Hukum Bersuci Menggunakan Air yang Terkena Sengatan Sinar Matahari

0
679

BincangSyariah.Com – Bersuci dalam fikih adalah menghilangkan hadas dengan cara berwudu, mandi wajib, atau mengilangkan najis. Bersuci menggunakan air yang terkena sengatan sinar matahari atau biasa disebut dengan air musyammas itu diperbolehkan sebagaimana diungkap oleh Syekh Taqiyud Din al-Hishni dalam Kifayatul Akhyar berikut:

هَذَا هُوَ الْقسم الثَّانِي من أَقسَام المَاء وَهُوَ المشمس وَهُوَ طَاهِر فِي نَفسه لم يلق نَجَاسَة ومطهر أَي يرفع الْحَدث ويزيل النَّجس لبَقَاء إِطْلَاق اسْم المَاء عَلَيْهِ

Inilah bagian kedua dari pembagian air yaitu air musyammas (air yang terkena sengatan sinar matahari), yang mana suci secara zahir, karena tidak terkena najis, yang menyucikan, yaitu dapat mengihlangkan hadas (kecil atau besar) dan menghilangkan najis, karena kelanggengan kemutlakan nama air.

Namun demikian, ulama berbeda pendapat mengenai bersuci dengan menggunakan air musyammas. Imam al-Rafii dari mazhab Syafii menganggapnya makruh, sementara Imam al-Nawawi yang juga bermazhab Syafii menganggapnya tidak makruh.

وَاحْتج لَهُ الرَّافِعِيّ بِأَن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم (نهى عَائِشَة رَضِي الله عَنْهَا عَن المشمس وَقَالَ إِنَّه يُورث البرص وَعَن ابْن عَبَّاس رَضِي الله تَعَالَى عَنْهُمَا أَن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ (من اغْتسل بِمَاء مشمس فَأَصَابَهُ وضح فَلَا يَلُومن إِلَّا نَفسه) وَكَرِهَهُ عمر رَضِي الله تَعَالَى عَنهُ وَقَالَ إِنَّه يُورث البرص

Imam al-Rafii berpendapat bahwa Rasulullah saw. pernah melarang Aisyah ra. menggunakan air musyammas. Kata Nabi, air musyammas itu dapat menyebabkan penyakit kulit. (Selain itu), diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas yang mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang mandi menggunakan air musyammas, kemudian terkena penyakit kulit, maka jangan salahkan orang lain.”

Sementara itu, menurut Imam al-Nawawi, hadis di atas tidak dapat dijadikan landasan karena kedaifannya. Kalau pun memang ada larangannya, maka sifat kemaruhannya itu tidak sampai haram, hanya makruh tanzih saja (tidak berdosa bila dilakukan) sebagaimana berikut:

Baca Juga :  Cara Mandi Janabah Bagi Wanita yang Dikepang Rambutnya

قَالَ النَّوَوِيّ فِي زِيَادَة الرَّوْضَة وَهُوَ الرَّاجِع من حَيْثُ الدَّلِيل وَهُوَ مَذْهَب أَكثر الْعلمَاء وَلَيْسَ للكراهية دَلِيل يعْتَمد وَإِذا قُلْنَا بِالْكَرَاهَةِ فَهِيَ كَرَاهَة تَنْزِيه لَا تمنع صِحَة الطَّهَارَة 

Imam al-Nawawi dalam catatan kitab al-Rawdah, inilah pendapat yang kuat dari segi dalil, diikuti mayoritas mazhab ulama fikih, menyatakan bahwa kemakruhan air musyammas itu tidak ada dalil yang dapat dijadikan sandaran. Jika kita berpendapat bahwa air musyammas itu makruh, maka yang dimaksud adalah makruh tanzih yang tidak mempengaruhi kesahan bersuci.

Menurut pendapat yang menyatakan kemakruhan air musyammas itu ada tiga syarat. Pertama, bila bersuci di wadah berkarat yang terkena sengatan sinar matahari. Kedua, bersuci di negara-negara beriklim sangat panas. Ketiga, air musyammas tersebut digunakan untuk membasuh tubuh. Wallahu a‘lam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here