Hukum Berzikir Menggunakan Tasbih

4
4689

BincangSyariah.Com – Berdzikir mengingat Allah Swt. bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Khususnya setelah melaksanakan salat. Minimal membaca tasbih, tahmid, takbir dan tahlil masing-masing tiga puluh tiga kali berdasarkan anjuran dari Rasulullah saw. Biasanya umat Muslim akan menggunakan tasbih untuk memudahkan menghitung jumlah zikir tersebut. Lalu, sebenarnya bagaimana hukum berzikir menggunakan tasbih itu? Apakah benar bid’ah dan tidak ada landasan dasarnya?

Syekh Dr. Ali Jum’ah, ulama terkemuka di Mesir telah menjawab pertanyaan seputar hukum menggunakan tasbih di laman Darul Ifta’ Al-Misriyyah. Menurut beliau, zikir menggunakan tasbih atau alat bantu untuk menghitung lainnya merupakan hal yang disyariatkan Nabi saw. (sunah). Bahkan hal ini pun sudah biasa dilakukan oleh salafus shalih tanpa ada yang menentangnya.

Adapun di antara dasar hadis tentang kebolehan memakai tasbih ketika berzikir adalah sebagaimana berikut.

Pertama. hadis riwayat Shafiyyah bint Huyai. Ia berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلَافِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا، قَالَ: «لَقَدْ سَبَّحْتِ بِهَذِهِ، أَلَا أُعَلِّمُكِ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتِ؟» فَقُلْتُ: بَلَى عَلِّمْنِي. فَقَالَ: «قُولِي: سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ» أخرجه الترمذي

“Rasulullah saw. mendatangiku sedangkan di hadapanku terdapat empat ribu biji yang aku bertasbih dengannya. Rasulullah saw. pun bersabda, “Sungguh kamu telah bertasbih dengan menggunakan ini, Perhatikanlah aku akan mengajarimu yang lebih banyak dari pada tasbihmu.” Lalu aku berkata, “Iya, ajarilah aku.” Kemudian beliau bersabda, “Bacalah Subhanallah adada khalqih (Subhanallah sebanyak ciptaan Nya). (HR. At-Tirmidzi)

Kedua. Riwayat Saad bin Abi Waqqas. Bahwasannya suatu ketika ia bersama Rasulullah saw. mendatangi seorang wanita yang di depannya terdapat biji atau kerikil yang ia bertasbih dengan menggunakan biji atau kerikil itu. Lalu Rasulullah saw. pun bersabda

Baca Juga :  Benarkah Membaca Seribu Tasbih akan Menghapus Seribu Dosa?

«أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا -أَوْ أَفْضَلُ-»، فَقَالَ: «سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ، وَسُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ، وَسُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ بَيْنَ ذَلِكَ، وَسُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ، وَاللهُ أَكْبَرُ مِثْلُ ذَلِكَ، وَالْحَمْدُ للهِ مِثْلُ ذَلِكَ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِثْلُ ذَلِكَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ مِثْلُ ذَلِكَ» أخرجه أبو داود واللفظ له والترمذي وحسنه والنسائي وابن ماجه وصححه ابن حبان والحاكم.

Aku ingin memberitahukanmu yang lebih mudah bagimu dari pada ini – atau lebih afdhal. Lalu beliau membaca “Subhanallah adadama khalaqa fis samaa’ (subhanallah sejumlah apapun yang Dia ciptakan/makhluk di langit), subhanallah adada ma khalaqa fil ardl (subhanallah sejumlah apapun yang Dia ciptakan di bumi), subhanallah adada maa khalaqa baina dzalik (subhanallah sejumlah apapun yang Dia ciptakan di antara langit dan bumi), subhanallah adada ma huwa khaaliq (subhanallah sejumlah apa yang Dia ciptakan), Allahu Akbar mislu dzalik (Allahu Akbar seperti sejumlah itu/bacaan subhanallah), Alhamdulillah mislu dzalik (alhamdulillah seperti jumlah itu/bacaan subhanallah), Lailaaha Illa Allah mislu dzalik (Laa ilaaha illaa Allah seperti jumlah itu), Laa haula walaaquwwata illaa billaah mislu dzalik). (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

Ketiga. Riwayat dari Al-Qasim bin Abdirrahman, ia berkata:

كَانَ لِأَبي الدَّرْدَاءِ رضي الله عنه نَوًى مِنْ نَوَى الْعَجْوَةِ في كِيسٍ، فَكَانَ إِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ أَخْرَجَهُنَّ وَاحِدَةً وَاحِدةً يُسَبِّحُ بِهِنَّ حَتَّى يَنْفَدْنَ” أخرجه أحمد في “الزهد” بسند صحيح.

Abu Darda’ r.a. memiliki sejumlah biji kurma di dalam sebuah kantong. Saat ia melaksanakan salat di pagi hari, ia mengeluarkannya satu persatu sambil bertasbih dengan biji-biji itu sampai habis. (HR. Ahmad).

Baca Juga :  Ini Keberkahan Baca Doa Sebelum Berhubungan Intim

Keempat. Riwayat dari Abu Dadhrah Al-Ghifari, ia mengatakan:

حَدَّثَنِي شَيْخٌ مِنْ طُفَاوَةَ قَالَ: تَثَوَّيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رضي الله عنه بِالْمَدِينَةِ، فَلَمْ أَرَ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ تَشْمِيرًا، وَلا أَقْوَمَ عَلَى ضَيْفٍ مِنْهُ، فَبَيْنَمَا أَنَا عِنْدَهُ يَوْمًا وَهُوَ عَلَى سَرِيرٍ لَهُ وَمَعَهُ كِيسٌ فِيهِ حَصًى أَوْ نَوًى وَأَسْفَلُ مِنْهُ جَارِيَةٌ لَهُ سَوْدَاءُ وَهُوَ يُسَبِّحُ بِهَا، حَتَّى إِذَا أَنْفَدَ مَا فِي الْكِيسِ أَلْقَاهُ إِلَيْهَا فَجَمَعَتْهُ فَأَعَادَتْهُ فِي الْكِيسِ فَدَفَعَتْهُ إِلَيْهِ” أخرجه أبو داود والترمذي وحسنه والنسائي.

“Seorang syeikh dari Thufawah bercerita kepadaku, dia berkata, “Saya bertamu kepada Abu Hurairah di Madinah. Saya tidak pernah menemukan seorang sahabat Nabi saw. yang lebih berusaha untuk menghormati tamunya melebihi beliau. Pada suatu hari, ketika saya sedang berada di rumahnya, beliau berada di atas ranjang. Di sampingnya terdapat kantung yang berisi kerikil atau biji kurma yang digunakan menghitung jumlah bacaan tasbihnya. Di sisi bawah ranjang itu terdapat seorang budak perempuan hitam miliknya. Jika kantung itu telah habis isinya, dia lalu memberikannya kepada budaknya itu. Budak itu lalu mengumpulkan isi kantung itu dan memasukkannya ke dalamnya lalu menyerahkannya kembali kepada beliau.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan An-Nasai)

Selain itu terdapat riwayatnya cucu Abu Hurairah yang bernama Nu’aim bin Al Muharrar bin Abu Hurairah. Ia mendapat cerita dari kakeknya (Abu Hurairah) yang memiliki sebuah tali yang mempunyai seribu ikatan. Abu Hurairah tidak akan tidur sampai ia bertasbih dengan menggunakan seribu ikatan tali tersebut. Riwayat ini terdapat di dalam kitab Zawaiduz Zuhud karya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’nya.

Baca Juga :  10 Hal yang Diharamkan saat Ihram Haji dan Umrah

Sementara itu, masih banyak pula riwayat tentang pemakaian tasbih yang dilakukan oleh Saad bin Abi Waqqas, Abu Said Al-Khudri, Abu Shafiyyah (budak Nabi saw.), Fathimah dan para sahabat serta tabiin lainnya. Bahkan sejumlah ulama seperti imam As-Suyuthi telah menulis satu kitab khusus terkait disyariatkannya berzikir menggunakan tasbih. Beliau menulis karya yang berjudul Al Minhah Fis Sabhah.

Demikianlah hukum berzikir menggunakan tasbih. Hukumnya adalah sunah dan disyariatkan bahkan telah dilakukan oleh para sahabat dan tabiin. Hanya saja dulu mereka menggunakan kerikil, biji-bijian atau seutas tali. Sementara di zaman sekarang sudah banyak ragam tasbih, bahkan ada yang berbentuk digital dengan memencet tombol untuk menghitung angka jumlah zikir kita. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here