. Sedangkan makanan yang berbau tidak sedap dan tidak enak, dimakruhkan memakannya dalam masjid. Orang yang memakan hidangan berbau tidak sedap dilarang masuk masjid sampai baunya hilang. Jika sudah masuk maka harus dikeluarkan dari dalam masjid”. (Lihat, Fatawa an-Nawawi, hlm 45)

Kedua, Ulama Kalangan Mazhab Malikiyah

Imam ad-Dasuki dalam kitabnya Hasiyah ad-Dasuki memperbolehkan makan dalam masjid, baik masjid yang ada di desa, maupun masjid yang ada di kota. Beliau mengatakan:

وَجَازَ (وَتَضْيِيفٌ) أَيْ إنْزَالُ الضَّيْفِ بِمَسْجِدِ الْبَادِيَةِ وَإِطْعَامُهُ فيه الطَّعَامَ النَّاشِفَ كَالتَّمْرِ لَا إنْ كان مُقَذِّرًا كبطيخ أو طَبِيخٍ فَيَحْرُمُ إلَّا بِنَحْوِ سُفْرَةٍ تُجْعَلُ تَحْتَ الْإِنَاءِ فَيُكْرَهُ وَمِثْلُ مَسْجِدِ الْبَادِيَةِ مَسْجِدُ الْقَرْيَةِ الصَّغِيرَةِ

Artinya, “boleh (Menjamu) yaitu menempatkan tamu dalam masjid pedalaman dan menjamunya dengan makanan kering di dalamnya, seperti kurma, bukan makanan yang bisa mengotori, seperti semangka, atau makanan masakan maka  hukumnya haram. Kecuali seperti makan jalan, yaitu dengan meletakkan makanan di atas bejana, maka hukumnya makruh. Juga dianggap sama dengan masjid pedalaman yaitu masjid yang ada dalam desa kecil”. (Lihat, Hasiyah ad-Dasuki, juz 4, hlm 70)

Ketiga, Ulama Kalangan Mazhab Hanafiyah

Syaikh Abdurrahman al-Jazairi dalam kitab kodifikasinya Mazahbul al-Arba’ah menukil pendapat Imam Abu Hanifah. Beliau mengatakan:

الحنفية قالوا : يكره تنزيها أكل ما ليست له رائحة كريهة أما ما كان له رائحة كريهة كالثوم والبصل فإنه يكره تحريما ويمنع آكله من دخول المسجد

Artinya, “Mazhab Hanafi mengatakan: dihukumi makruh tanzih memakan makanan yang tidak berbau tidak sedap dalam masjid. Sedangkan makanan yang berbau tidak sedap, seperti bawang putih dan bawang merah, sesungguhnya makruh tahrim memakannya dalam masjid dan dilarang masuk masjid”. (Lihat, al-Fiqhu ala al-Mazahibi al-Arba’ah, juz 1, hlm, 381)

Yang dimaksud makruh tanzih dan makruh tahrim dalam mazhab hanafi adalah: sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Iyadh dalam kitabnya Ushul al-Fiqhi, yaitu:

ويطلقه الحنفية على شيئين: المكروه كراهة تحريم، وهو : ما نهى عنه الشرع نهيا جازما، ولكنه ثبت بطريق ظني، مثل أكل كل ذي ناب من السباع. المكروه كراهة تنزيه، وهو: ما نهى عنه الشرع نهيا غير جازم.

Ulama kalangan mazhab Hanafi menyatakan (makruh) terbagi menjadi dua bagian, Pertama, Makruh tahrim, yaitu larangan syariat terhadap sesuatu dengan larangan yang jelas, namun melalui jalur yang tidak pasti (dhonni), seperti mengkonsumsi setiap hewan yang bertaring. Kedua, makruh tanzih, yaitu: larangan syariat terhadap sesuatu dengan larangan yang belum pasti. (Lihat, Ushul al-Fiqhi, hlm 36)

Dengan demikian, orang yang melakukan sesuatu sedangkan hukumnya makruh tahrim, maka akan mendapatkan dosa. Sedangkan sesuatu yang hukumnya makruh tanzih maka tidak mendapatkan dosa.

Keempat, Ulama Kalangan Mazhab Hanabilah

Ulama mazhab Hanbali sebenarnya tidak jauh berbeda dengan beberapa pendapat dari mazhab lainnya, sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrahman al-Jazairi:

الحنابلة قالوا : يباح للمعتكف وغيره أن يأكل في المسجد أي نوع من أنواع المأكولات بشرط أن لا يلوثه ولا يلقي العظام ونحوها فيه : فإن فعل وجب عليه تنظيفه من ذلك . هذا فيما ليس له رائحة كريهة كالثوم والبصل وإلا كره

Artinya, “mazhab Hanbali mengatakan: diperbolehkan bagi orang yang sedang I’tikaf dan selainnya, untuk makan dalam masjid. Dengan syarat tidak sampai mengotori masjid, serta tidak membuang sisa-sisa makanan dan sesamanya di dalam masjid, dan jika masih dilakukan, maka wajib baginya untuk membersihkan masjid. Kebolehan ini hanya berlaku untuk makanan yang tidak berbau, seperti bawang putih dan bawang merah. Sedangkan makanan yang berbau tidak sedap, hukumnya makruh”. (Lihat, al-Fiqhu ala al-Mazahibi al-Arba’ah, juz 1, hlm, 382)

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here